Lombok Timur

27/02/26

Bocah 4 tahun yang terseret arus di Selong ditemukan di Sumbawa, Bupati Lotim fasilitasi penjemputan

 
Bocah 4 tahun yang terseret arus di Selong ditemukan di Sumbawa, Bupati Lotim fasilitasi penjemputan

OPSINTB.com - Akhirnya Azril Filah Busairi (4) tahun yang tersert arus air drainase di Selong, Kecamatan Selong, Lombok Timur pada Selasa (24/2/2026) lalu ditemukan, setelah 5 hari menghilang. Azril ditemukan di Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa.


Kabar penemuan tersebut disampaikan pada Jumat malam (27/2/2026), sekitar pukul 20.00 Wita. 


Mendapatkan informasi tersebut, Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin, langsung mendatangi rumah keluarga korban di Kelurahan Selong, untuk memberikan dukungan serta memastikan seluruh biaya penjemputan anak tersebut ditanggung oleh pemerintah daerah.


Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin mengaku bersyukur atas kabar ditemukannya anak yang sempat hilang setelah terseret arus air tersebut.


"Saya atas nama pemerintah sangat bersyukur mendengar informasi bahwa anak kecil yang hanyut dan berhari-hari dicari oleh Tim sar, polisi, tentara, dan seluruh elemen masyarakat akhirnya ditemukan di Pulau Moyo," terang Bupati Haerul Warisin pada Jumat malam.


Sebagai manusia, kata dia, memang tak boleh tidak percaya, karena tidak ada yang mustahil di dunia ini. Ia berharap anak yang ditemukan tersebut benar merupakan warga Selong yang selama ini dicari, sehingga keluarga dapat segera merasa tenang. 


Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, siap memfasilitasi seluruh kebutuhan penjemputan, mulai dari kendaraan hingga biaya bahan bakar dan akomodasi.


"Kita 100 persen menanggulangi seluruh biaya. Ini bentuk tanggung jawab pemerintah dalam melindungi masyarakat," tegasnya.



Selain itu, Bupati juga mengingatkan masyarakat, khususnya para orang tua, untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat musim hujan. Ia menyoroti kondisi saluran air dan sungai di wilayah Selong yang kerap meluap dan berbahaya.


"Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Orang tua harus betul-betul menjaga anak-anaknya, jangan sampai bermain di kali saat musim hujan. Apalagi pada usia yang belum mampu menolong diri sendiri, itu sangat berbahaya," katanya.


Sementara itu, ayah korban, Busairin, menyampaikan terima kasih kepada Bupati Lombok Timur atas perhatian dan bantuan yang diberikan. 


Ia mengatakan, pemerintah daerah telah menjanjikan seluruh biaya dan akomodasi untuk keberangkatan ke Sumbawa guna menjemput anaknya.


Busairin juga menceritakan kronologi awal kejadian. Saat itu, korban sempat bertengkar dengan adiknya. Azril keluar rumah tanpa sepengetahuannya.


“Saya tidak tahu dia keluar rumah karena saat itu saya sedang tidur. Tahu-tahu sudah tidak ada,” ujarnya.


Azril Filah Busairi merupakan anak pertama dari istri yang kedua. Hingga kini, pihak keluarga bersiap untuk berangkat ke Sumbawa guna memastikan anak tersebut. (zaa)

Menteri KKP kunjungi KNMP Ekas Buana, setujui SPBN dan bakal memberikan 10 kapal untuk nelayan

 
Menteri KKP kunjungi KNMP Ekas Buana, setujui SPBN dan bakal memberikan 10 kapal untuk nelayan

OPSINTB.com - Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, Sakti Wahyu Trenggono, melakukan kunjungan kerja ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026).


Dalam kunjungan tersebut, Menteri menyetujui usulan pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) serta bantuan 10 unit kapal bagi nelayan setempat.


Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kunjungan dan perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat pesisir di Lombok Timur.


"Atas nama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan masyarakat, kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya, matur tampiasih atas kunjungan kerja Bapak Menteri di Desa Ekas Buana," ucap Bupati Haerul Warisin.


Orang nomor satu di Gumi Patuh Karya itu memaparkan, Kabupaten Lombok Timur memiliki panjang garis pantai sekitar 220 kilometer yang menyimpan potensi besar di sektor perikanan tangkap, budidaya, hingga pariwisata bahari. 


Di wilayah Ekas Buana, imbuhnya, masyarakat mengembangkan budidaya lobster dan ikan kerapu dengan keramba jaring apung, sekaligus menjadi kawasan wisata surfing dan kuliner terapung. 


Bupati menegaskan keberadaan daripada kampung nelayan merah putih masih ada kekurangan diantaranya yang merupakan kebutuhan mendesak nelayan. Utamanya terkait ketersediaan bahan bakar dan sarana tangkap.


“Yang pertama adalah SPBN. tentu sangat sulit dari pertamina izinnya. Mudah-mudahan izin kami dapatkan sehingga BUMD kami, PT Energi Selaparang, bisa mendirikan SPBN di sini,” katanya.


Saat menjabat Wakil Bupati Lotim periode 2013–2018, kenangnya, pihaknya telah membangun dua SPBN yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), masing-masing berlokasi di Tanjung Luar dan Pelabuhan Haji.


Tanjung luar, kata dia, saat ini menjadi salah satu dari empat desa yang sedang diusulkan untuk berdirinya kampung nelayan merah putih ada 4 lokasi.


Selain SPBN, Bupati juga memohon bantuan kapal dan mesin bagi nelayan yang sebagian besar dalam kondisi rusak.


"Kapalnya tidak ada, mesin-mesin banyak yang hancur. Mudah-mudahan kami bisa dibantu, Pak Menteri,"ungkapnya.


Dalam kesempatan itu H Haerul, menyinggung angka kemiskinan di Lombok Timur yang masih berada di kisaran 13,43 persen lebih dari total penduduk sekitar 1,5 juta jiwa. Kontribusi cukup besar, terangnya, berasal dari masyarakat nelayan. 


Namun demikian dirinya meyakini dengan adanya kampung nelayan, sebanyak 10 ton ikan yang bisa disimpan. Pada saat tangkapan bayak tidak usah di jual taruh disitu tetap Mahal. 


Nantinya akan dikembalikan dengan tata niaga koperasi, Pemkab Lotim akan turun tangan memanfaatkan badan usaha milik daerah untuk membantu.


Selanjutnya, dirinya menyebut prihal program Makan Bergizi Gratis (MBG), menurutnya dari seluruh Kabupaten di NTB Lombok Timur paling banyak dapurnya lebih daripada 250 buah.


"Bisa dihitung pak Mentri, penduduk kami satu setengah juta, mbg kami 250 lebih. Berapa kebutuhan ikannya, berapa kebutuhan udangnya, berapa kebutuhan sayurnya dan sebagainya. Nah, sehingga tentu alhamdulillah, KNP-KNP seperti ini masih kami butuhkan,"ujarnya


Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono memastikan, pemerintah pusat akan membantu kebutuhan nelayan di wilayah tersebut.


"Permintaan Pak Bupati untuk SPBN nanti segera kita tindak lanjuti. Yang mengelola adalah pemerintah daerah melalui BUMD," tegasnya.


Terkait sarana tangkap, Menteri menyatakan KKP akan menyalurkan bantuan 10 unit kapal lengkap dengan mesin. Kalau kapalnya masih bagus tapi mesinnya rusak, pihaknya akan mebantu mesinnya.


Menteri juga menyoroti banyaknya keramba di perairan Ekas dan meminta jajaran direktorat terkait untuk melakukan penataan serta memberikan dukungan tambahan.


Ia mengingatkan masyarakat agar menjaga fasilitas Kampung Nelayan Merah Putih yang telah dibangun pemerintah.


"Kalau senang dibangun kampung nelayan ini, tolong dijaga dan dikelola dengan baik. Ini milik saudara-saudara semua, dibangun untuk memerangi kemiskinan," katanya.


Selain itu, Menteri mendorong agar benih bening lobster (BBL) tidak lagi dijual keluar, melainkan dibudidayakan di dalam negeri agar memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.


"Kalau enggak punya keramba, minta sama pak Jejen. Kalau enggak bisa akses pak Jejen melalui pak bupati, ya langsung akan kita bantu," tandasnya. (zaa)

Pemkab Lotim lawan lonjakan harga cabe

 

OPSINTB.com - Pemkab Lombok Timur melalui Dinas Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga cabai yang kerap terjadi saat musim hujan, terutama pada momentum Ramadan.


Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan delapan unit screen house. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mendukung budidaya cabai di luar musim secara lebih efektif.


"Di screen house ini hujan tidak bisa masuk dan hama lebih terkendali. Jadi tanaman bisa tetap berproduksi meskipun di tengah musim hujan," ucap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Lalu Fathul Kasturi, Kamis (26/2/2026).


Menurutnya, cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi daerah. Lonjakan harga yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh penurunan produksi akibat curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung lama.


Fathul menjelaskan, luas tanam cabai di Lombok Timur pada Oktober hingga Desember 2025 mencapai sekitar 6.600 hektar. Tanaman tersebut diharapkan panen pada Januari. Namun karena memasuki musim hujan, banyak lahan yang tergenang air sehingga produksi menurun drastis.


"Tanaman memang tetap berproduksi, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Pasokan ke pasar berkurang dan harga pun melonjak. Kondisi ini hampir selalu terjadi setiap musim hujan," jelasnya.


Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai melalui sistem tabulampot (tanaman buah dalam pot) maupun menggunakan polybag dan ember bekas. 


Selain itu, pemanfaatan pematang sawah juga dimanfaatkan dengan menanam sayur dan cabai seperti pola lama yang pernah diterapkan petani.


“Kita ini daerah pertanian. Ironis kalau harga cabai mahal di daerah sendiri. Itu seperti tikus mati di lumbung padi,” tegasnya.


Pada 2025 lalu pemerintah daerah mulai mengimbau seluruh ASN agar minimal menanam tiga polybag cabai di rumah masing-masing. Sementara pada 2026, Pemkab Lotim berencana mendistribusikan bibit cabai dalam polybag ke seluruh PKK, dasawisma, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di 254 desa secara proporsional.


"Langkah ini kita harapkan mampu menjaga stabilitas harga di tingkat rumah tangga, meskipun harga di pasar atau di Kota Mataram mengalami kenaikan," terangnya.


Selain itu, Dinas Pertanian juga melakukan operasi pasar di 20 titik di Kabupaten Lombok Timur, termasuk di Taman Kota Selong. Dalam operasi tersebut, cabai yang di pasaran mencapai Rp 85 ribu per kilogram dijual seharga Rp 15 ribu per kilogram. Pembeli juga mendapatkan bonus bibit cabai.


Pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan Dinas Perdagangan dan Bulog dalam kegiatan pasar murah untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.


"Ke depan, pembangunan dan pemanfaatan screen house serta gerakan tanam cabai di pekarangan diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga ketersediaan dan kestabilan harga cabai, khususnya saat musim hujan dan periode permintaan tinggi seperti Ramadan," tandasnya. (zaa)

25/02/26

Langkah kecil dua mahasiswa, nyalakan harapan untuk anak-anak Dusun Kebon Daya

 
Langkah kecil dua mahasiswa, nyalakan harapan untuk anak-anak dusun Kebon Daya

OPSINTB.com - Sore itu, suasana di Dusun Kebon Daya Desa Terara, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur  tampak berbeda. Biasanya anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain tanpa arah atau tenggelam dalam layar ponsel, kini puluhan dari mereka berkumpul di Musholla Bustanul Arifin.


Mereka duduk rapi, sebagian membuka buku, sebagian lain menyimak pendamping mereka berbicara di depan.


Perubahan kecil itu bermula dari tingkah dua mahasiswi Linda Wahyuni dan Nuri Zaerani. 


Alih-alih hanya mengeluhkan minimnya pendampingan belajar bagi anak-anak di dusun mereka, keduanya memilih bergerak. Mereka merintis ruang belajar sore bertajuk Berani Cahaya. 


Ruang belajar ini tidak sekadar menjadi tempat mengerjakan pekerjaan rumah. Linda dan Nuri merancangnya sebagai wadah belajar tambahan yang memadukan baca tulis, pendampingan tugas sekolah, mengaji, sekaligus penanaman etika dan disiplin. 


Bagi mereka, pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan keberanian berpikir sejak dini.


“Kami melihat banyak adik-adik sepulang sekolah hanya bermain tanpa arah, bahkan sudah terbiasa memegang HP dalam waktu lama tanpa pendampingan," ucap Linda Wahyuni, Rabu (25/2/2026).


Di lain sisi, mereka juga melihat mulai berkurangnya pembiasaan etika sederhana. Seperti cara berbicara dan menghargai yang lebih tua. 


Dari situ kumpulan anak muda ini merasa tidak bisa hanya mengeluh. Menurutnya, Berani Cahaya bukan hadir untuk menyalahkan anak-anak, melainkan untuk memberikan alternatif yang lebih membangun.


“Anak-anak ini punya potensi besar. Mereka hanya butuh ruang dan arahan. Kami ingin sore hari mereka diisi dengan belajar, berdiskusi, dan dibiasakan disiplin. Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi?” tegasnya.



Ternyata, semangat itu tak berhenti pada dua orang. Empat siswi SMA setempat Mira, Azwa, Risma, dan Alya ikut terseret dalam tingkah positif tersebut. Mereka dilibatkan sebagai pendamping belajar bagi adik-adik mereka sendiri.


Konsep ini kata Linda, memang sengaja dirancang agar remaja perempuan tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga belajar memimpin dan bertanggung jawab. Para inisiator ingin menanamkan kepercayaan diri dan rasa mampu pada diri mereka.


“Kami ingin adik-adik perempuan di sini tidak hanya jadi peserta, tapi juga belajar memimpin. Supaya mereka tahu bahwa mereka mampu,” ujarnya


Meski kini mendapat respons positif, Linda mengaku pada awalnya sempat pesimis. Keterbatasan fasilitas dan kekhawatiran tidak ada peserta yang datang sempat menjadi keraguan. 


"Namun, kehadiran 36 anak di hari pertama menjadi jawaban bahwa tingkah kecil tersebut ternyata memang dibutuhkan,"sebut Linda


Linda berharap, pemerintah desa dapat memberi perhatian dan dukungan agar kegiatan ini berjalan berkelanjutan. Dari Dusun Kebon Daya, tingkah dua mahasiswi ini mulai menular dan empat siswi SMA menjadi bukti bahwa semangat perubahan bisa menjadikan siapa pun korban dalam arti yang paling baik.


"Kami berharap pemerintah desa dpat memberinperhatian seta dukungan,"harapnya


Sementara itu, Ketua RT Dusun Kebon Daya, Endi, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, aktivitas itu merupakan gerakan yang baik untuk anak-anak. 


"Semoga bisa terus berjalan dan berkembang,” ujarnya.


Ia menilai langkah yang dimulai dari kepedulian generasi muda ini menjadi contoh bahwa perubahan bisa lahir dari kesadaran sederhana. 


Dia menegaskan, tidak harus menunggu program besar atau bantuan datang untuk berbuat.


Kini, Berani Cahaya bukan hanya ruang belajar. Ia telah menjadi ruang bertumbuh tempat anak-anak diasah keberaniannya, remaja perempuan belajar memimpin, dan masyarakat melihat bahwa tingkah kecil dua mahasiswi dapat menyalakan cahaya perubahan di dusun mereka sendiri. (zaa)

Hari kedua pencarian Azril belum ditemukan Tim SAR Lotim

 
Hari kedua pencarian Azril belum ditemukan Tim SAR Lotim

OPSINTB.com - Tim SAR Lombok Timur (Lotim) kembali melanjutkan pencarian M Azril Filah Busairi (4), warga Lingkungan Karang Sukun, Kelurahan Selong, Lombok Timur yang diduga hanyut di aliran sungai wilayah tempat tinggalnya. 


Pada pencarian hari kedua, Rabu (25/2/2026), tim menyisir sejumlah titik di sekitar lokasi kejadian. 


Koordinator Lapangan Pos SAR Lotim, Ahmad Fatoni Hirwansah menyampaikan, pencarian dilakukan secara intensif bersama unsur gabungan.


“Untuk pencarian hari kedua, kami bersama tim melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian hingga ke gorong-gorong di area pemakaman. Setelah itu, penyisiran dilanjutkan di pinggir Jalan Raya SMA 1 dan memotong jalur yang dicurigai,” ucapnya.


Tim gabungan yang terdiri dari sekitar 15 personel dibagi menjadi satu regu utama. Unsur yang terlibat antara lain dari Basarnas, Brimob, BPBD, pemadam kebakaran, serta SAR unit setempat. 


Dia memaparkan, area pencarian meliputi wilayah persawahan hingga menuju Kembang Kuning.


Fatoni menjelaskan, hingga siang hari tim telah melakukan penyisiran maksimal sesuai kemampuan. Pergerakan lanjutan dijadwalkan kembali pada pukul 14.00 wita ini.


Namun, pencarian di hari kedua ini menghadapi sejumlah kendala. Tumpukan sampah dan pasir di beberapa titik menyulitkan proses penyisiran. 


“Sampah yang menumpuk sudah kami bersihkan sedikit demi sedikit, tapi belum maksimal karena keterbatasan personel. Selain itu, kondisi bulan puasa juga membuat tenaga teman-teman di lapangan harus benar-benar dimaksimalkan,” jelasnya.


Hambatan lainnya ialah keterbatasan peralatan. Rencana penggunaan perahu karet tidak dapat direalisasikan karena kondisi lapangan yang tidak memungkinkan. 


Tim akhirnya melakukan pencarian secara manual dengan menggunakan jaket pelampung, tali, dan ring buoy sebagai alat bantu.


Untuk operasi selanjutnya, tim akan melakukan pergerakan dari posko menuju wilayah Kelayu dan berpotensi bergeser ke Labuhan Haji. Jalur sungai yang bercabang menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian.


“Karena jalurnya bercabang, kami akan mengikuti alur sungai terlebih dahulu. Setelah itu, jika personel sudah terbagi lebih banyak, baru kami lanjutkan penyisiran hingga ke muara atau Pantai Labuhan Haji,” terang Fatoni.


Sekitar pukul 11.30 WITA, tim sempat beristirahat sejenak untuk ishoma sekaligus melakukan pengecekan peralatan sebelum melanjutkan pencarian pada sesi berikutnya. Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus berlangsung. (zaa)

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama