OPSINTB.com | News References

Headline

Politik

Hukum

Nasional

11/07/26

Nafas sengau pariwisata Lombok Timur

 
Nafas sengau pariwisata Lombok Timur

Foto: Dua bule sedang nyiong (sangrai) kopi khas Lombok Timur menggunakan wajan tanah liat yang disebut kete. Kopi ini dinamakan “Kopi Siong Kete”. (istimewa)


OPSINTB.com - ‘Hidup segan mati tak mau’. Begitulah kondisi pariwisata Lombok Timur. Bagaimana tidak, di tengah musim high season kabarnya pun jarang terdengar atau mungkin saja sengaja dilupakan. Padahal Lombok Timur tak kekurangan destinasi yang harus dikunjungi, penginapan juga cukup, tempat kuliner hingga lokasi penjual cindra mata juga tak kalah banyak. Namun tetap saja nafas pariwsiata di Gumi Patuh Karya seperti sengau. 


"Kita tidak kekurangan destinasi, penginapan puluhan bahkan bisa mengentuh seratus setiap tahunnya juga bertambah, hanya kita kurang inovasi," kata salah seorang pelaku pariwisata Lotim, Yogi Birrul Walid Sugandi, ditemui opsintb.com di tengah kesibukannya belum lama ini. 


Tak hanya monotonnya destinasi, tapi juga atraksi wisata pun mengalami stagnasi, tidak ada inovasi. Terlebih belakangan, pelaku wisata cukup susah mendapatkan tamu asing. 


Menurutnya, faktor utamanya ialah perang antara Iran Amerika yang bersukutu Israel. Lantaran, tamu-tamu khususnya Eropa banyak yang melakuman cancel tiket mereka biasanya satu tahun sebelum berkunjung tiket sudah dipesan. 


Dikatakan Yogi, hingga saat ini multiplier effect ekonomk dari sektor ini juga belum bisa dirasakan. Sebab, peranan desa wisata yang dulu-dulu diinisiasi yang diniatkan untuk inovasi desa wisata baru tak berjalan. 


Dia mencontohkan di Labuan Haji yang tak memilikk perkembangan apa pun. Termasuk di Ekas misalnya, menjanjikan tata kelola surfing, malah hingga saat ini hilang kabar. 


Selanjutnya dalam Rencana Induk Pembangunan  Kepariwisataan (RiParKap), Sembalun dihajatkan menjadi destinasi terpadu juga tidak pernah terwujud. Desa Penakak, Masbagik Timur dan sekitar direncakan sebagai centra kearipan lokal berupa kerajinan malah kembali seperti dulu, pelaku berusaha dan memasarkan hasilnya secara mandiri. 


Paling parah di Bukit Kayangan, yang dulunya menjadi salah satu destinasi pilihan hanya tersisa barang ronsokan. 


Melalui tim ahli cagar budaya juga tidak berkembang lantaran tidak ada suport. Seharusnya dengan hasil dari TACB menjadikan wisata budaya baru yang bisa dikunjungi, namun karena tak ada dukungan jadi tugasnya hanya penelitian dan seminar. 


Jadi, kata Yogi, narasi-narasi tim cagar budaya menjadikan lokasi situs sebagai lokasi kunjungan sebagai wisata edukasi jadi hanya omong kosong. 


"Dulu kan kita serius sekali dengan kolaborasi Pemprov, Pemda, kepolisian menginginkan pelayanan seperti di gili malah kembali ke nol,” ungkapnya.


Lain lagi, akademisi Prodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Qori Bayyinaturrosyi mengatakan, citra wisata Lombok Timur turun drastis. Artinya, dari ambisi orientasi pariwisata sudah hilang. 


Menurutnya, secara global perkembangan pariwisata tergantung kebijakan politik. Karena setiap rezim memiliki inti bisnis. 


"Zaman Jokowi inti bisnis untuk mendukung APBN adalah pariwisata," kata pria yang karib disapa Qori. 


Tak heran pada masa orang Solo itu, pariwisata berada nomor dua setelah pajak sebagai penyumbang APBN terbesar. Misinya seperti membangun sepuluu Bali baru, hingga IKN. 


Tapi pada masa Prabowo, pariwisata bukan jadi inti bisnis. Kebijakan itu rentetannya ke daerah, apalagi sistem kebijakan imperatif seperti sekarang ini. 


Di daerah khususnya Lombok Timur, orientasi pariwisata pun tidak tergambarkan. Secara simbol, terangnya, pemerintah memiliki perangkatnya namun tak mempunyai kemampuan untuk itu, malah keseringan blunder. 


Dia memisalkan seperti kasus pengusiran boatman di tengah laut dan rest area Pusuk, menjadi contoh salah eksekusi karena ketidak pemahaman dalam dunia pariwisata. 


Dia mamaparkan sebuah jurnal tahun 2009 hasil riset pusat study pariwisata UGM di 30 kabupaten kota se Indonesia mengenai birokrasi kepariwisataan di setiap daerah. 


Dalam jurnal itu, Lombok Timur menempati nomor dua dari bawah setah Papua. Alhasil ada atau tidaknya dinas yang mengurus pariwisata di daerah tidak memberikan apa pun. 


"Ada atau tidaknya dinas pariwisata di daerah tidak memberikan kontribusi signifikan bagi sektor pariwisata," ujarnya. 


Kemajuan pariwisata di Gumi Patuh Karya, disebabkan oleh peran komunitas bukan dari pemerintahnya. Menurutnya hal itu bisa diukur dari pendapatan Dinas Pariwisata hingga pertengahan semester belum mencapai target. Dari target Rp 600 juta baru mendapat sekitar Rp 150 juta. 


Soal kunjungan, sebutnya, saat high season itu pasti meningkat. Begitu juga dengan revisit intention hanya wisatawan lokal, namun bagi mancanegara paling banyak dua kali itu pun jika ada aset atau kolega dan terpengaruh oleh leader pengelola. 


Selanjutnya, yang menjadi pekerjaan rumah pariwisata Lombok Timur ialah penghubung antara destinasi dengan pusat seperti kuliner, rest area, hingga pusat belanja untuk cendra mata belum terintegtasi. Kondisi itu disebutnya sering menjadi keluhan wisatawan. 


Dia mencontohkan, wisatawan sudah mengatur rute perjalanan seperti ke Pantai Pink atau ke Gili Kondo, tapi hunian hotel harus ke Selong atau tidak ke wilayah Jeruk Manis dan Tetebatu. 


"Orang ke selatan harus geser jauh, perjalanan wisatawan kehabisan energi di jalan," ucap Qori.


Dia mengatakan miniatur wisata Lombok Timur hanya di lingkaran Tetebatu dan Jeruk Manis. Sebab, di lokasi itu orang bisa dengan mudah mendapatkan yang dicari. 


"Ya, Tetebatu ini miniatur Lombok Timur. Sembalun yang jadi persoalan lama, tinggal wisatawan. Pokoknya pariwisata sudah turun," pungkasnya. (kin)

Tanamkan adab dan cinta budaya, MOP Ponpes Darul Istiqomah NWDI Juet hadirkan edukasi seni tradisional

 
Tanamkan adab dan cinta budaya, MOP Ponpes Darul Istiqomah NWDI Juet hadirkan edukasi seni tradisional

OPSINTB.com - Alunan musik tradisional Cilokak mencuri perhatian di halaman Yayasan Pondok Pesantren Darul Istiqomah NWDI Juet, Desa Lepak Timur, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, NTB pada Jumat (10/7/2026) kemarin.


Sejumlah seniman lokal, seperti Gazali, Guru Ahim, dan Iwan dari grup Cilokak Alba 05, tampil menghibur sekaligus memperkenalkan seni tradisi Lombok kepada ratusan santri baru.


Penampilan kesenian tradisional tersebut menjadi salah satu rangkaian Masa Orientasi Pesantren (MOP) bagi siswa baru MTs dan MA. Kegiatan yang berlangsung Bukan sekadar hiburan, kehadiran Cilokak menjadi media dakwah budaya yang sarat pesan.


Pembina MOP, Zulkarnain mengatakan, kegiatan ini bertujuan mengenalkan kekayaan budaya Lombok kepada para santri yang berasal dari berbagai daerah. 


Menurutnya, pondok ingin menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sekaligus mengajarkan pentingnya menghargai para seniman yang menjaga warisan leluhur.


"Kami ingin santri mengenal budaya daerahnya sendiri, melestarikannya, serta menghargai para pelaku seni. Kehadiran Cilokak bukan untuk mengurangi nilai-nilai pendidikan di pesantren, tetapi menjadi bagian dari pendidikan karakter yang sejalan dengan pembentukan adab," ucap, Zulkarnain Disela kegiatan MOP, Sabtu (11/7/2026).


Di tengah persaingan dunia pendidikan, Pondok Pesantren Darul Istiqomah NWDI Juet terus menunjukkan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, akhlak, dan pelestarian budaya.


Kepercayaan masyarakat terhadap pondok ini juga terus meningkat. Pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah peserta didik baru mengalami kenaikan signifikan. 


"Pada tahun ini MTs menerima 125 siswa baru, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 76 siswa. Sementara MA menerima 72 siswa baru," katanya.


Menariknya, para santri tidak hanya berasal dari Lombok Timur. Pondok ini juga menerima peserta didik dari Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Lombok Barat, serta berbagai kecamatan di kabupaten setempat. 


Hal itu menjadi bukti bahwa Darul Istiqomah NWDI Juet semakin dikenal sebagai pesantren yang tidak hanya mengutamakan pendidikan agama, tetapi juga membentuk karakter dan melahirkan generasi berprestasi.


"Kita di pondok pesantren ini, ingin menamapilkan perbedaan dari pondok-pondok lain," jelasnya.


Didirikan pada tahun 2001, Pondok Pesantren Darul Istiqomah NWDI Juet dikenal dengan budaya disiplin yang kuat.


Pembelajaran adab menjadi ciri khas melalui pengajian kitab Ta'limul Muta'allim, pembinaan Suluk Asasiyah, serta penerapan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.


Komitmen tersebut telah melahirkan berbagai prestasi. Salah satunya adalah keberhasilan santri meraih Juara Harapan pada ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional di Wajo, Sulawesi Selatan, sebuah kompetisi bergengsi yang mempertemukan para santri terbaik.


Berbagai capaian itu semakin mengukuhkan Pondok Pesantren Darul Istiqomah NWDI Juet sebagai salah satu pilihan masyarakat dalam menitipkan pendidikan putra-putrinya. 


Di tengah arus modernisasi, pesantren ini membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk pribadi yang beradab, berprestasi, dan tetap mencintai budaya daerahnya. (zaa)

Tindak lanjuti arahan presiden, Gubernur NTB gerak cepat bahas program strategis

 
Tindak lanjuti arahan presiden, Gubernur NTB gerak cepat bahas program strategis

OPSINTB.com - Seusai mendampingi Presiden Republik Indonesia meresmikan Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Jumat (10/7/2026), Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H Lalu Muhamad Iqbal, langsung bergerak cepat menindaklanjuti komitmen Presiden.


Gubernur NTB Miq Iqbal menggelar pembahasan intensif bersama Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, untuk mempercepat berbagai program strategis pembangunan daerah. Langkah ini menjadi tindak lanjut konkret atas dukungan yang lebih besar dari pemerintah pusat bagi percepatan pembangunan di Nusa Tenggara Barat.


“Dalam sambutan maupun saat berbicara langsung kepada saya, Bapak Presiden menyampaikan keinginan untuk memberikan dukungan yang lebih besar bagi NTB,” ujar Gubernur NTB yang akrab disapa Miq Iqbal.


Menurut Miq Iqbal, arahan Presiden tersebut menjadi momentum penting untuk mempercepat penyelesaian program prioritas yang dibutuhkan masyarakat NTB. Komitmen tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui komunikasi intensif dengan berbagai kementerian agar dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan, program, dan dukungan nyata.


Agenda Strategis Pembangunan NTB yang Dibahas


Dalam pertemuan tersebut, Gubernur NTB mengangkat beberapa agenda prioritas pembangunan, antara lain:

•  Keberlanjutan MotoGP dan pengembangan Sirkuit Mandalika

•  Penyediaan air bersih di kawasan pesisir selatan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa

•  Revitalisasi bendungan, embung, dan jaringan irigasi

•  Pengembangan energi terbarukan

•  Percepatan pembangunan infrastruktur jalan, termasuk proyek strategis Jalan Port to Port Lembar–Kayangan


Miq Iqbal menegaskan bahwa seluruh agenda tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan investasi, ketahanan pangan, penyediaan air baku, pengembangan pariwisata, peningkatan konektivitas wilayah, serta pemerataan pembangunan di NTB.


Koordinasi dengan Menteri Teknis


Tidak berhenti pada pembahasan dengan Menteri Sekretaris Negara, Miq Iqbal juga langsung melakukan koordinasi dengan menteri teknis yang mendampingi Presiden, di antaranya Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Koordinasi ini dilakukan untuk mempercepat pembahasan teknis berbagai program prioritas sesuai kewenangan masing-masing kementerian.


“Komitmen Presiden merupakan peluang besar bagi NTB. Tugas kami sekarang adalah mengawal dan menindaklanjutinya melalui koordinasi yang intensif dengan kementerian terkait agar dukungan tersebut benar-benar terwujud dalam bentuk program, anggaran, dan pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Miq Iqbal.


Gubernur NTB memastikan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah akan terus diperkuat. Seluruh arahan dan komitmen Presiden akan dikawal hingga menjadi program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat.


Melalui kolaborasi yang semakin erat, berbagai agenda strategis di bidang infrastruktur, ketahanan pangan, penyediaan air bersih, energi terbarukan, konektivitas wilayah, dan penguatan pariwisata diharapkan dapat dipercepat. Semua itu menjadi fondasi menuju Nusa Tenggara Barat yang makmur dan mendunia. (red)

Tagihan listrik PJU Loteng turun Rp 140 juta

 
Tagihan listrik PJU Loteng turun Rp 140 juta

OPSINTB.com - Tagihan pembayaran listrik lampu penerangan jalan umum (PJU) Pemkab Loteng turun setelah Dishub Loteng bersama PLN melakukan penyesuaian dan rekonsiliasi.


Kepala Dishub Loteng, Hj Baiq Sri Damayanti mengatakan, per Juni 2026 pembayaran listrik sebesar Rp 760 juta. ‘’Alhamdulillah untuk bulan Juni ini pembayarannya sekitar Rp 760 juta. Yang dulu sampai Rp 900 juta kita bayar,’’ kata Baiq Sri saat ditemui di Kantor Bupati Loteng, Jumat (10/7/2026).


Baiq Sri menjelaskan saat ini pihaknya baru melakukan penyesuaian dan rekon di sembilan kecamatan. Sehingga, ia yakin tagihan PJU bakal lebih rendah lagi jika seluruh kecamatan sudah disurvei.


Selain melakukan penyesuaian dan rekon, pihaknya juga mengenolkan PJU yang tidak aktif untuk menghentikan pemborosan. ‘’Sehingga, nanti kalaupun itu aktif baru kita kembalikan lagi seperti semula,’’ imbuhnya.


Baiq Sri bilang survei penting dilakukan setiap tahun untuk mengetahui kondisi eksisting dari titik-titik PJU yang ada di seluruh wilayah Loteng.


Saat ini jumlah titik PJU yang aktif sebanyak 7.700 titik, meterisasi 3.700, dan non meterisasi sekitar 4.000. Jumlah non meterisasi kemungkinan menurun lagi karena beberapa titik yang tidak aktif sudah dinolkan. 


‘’Sehingga, nanti tindak lanjutnya setelah kita rekon dua kecamatan yang sisanya, kita akan lakukan perubahan MoU lagi dengan PLN terkait dengan kontak daya.’’


‘’Mohon dukungan semua pihak untuk menjaga fasilitas yang ada agar kenyamanan, khususnya bagi kita semua soal PJU bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat,’’ pungkasnya. (wan)

10/07/26

SMKN 1 Pringgabaya diserbu peminat hingga Kalimantan dan Sumatera

 
SMKN 1 Pringgabaya diserbu peminat hingga Kalimantan dan Sumatera

OPSINTB.com - Pemandangan berbeda terlihat di SMKN 1 Pringgabaya pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah yang dahulu dikenal hanya menjadi pilihan siswa dari wilayah lingkar Kecamatan Pringgabaya itu, kini menjelma menjadi magnet pendidikan vokasi yang menarik minat pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.


Di tengah derasnya persaingan dunia pendidikan, SMKN 1 Pringgabaya perlahan membuktikan diri menjadi salah satu sekolah terbaik.


Kepala SMKN 1 Pringgabaya, Pathan, mengaku bersyukur melihat antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurutnya, perubahan itu bukan terjadi begitu saja, melainkan hasil dari konsistensi sekolah dalam membangun karakter sebagai sekolah manufaktur industri yang terus berkreasi dan berinovasi.


"Alhamdulillah, luar biasa. Respon masyarakat sangat tinggi. Kalau dulu sumber siswa kami hanya dari lingkar Kecamatan Pringgabaya, sekarang sudah menyebar. Bahkan pada tahun ajaran 2026/2027 ini ada empat siswa yang berasal dari Kalimantan, kemudian ada juga siswa dari Sumatera," ucapnya Jumat (10/7/2026).


Fenomena tersebut menjadi sejarah tersendiri bagi SMKN 1 Pringgabaya. Untuk pertama kalinya, seluruh program keahlian yang dimiliki sekolah terisi penuh.


Sebanyak 14 program keahlian kini tidak lagi memiliki kursi kosong. Padahal, daya tampung sekolah sebenarnya disesuaikan dengan jumlah lulusan tahun sebelumnya, yakni sekitar 517 siswa.


Namun pada tahun ajaran baru ini, jumlah pendaftar jauh melampaui perkiraan. Awalnya tercatat sebanyak 825 calon siswa baru mendaftar. 


Setelah proses daftar ulang dan pembaruan data di Dapodik, sebagian kecil memilih mengundurkan diri sehingga jumlah siswa yang resmi terdaftar mencapai 759 orang.


"Artinya ada peningkatan sekitar 205 siswa dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi bukti bahwa SMKN 1 Pringgabaya benar-benar semakin diminati masyarakat," katanya.


Lonjakan jumlah peserta didik itu membawa konsekuensi baru. Sekolah kini mulai menghadapi keterbatasan infrastruktur. Namun di tengah tantangan tersebut, secercah harapan mulai terlihat.


Pathan menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komite SMKN 1 Pringgabaya yang terus mengawal rencana penambahan lahan sekolah. Pemerintah daerah, kata dia, telah memberikan sinyal positif terkait hibah lahan yang berada di belakang kompleks sekolah.


"Alhamdulillah, pihak aset pemerintah daerah sudah melakukan pengukuran. Luas lahannya sekitar 60 hektare. Mudah-mudahan penambahan lahan ini bisa segera terwujud sehingga memberikan ruang yang lebih kondusif bagi anak-anak kami untuk belajar dan beraktivitas," inginnya. 


Lahan baru tersebut telah dipersiapkan untuk berbagai kebutuhan pengembangan sekolah. Prioritas utama adalah membangun tempat ibadah yang lebih representatif.


Dengan jumlah siswa yang kini telah mencapai sekitar 2.026 orang, mushola yang ada saat ini sudah tidak lagi mampu menampung seluruh warga sekolah.


"Nanti kami akan membangun sarana ibadah yang lebih besar karena musala yang ada sekarang sudah tidak mampu menampung seluruh siswa," akuinya. 


Selain itu, sekolah juga berencana membangun Ruang Praktik Siswa (RPS) yang memenuhi standar industri. Selama ini, menurut Pathan, hanya satu RPS yang benar-benar sesuai standar, sedangkan lainnya masih merupakan hasil modifikasi.


"Kami berharap lokasi baru nantinya dapat digunakan untuk membangun beberapa RPS sekaligus sehingga praktik siswa semakin maksimal," harapnya. 


Keterbatasan ruang kelas sebenarnya juga mulai dirasakan. Namun proses pembelajaran tetap berjalan stabil karena sebagian besar siswa kelas XII sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di berbagai perusahaan.


Sebanyak 208 industri telah menjadi mitra SMKN 1 Pringgabaya dalam penempatan siswa PKL. Bahkan beberapa siswa terbaik mendapat kesempatan magang di berbagai kota besar di Indonesia.


"Ada enam siswa PKL di Denpasar, satu orang di Solo, tiga orang di Jakarta. Yang di Jakarta sekarang sedang memasang panel surya di kantor perpajakan," tutur Pathan dengan bangga.


Kesuksesan para siswa itulah yang kemudian menjadi promosi paling ampuh bagi sekolah.


Ketika ditanya mengapa minat lulusan SMP terus membludak, Pathan menjelaskan bahwa masyarakat kini melihat langsung hasil nyata dari pendidikan di SMKN 1 Pringgabaya.


Wilayah asal siswa pun semakin luas, tidak hanya dari Kecamatan Pringgabaya, tetapi juga Suela, Wanasaba, hingga berbagai daerah lainnya.


Menurutnya, sekolah tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk mengembangkan bakat dan talenta nonakademik.


"Semua potensi siswa kami fasilitasi. Mau di bidang olahraga, olimpiade, maupun kegiatan lainnya, semuanya kami dukung agar berkembang. Di samping itu, kemampuan inti atau kompetensi keahlian mereka juga terus kami tingkatkan," ucapnya.


Namun ada satu faktor yang dinilai paling berpengaruh terhadap meningkatnya kepercayaan masyarakat, yakni keberhasilan para alumni.


Banyak lulusan SMKN 1 Pringgabaya yang kini bekerja di berbagai perusahaan dengan penghasilan yang membanggakan. 


Kisah sukses mereka menyebar dari mulut ke mulut, bahkan menjadi alasan utama keluarga mendorong adik atau kerabatnya untuk bersekolah di tempat yang sama.


"Sering kali adiknya masuk ke sini karena melihat kakaknya sudah berhasil bekerja dengan gaji yang menggembirakan. Orang tua mengatakan, Kamu harus masuk SMKN 1 Pringgabaya, lihat kakakmu sekarang. Alumni-alumni kami memberikan respon yang sangat positif terhadap sekolah," pungkasnya. (zaa)

Foto

WISATA

PENDIDIKAN

BUDAYA

EKONOMI

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama