Lombok Timur

14/02/26

Kejutan di Musancab PDI Perjuangan Lotim, Rachmat beri kode periode terakhir pimpin partai

 
Kejutan di Musancab PDI Perjuangan Lotim, Rachmat beri kode periode terakhir pimpin partai

OPSINTB.com - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Lombok Timur menggelar Musyawarah Anak Cabang di Gedung Wanita Selong, Sabtu (14/2/2026). Tak sekadar forum organisasi, musyawarah ini menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus meneguhkan komitmen para kader untuk terus menempel erat pada rakyat.


Musyawarah Anak Cabang PDI Perjuangan se Kabupaten Lombok Timur tersebut dibuka Ketua DPD PDI Perjuangan NTB H Rachmat Hidayat, dengan rangkaian sakral dan menggugah. Kirab panji partai, hening cipta yang dipimpin Ahmad Amrullah Sekretaris DPC PDIP Lombok Timur yang juga Anggota DPRD Lotim, suasana gegap gempita kader, hingga pembacaan Dedication of Life Bung Karno. Nuansa ideologis terasa kuat, seolah mengajak seluruh kader senantiasa menengok kembali akar perjuangan partai.


Sebanyak 777 peserta hadir memenuhi arena Musancab, terdiri dari pengurus PAC dan ranting se-Lombok Timur, termasuk ketua PAC lama dan baru yang akan dilantik. Kehadiran penuh kader ini menandakan kesiapan struktur partai besutan Prof. Hj. Megawati Soekarno Putri ini hingga ke akar rumput. Tak lupa hadir pula pengurus inti DPD PDIP NTB, DPC PDIP Lombok Timur, dan Anggota DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten Lombok Timur dari PDI Perjuangan.


Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur Ahmad Sukro dalam laporannya mengungkapkan, Musancab ini merupakan momentum kebangkitan dan introspeksi bersama.


“Kita harus jujur melihat diri sendiri. Ini saatnya bangkit, memperbaiki struktur partai dari atas sampai ranting. Kita tidak ingin PDI Perjuangan dianggap tidak ada,” tegasnya.


Ia mengingatkan, Lombok Timur memiliki posisi historis dalam perjalanan PDI Perjuangan di NTB. “Di sinilah sejarah itu dibangun. Jangan sampai kita membuat malu perjuangan para pendahulu. Lombok Timur harus jadi sesuatu yang berbeda dibanding DPC lainnya,” ujarnya, disambut pekikan siap dari para kader.


Semangat para kader semakin membara saat Ketua DPD PDI Perjuangan NTB H. Rachmat Hidayat menyampaikan arahan. Anggota DPR RI empat periode ini memberi kejutan kepada para kader dengan secara khusus mengundang para pejuang partai era 1980-an, sebuah masa ketika PDI Perjuangan berjuang keras di bawah tekanan rezim otoriter Orde Baru dan berhasil meraih enam kursi DPRD di Lombok Timur.


Hanya saja, partai ini kemudian didzolimi, karena haknya untuk mendapat kursi pimpinan DPRD ditelikung penguasa. Kursi Pimpinan DPRD Lombok Timur justru dialihkan penguasa ke Partai Persatuan Pembangunan yang hanya memiliki lima kursi. Sejak saat itu, perlawanan kader-kader Banteng di Lombok Timur pada pemerintahan Orde Baru kian trengginas. Fraksi PDI Perjuangan selalu menyatakan Minderheit Nota pada kebijakan pemerintah yang jelas-jelas menelikung rakyat.


Rachmat menegaskan, kehadiran para pejuang partai tersebut bukanlah seremonial belaka, melainkan pengingat nilai dasar perjuangan. Para pejuang partai itu kata dia, bukan cerita masa lalu, mereka adalah fondasi partai. Di masa sulit, mereka tidak menyerah.


Politisi kharismatik Bumi Gora ini menegaskan bahwa partai besar tidak boleh tercerabut dari sejarahnya. Nilai keberanian, militansi, dan keberpihakan pada rakyat yang diwariskan para pejuang lama harus menjadi pedoman kader hari ini.


“Dari daerah inilah perlawanan itu dibangun. Kita pernah enam kursi, di masa yang tidak mudah. Sekarang tinggal tiga, tapi jangan pernah merasa kecil. Dari tiga kita bisa kembali ke enam,” ujar Rachmat dengan suara bergetar penuh semangat.


Ia mengingatkan kejayaan masa lalu bukan untuk diratapi, melainkan dijadikan bahan bakar perjuangan. Menurutnya, kunci kebangkitan ada pada konsistensi kader untuk turun langsung ke masyarakat.


“Jangan hanya pandai bicara di forum. Temui rakyat, dengarkan keluhan mereka, dekati tokoh masyarakat. Partai ini hidup kalau kadernya hidup di tengah rakyat,” tegasnya.


Rachmat juga menekankan pentingnya pemberdayaan PAC dan ranting sebagai mesin utama gerakan partai. Ia bahkan meminta pengurus berdiri dan diabsen satu per satu, sebagai simbol kesiapan struktur menghadapi tantangan politik ke depan.


Tak kalah penting, ia menyoroti generasi muda sebagai harapan baru. Pemilu 2029 disebutnya sebagai momentum kebangkitan anak muda di PDI Perjuangan.


“Zamannya anak muda. Mereka independen, cerdas, dan kritis. Kalau kita tidak mendekati mereka dari sekarang, kita akan tertinggal,” katanya, disambut tepuk tangan panjang peserta Musancab.


Musancab PDI Perjuangan Lombok Timur ini merupakan agenda lima tahunan sesuai amanat kongres partai. Lebih dari itu, Musancab menjadi titik awal konsolidasi, menyatukan kembali ingatan sejarah, dan menyalakan api perjuangan kader untuk mengembalikan kejayaan partai dengan satu pesan utama, kembali ke rakyat, bersama rakyat.


*Kode Periode Terakhir*


Dalam arahannya, Rachmat Hidayat juga menyampaikan pernyataan penting yang menjadi kode bahwa dirinya mungkin akan menjalani periode terakhir sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan NTB. Ia menegaskan akan memanfaatkan sisa masa kepemimpinannya untuk turun langsung ke lapangan. Menyambangi masyarakat di setiap kecamatan di Lombok Timur dan juga di Pulau Lombok.


“Ini periode terakhir saya. Saya akan keliling kecamatan di seluruh Lombok Timur dan juga Pulau Lombok. Saya ingin memastikan PAC dan ranting hidup, bergerak, dan benar-benar bersama rakyat,” tegasnya.


Rachmat belum lama dikukuhkan kembali memangku amanah sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan NTB. Politisi lintas zaman ini akan mengakhiri periode lima tahun kepemimpinan pada 2030. Ia tercatat tanpa jeda berkhidmat memimpin PDI Perjuangan NTB semenjak tahun 2000 silam.


Karena itu, Rachmat mengaku sangat bangga melihat komposisi peserta Musancab yang didominasi kader muda, khususnya dari Lombok Timur. Menurutnya, hal tersebut menjadi sinyal kuat bahwa regenerasi di tubuh partai berjalan dan harus terus diperkuat.


Rachmat menekankan bahwa kader muda tidak cukup hanya hadir secara jumlah, tetapi harus ditempa melalui kerja nyata di PAC dan ranting, dengan satu prinsip utama yakni menempel di rakyat, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat.


Itu sebabnya, mendapati semangat membara para kader-kader muda di hadapannya, Rachmat tak ragu bahwa sudah saatnya dirinya menegaskan kepemimpinan transisional yang sadar regenerasi, memastikan estafet partai tidak putus dan kader muda siap mengambil peran.


Langkah Rachmat yang menghadiran pejuang senior juga menjadi upaya mengikat memori kolektif partai, agar kader muda tidak tercerabut dari nilai ideologis dan sejarah perjuangan. Sebab, tanpa fondasi ini, regenerasi berisiko menjadi sekadar pergantian usia, bukan kesinambungan nilai. (red)

13/02/26

Sebulan ambruk, jembatan penghubung Pringgasela dan Masbagik belum diperbaiki

 
Sebulan ambruk, jembatan penghubung Pringgasela dan Masbagik belum diperbaiki

OPSINTB.com - Sudah masuk satu bulan jembatan penghubung antara Desa Benteng Selatan, Kecamatan Masbagik, dan Desa Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, yang ambruk pada Sabtu malam (10/1/2026) lalu, tak kunjung diperbaiki. Tak plak kondisi itu dikeluhkan warga setempat karena aktivitas sehari-hari masih terganggu. 


Salah seorang warga, Indari mengatakan jembatan tersebut roboh pada 11 Januari 2026. Hingga kini, belum ada tanda-tanda perbaikan lanjutan dari pihak terkait.


“Sudah sebulan lebih tapi tidak kunjung diperbaiki. Kalau mau ke pasar atau mengantar anak sekolah harus memutar sekitar dua kilometer,” ucapnya saat ditemui, Jumat (12/2/2026).


Indari mengungkapkan, sekitar dua minggu lalu sempat didatangkan alat berat ke lokasi, namun hingga saat ini pengerjaan tidak dilanjutkan tanpa penjelasan yang jelas. 


Jembatan darurat dari bambu yang sempat dibuat warga justru dibongkar karena mengira perbaikan akan segera dilakukan.


“Kalau tidak salah dua minggu lalu alat berat datang, tapi entah kenapa tidak dilanjutkan lagi pengerjaannya,” tuturnya


Keluhan serupa disampaikan Vira. Ia mengatakan ketiadaan jembatan membuat warga harus menggunakan jalur alternatif yang kondisinya rusak parah dan berlubang.


“Biasanya muter lewat jalan lain, tapi jalannya rusak parah, banyak bebatuan dan berlubang,” terangnya.


Tak hanya menghambat mobilitas warga, putusnya jembatan juga berdampak pada distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). 


Azwar, salah satu pemilik dapur penyedia MBG di kawasan tersebut, mengaku kesulitan menyalurkan makanan ke penerima manfaat yang berada di seberang jembatan, terutama saat musim hujan.


“Kalau musim hujan seperti sekarang, jalan alternatif jadi licin. Mobil pendistribusian kadang kesulitan mengantar menu MBG ke seberang,” jelasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Timur, Ahmad Dewanto, mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian dari Pemerintah Provinsi NTB terkait penanganan jembatan tersebut.


“Kami masih menunggu dari PUPR Provinsi karena pengerjaannya dari sana. Untuk alat berat itu kami belum tahu. Besok saya turun cek ke lokasi,” ujarnya. (zaa)

Petasan dan balap liar jadi sorotan Satpol PP Lotim selama Ramadan

 
Petasan dan balap liar jadi sorotan Satpol PP Lotim selama Ramadan

OPSINTB.com - Menjelang bulan suci Ramadan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Lombok Timur, menyiapkan pengamanan selama bulan Ramadhan. Hal itu diperkuat melalui surat edaran bupati, agar kondusivitas wilayah selama pelaksanaan ibadah puasa.


Kepala Satpol PP Lombok Timur, Salmun Rahman, mengatakan pihaknya akan mengimbau seluruh masyarakat di wilayah hukum Kabupaten Lombok Timur untuk saling menghargai dan menjaga ketertiban, baik bagi umat muslim yang menjalankan ibadah puasa maupun masyarakat yang tidak berpuasa.


“Menjelang Ramadan ini, tentu kita akan memberitahukan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga kondusivitas wilayah, saling menghargai, tidak mengganggu dan tidak membuat keresahan di tengah masyarakat,” ucap Salmun. Saat di konfirmasi opsintb.com, Kamis (12/2/2026).


Ia menjelaskan, aturan tata tertib selama bulan puasa akan dituangkan dalam surat edaran Bupati Lombok Timur. Sebelum diterbitkan, Satpol PP akan menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, seperti Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), aparat penegak hukum, Kesbangpol, camat beserta unsur Muspika, kepala desa, lurah, hingga perwakilan masyarakat.


Pihaknya juga akan melibatkan para pelaku usaha hiburan, pedagang makanan, serta pedagang petasan. Menurut Salmun, aktivitas seperti penjualan makanan secara terbuka di siang hari, penggunaan petasan saat salat tarawih, hingga balap liar di jalanan kerap menimbulkan gangguan ketertiban selama Ramadan.


“Misalnya membunyikan petasan di dekat masjid saat orang shalat tarawih tentu tidak boleh karena mengganggu. Begitu juga balap liar yang mengganggu ketertiban umum,” tegasnya.


Namun demikian, Salmun menekankan bahwa kebijakan ini tetap memperhatikan hak masyarakat non-Muslim. Ia menyebut, masyarakat yang tidak berpuasa tetap membutuhkan akses untuk makan dan beraktivitas seperti biasa, sehingga pengaturan akan dilakukan secara bijak agar semua pihak merasa nyaman.


Setelah surat edaran diterbitkan, Satpol PP bersama pemerintah kecamatan dan desa akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. 


Selanjutnya, pengawasan akan dilakukan melalui patroli rutin dan operasi gabungan yang melibatkan kepolisian dan TNI.


Bagi pelanggar, sanksi akan diberikan secara bertahap, mulai dari teguran hingga penghentian aktivitas. Jika pelanggaran dinilai berat, kasus dapat ditingkatkan ke proses hukum sebagai langkah terakhir.


“Penertiban yang kami lakukan sifatnya humanis dan edukatif. Pengadilan itu jalan terakhir,” katanya.


Terkait penjualan petasan, Salmun menegaskan pedagang wajib mengantongi izin dari pejabat berwenang, termasuk dari kepolisian.


Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban selama Ramadan agar umat Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman, nyaman, dan tenteram, serta tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati antar warga.


"Kita mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama ketertiban selama bulan puasa," pungkasnya. (zaa)

Nyantri di balik jeruji, ikhtiar Lapas Kelas IIB Selong mengubah stigma demi masa depan

 
Nyantri di balik jeruji, ikhtiar Lapas Kelas IIB Selong mengubah stigma demi masa depan

OPSINTB.com - Ruang-ruang sempit Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong, tak lagi terasa sesak. Bukan karena berkurangnya tahanan, melainkan dada yang semakin lapang.


Warga binaan sebutan penghuni Lapas itu, tengah berdamai dengan dirinya. Tempat mereka tinggal itu, merupakan bagian dari suratan takdir yang tengah dijalani.


Berpakaian seadanya menghadap ke Tuhan. Berkeluh kesah, menengadah tangan berdoa untuk kebaikan diri dan keluarga.


Usai melaksanakan solat berjamaah, mereka tak lagi kembali ke sel. Melainkan mereka duduk melingkar, melantunkan ayat suci Al Quran.


Suara-suara mereka, menembus tembok ratapan yang selama ini dialami. Sembari memperbesar harap, kerajaan langit turun memayungi hati yang tengah menebus kesalahan.


Masing-masing menggenggam mushaf, membaca dan memperbaiki tajwid dalam bimbingan petugas dan pembina.


Pemandangan itu kini menjadi rutinitas harian di lapas. Lokasi ini nampak seperti pondok pesantren, layaknya para santri yang menempuh pendidikan.


“Menurut hemat saya, ketika kita menyebut mereka santri, secara psikologis itu berpengaruh," kata Kepala Lapas Kelas IIB Selong, Sudirman, Kamis (12/02/2026).


Langkah ini kata dia, membuat warga binaan termotivasi untuk belajar, khususnya yang menyangkut soal agama. Dirinya mengaku, merinding saat melihat mereka melantukan ayat suci Al Quran.


Perubahan penyebutan ini, paparnya, bukan sekadar istilah. Ada harapan besar yang dititipkan di baliknya. 


Dengan identitas baru sebagai santri, para warga binaan diharapkan merasa memiliki tanggung jawab moral.


“Kalau tidak sholat, tidak mengaji, mereka akan malu dengan statusnya sebagai santri. Itu motivasi yang ingin kami bangun,” katanya.


Program pembinaan berbasis pendekatan keagamaan ini diterapkan kepada seluruh penghuni lapas. Melalui kegiatan tahsin, kajian keislaman, hingga kelas bahasa Arab, Lapas Selong berupaya menghadirkan suasana pesantren di balik jeruji. 


Program one day one juz turut digalakkan, agar dalam sebulan para santri bisa mengkhatamkan Alquran. Tidak hanya saat ramadan, tetapi juga dalam keseharian.


Tidak menutup kemungkinan, kata dia, warga lapas ada juga yang tidak bisa membaca Al Quran. Dengan pola baru ini mereka bisa belajar bersama.


Menurut Sudirman, respons para warga binaan sangat positif. Antusiasme terlihat setiap kali kegiatan berlangsung. 


“Baru sebulan berjalan, tapi semangat mereka luar biasa. Rasanya merinding melihat mereka selesai sholat langsung mengambil Alquran dan mengaji minimal 10 menit setiap hari,” ucapnya kembali.


Pendekatan ini menjadi penting, terutama mengingat sebagian besar penghuni Lapas Selong merupakan kasus narkotika, yang didominasi oleh pengguna. 


Melalui pembinaan spiritual, pihak lapas berharap tumbuh kesadaran dari dalam diri mereka untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Pembinaan di Lapas Selong tidak berhenti disitu, melainkan didapati juga program kemandirian menjadi pilar utama. Beragam pelatihan keterampilan diberikan, mulai dari cuci mobil, laundry, sablon, hingga barbershop.


Pihaknya ingin mereka punya bekal ketika keluar nanti. Misalnya, kata dia, barbershop bisa dilakukan di mana saja yang penting ada gunting, kain, dan cermin. 


"Di pasar-pasar juga bisa,” jelas Sudirman.


Keterampilan tersebut diharapkan menjadi jalan bagi para santri untuk mencari nafkah halal setelah bebas nanti. Lebih dari itu, Sudirman menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menerima mereka kembali.


Ia menyadari, stigma kerap menjadi tembok kedua yang lebih sulit ditembus dibanding jeruji besi. Keluarnya dari lokasi ini bisa membuat mereka minder dan merasa tidak dihargai.


Karena itu, ia mengajak semua pihak, termasuk media dan masyarakat, untuk ikut ambil bagian dalam proses reintegrasi sosial. 


Para mantan warga binaan perlu dirangkul, diajak terlibat dalam kegiatan masyarakat, agar merasa dihormati dan memiliki tempat.


“Kalau mereka merasa dihargai, insyaallah itu akan berimplikasi pada tidak mengulangi lagi tindak pidana,” ujarnya.


Bagi Sudirman, pembinaan bukan semata tugas lapas, melainkan tanggung jawab bersama. Dari balik tembok Lapas Selong, ia sedang menanam harapan bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua, dan bahwa perubahan bisa dimulai dari sebuah panggilan santri.


"Semoga ini awal, agar warga binaan nanti sepenuhnya berubah dan tidak mengulangi kesalahannya," harapnya. (zaa)

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama