OPSINTB.com - Tidak semua orang berhasil merantau. Kadang harus pulang dengan tangan hampa atau bahkan balik kampung hanya nama.
Belum lagi, kehidupan di perantauan tidak begitu enak. Rasa dahaga, lapar, sakit mereka harus rasakan.
Di lain sisi, jika gagal tak hanya tidak membawa uang. Tapi juga harus kuat jadi buah bibir tetangga.
Seperti yang dialami Husni Mubarak, pulang tanpa hasil. Sesampai di kampung halaman ia harus merasakan lagi sulitnya ekonomi lantaran gempuran virus Corona 19 (Covid 19).
Saat situasi sulit itu, dirinya mengambil langkah berani. Husni Mubarak, justru terfikir menjadi petani.
Laki-laki Desa Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB) ini justru mengembangkan usaha pembibitan anggur dan bertani melon.
Kini, usaha yang dimulai tahun 2019 lalu menjadi salah satu lokasi wisata pilihan. Pengunjung di tempat itu bisa memetik buah anggur dan melon secara langsung.
Dalam kondisi tanpa modal, ia mulai mencari peluang lewat media sosial. Ketertarikannya pada tanaman anggur menjadi titik balik kehidupannya.
Ia memulai dengan menjual bibit anggur lokal dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Dari hasil kecil itu, ia mulai mengembangkan usaha dengan membeli varietas anggur impor.
"Di sinilah saya mulai belajar teknik grafting atau sambung pucuk untuk memperbanyak bibit," kata Husni Mubarak, saat ditemui opsintb.com, Minggu ( 12/04/2026).
Percobaan awalnya tidak langsung berhasil. Dari 200 sambungan, hanya 6 yang hidup. Namun justru dari itulah usaha mulai berkembang.
"Enam itu jadi modal, dan ternyata pasarnya bagus," katanya.
Harga bibit pun terus meningkat. Dari Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu, bahkan ada varietas baru yang mencapai Rp 1 juta per bibit. Dari hasil penjualan bibit anggur, Husni berhasil membangun greenhouse dan memperluas usahanya.
Awalnya, ia hanya fokus pada pembibitan, bukan produksi buah. Namun seiring waktu, permintaan bibit mulai menurun. Dirinya pun mencoba beralih ke produksi buah anggur.
Tak disangka, pasar buah justru lebih menjanjikan. Dengan promosi sederhana melalui media sosial, pembeli mulai berdatangan.
Kini, konsep wisata petik anggur yang ia jalankan justru kewalahan memenuhi permintaan.
"Buah malah kurang, kadang harus dipesan dulu," ujarnya.
Melihat peluang yang lebih luas, Husni kemudian mencoba menanam melon. Hasilnya bahkan lebih menjanjikan dibanding anggur.
Menurutnya, melon lebih diminati karena harganya lebih terjangkau. Dengan berat rata-rata 1,2 kilogram, satu buah melon bisa dibeli berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu.
"Kalau anggur kan mahal, Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per kilo. Kalau melon lebih terjangkau untuk semua kalangan," jelasnya.
Dari manajemen justru dirinya menerapkan strategi unik dengan membuahkan dua melon dalam satu tanaman agar pengunjung bisa membeli lebih dari satu varian.
Saat ini, terdapat empat varietas utama melon yang ditanam, seperti lavender, sweet honey, dan beberapa jenis lainnya.
Sedangkan anggur total varietas yang ditanam mencapai sekitar sepuluh jenis, termasuk Santi, Erli, Adora, Jupiter, Trans, Julian, Akademik, Gosbi, Epres, dan Retros.
Konsep wisata petik sendiri menjadi daya tarik utama. Pengunjung bisa langsung memilih dan memetik buah yang diinginkan.
"Populasi 222 tanaman saja bisa habis setengah hari kalau ramai," ungkapnya.
Pengunjung datang dari berbagai daerah, mulai dari Mataram, Lombok Tengah, hingga Lombok Utara. Bahkan ada yang rela datang jauh hanya untuk merasakan pengalaman petik buah langsung di kebun.
"Dari KLU datang ke sini, beli 10 sampai 12 kilo," terangnya.
Meski begitu, tidak semua pengunjung membeli dalam jumlah besar. Banyak juga yang hanya membeli satu atau dua buah.
Untuk edukasi, Husni hanya memberikan arahan sederhana terkait tingkat kematangan buah saat dipetik.
Perjalanan usahanya tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari lingkungan sekitar.
Banyak orang yang meragukan pilihannya. Bahkan sampai orang tuanya sendiri.
"Dulu banyak yang bilang ngapain tanam begini, nggak bisa dijual. Dibilang ini kerjaan orang gila," tuturnya sambil tersenyum.
Namun ia tetap melanjutkan usahanya dengan tekad kuat. Seiring waktu, hasil yang terlihat membuat orang-orang di sekitarnya mulai mendukung, bahkan memberikan lahan untuk dikembangkan.
Menurut Husni, tantangan utama dalam memulai usaha hanyalah dua hal yakni modal dan cibiran orang.
Ia mengakui, keberhasilannya tidak lepas dari proses belajar. Dengan latar belakang pendidikan SMP, ia aktif berdiskusi dengan sesama petani, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
"Saya nggak malu untuk nanya,” ungkapnya.
Dalam satu kali panen anggur, ia bisa meraih keuntungan bersih sekitar Rp 30 juta dengan masa panen enam bulan.
Sementara melon, dengan masa panen sekitar dua hingga tiga bulan, awalnya hanya menghasilkan Rp 5 juta karena masih tahap belajar.
Kini, usahanya terus berkembang, membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba dan konsistensi dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang. (zaa)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami