OPSINTB.com | News References

Headline

Politik

Hukum

Nasional

05/09/26

Bahasa Sasak tergerus zaman, UPT Dikbud Kecamatan Selong gelar Festival Tunas Bahasa Ibu

 
Bahasa Sasak tergerus zaman, UPT Dikbud Kecamatan Selong gelar Festival Tunas Bahasa Ibu

OPSINTB.com - Unit Pelaksana Teknis

 (UPT) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kecamatan Selong menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dengan mengusung tagline “Melestarikan Bahasa Daerah, Menguatkan Karakter Bangsa”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula UPT Dikbud Kecamatan Selong, Sabtu (5/9/2026).


Pembukaan FTBI ditandai dengan pemukulan gong oleh Kabid Pembina Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, Lalu Rudi Oki Saputra.


Kepala UPT Dikbud Kecamatan Selong, Muhammad Safi’i, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap bahasa daerah, khususnya bahasa Sasak.


Menurutnya, penggunaan bahasa daerah di wilayah perkotaan, termasuk Kecamatan Selong, saat ini mulai berkurang. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.


"Bahasa daerah dalam penggunaannya masih minim. Sehingga melalui kegiatan ini kita berharap bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi bisa terus menggali tunas-tunas baru yang mencintai bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Sasak," ucapnya.


Ia berharap para peserta yang mengikuti FTBI nantinya dapat menjadi duta yang ikut melestarikan bahasa daerah. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah penting dilakukan di tengah perkembangan zaman, tanpa mengesampingkan penggunaan bahasa Indonesia dan penguasaan bahasa asing.


"Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing. Kita berharap literasi ini terus tumbuh dan berkembang di kalangan peserta didik," katanya.


Safi’i menjelaskan, penggunaan bahasa daerah di sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Selong juga masih tergolong minim. Meski demikian, terdapat sejumlah sekolah yang memasukkan bahasa daerah sebagai bagian dari muatan lokal untuk menjaga keberlangsungan bahasa Sasak.


Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam menjaga bahasa ibu. Sebab, penggunaan bahasa Indonesia yang semakin dominan di lingkungan keluarga dikhawatirkan membuat generasi muda semakin jauh dari bahasa daerah.


“Jangan sampai kita lupa terhadap bahasa daerah, karena bagaimanapun itulah karakter yang harus kita jaga terus. Tetap lestari dan jangan sampai dilupakan karena itu adalah bahasa ibu,” tegasnya.


Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pembina Ketenagaan Dikbud Lombok Timur, Lalu Rudi Oki Saputra, mengatakan FTBI merupakan kegiatan yang digelar setiap tahun sebagai upaya mengembangkan literasi dan kecintaan peserta didik terhadap bahasa serta budaya daerah.


Ia mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan melalui berbagai mata lomba yang berkaitan dengan bahasa daerah.


"Yang paling penting adalah bagaimana peserta didik dalam perlombaan ini dapat meningkatkan kreativitasnya melalui bahasa dan budaya daerah," katanya.


Rudi juga meminta dewan juri agar tidak hanya melihat kemampuan peserta dari sisi pengetahuan, tetapi juga menggali kreativitas, keterampilan, sikap, dan potensi yang dimiliki masing-masing peserta didik.


Menurutnya, penggunaan bahasa daerah di kalangan anak-anak saat ini menghadapi tantangan karena tidak semua keluarga masih menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari.


Karena itu, FTBI dinilai menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan literasi sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu.


"Lewat perlombaan ini, dengan berbagai macam mata lomba, diharapkan peserta didik bisa lebih mencintai bahasa daerahnya sendiri," ujarnya.


Selain bahasa daerah, Rudi menekankan pentingnya peserta didik menguasai bahasa Indonesia dan bahasa internasional, seperti bahasa Arab maupun bahasa Inggris. Menurutnya, kemampuan berbahasa harus berjalan seimbang dengan pemahaman terhadap budaya, adat, dan tradisi daerah.


Ia menambahkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur juga memiliki program di bidang kebudayaan yang berkaitan dengan peningkatan literasi budaya, termasuk pengenalan cagar budaya, adat dan tradisi daerah.


"Semoga dengan acara FTBI ini, selain mengikuti mata lomba dan meningkatkan kemampuan, anak-anak juga semakin mencintai bahasa daerah atau bahasa ibu, sehingga dalam pergaulan mereka tetap mengenal dan menggunakan bahasa serta tradisi daerahnya," pungkasnya. (red)

Putri Mahkota Victoria tiba di Lombok, disambut tenun Sasak dan minuman rempah

 
Putri Mahkota Victoria tiba di Lombok, disambut tenun Sasak dan minuman rempah

OPSINTB.com - Yang Mulia Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Desiree, tiba di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (5/9/2026). Pewaris takhta Kerajaan Swedia tersebut disambut langsung Gubernur NTB H Lalu Muhamad Iqbal di VIP Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.


Putri Mahkota Victoria tiba didampingi Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Wamen PPN/Wakil Kepala Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard, beserta rombongan.


Gubernur NTB menyampaikan ucapan selamat datang kepada Putri Mahkota Victoria dan rombongan. Penyambutan berlangsung hangat dan penuh penghormatan, sekaligus menjadi kesempatan bagi NTB untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada tamu kehormatan dari Kerajaan Swedia tersebut.


Penyambutan ditandai dengan pengalungan kain tenun khas Sasak Lombok oleh Gubernur NTB kepada Putri Mahkota Victoria. Tenun Sasak menjadi simbol penghormatan sekaligus representasi identitas budaya Lombok yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Sebagai bagian dari keramahan khas NTB, Yang Mulia Putri Mahkota Victoria juga disambut dengan welcome drink berupa minuman khas Sasak Lombok. Penyajian minuman tradisional tersebut menjadi bagian dari local hospitality, sekaligus memperkenalkan cita rasa dan kekayaan kuliner lokal kepada tamu kehormatan sejak pertama kali tiba di NTB.


Momen welcome drink kemudian berlangsung dalam suasana yang hangat dan cair. Gubernur NTB memperkenalkan minuman tersebut sekaligus menggambarkan Lombok dengan cara yang sederhana namun penuh makna.


“Karena Anda sekarang sudah tiba di Surga Rempah-Rempah, izinkan kami menyuguhkan minuman herbal sebagai8 minuman penyambutan,” ujar Gubernur kepada Putri Mahkota Victoria.


“Terima kasih,” jawab Putri Mahkota Victoria.


Gubernur kemudian menanyakan perjalanan Putri Mahkota menuju Lombok.


“Bagaimana penerbangan Anda?”


“Baik. Terorganisir dengan baik,” jawab Putri Mahkota.


Dalam suasana yang semakin akrab, Gubernur kemudian menunjukkan antusiasme media NTB yang sejak sehari sebelumnya telah memberitakan dan menginformasikan kedatangan Putri Mahkota Victoria.


“Saya ingin menunjukkan kepada Anda betapa sibuknya media kami memberitakan dan menginformasikan tentang Anda sejak kemarin,” kata Gubernur.


Keduanya kemudian minum bersama sebagai bagian dari rangkaian penyambutan.


Usai mencicipi minuman tersebut, Putri Mahkota Victoria memberikan respons spontan.


“Hmm,” ujarnya.


Gubernur kemudian menjelaskan komposisi minuman herbal yang disajikan.


“Ini adalah minuman herbal, perpaduan dari setidaknya 11 jenis rempah yang berbeda. Semoga minuman ini dapat menyegarkan dan menguatkan Anda sebelum memulai kunjungan lapangan,” jelas Gubernur.


Putri Mahkota Victoria kemudian tersenyum dan memberikan apresiasinya.


“Enak!” ujar Putri Mahkota.


Percakapan singkat tersebut menciptakan suasana penyambutan yang lebih personal. Di balik seremoni resmi, terdapat pesan budaya yang ingin disampaikan NTB: bahwa keramahan kepada tamu tidak hanya hadir dalam bentuk penghormatan formal, tetapi juga melalui budaya, cita rasa, dan tradisi masyarakat.


Kunjungan Putri Mahkota Victoria ke Lombok menjadi momentum penting bagi NTB untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus memperlihatkan berbagai inisiatif pembangunan yang berkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.


Putri Mahkota Victoria menjalankan peran sebagai Goodwill Ambassador UNDP untuk Pembangunan Berkelanjutan. Dalam kapasitas tersebut, kunjungannya ke NTB menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung berbagai pengalaman dan praktik pembangunan berkelanjutan di Lombok, sekaligus bertemu dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan yang terlibat.


Gubernur NTB menyampaikan rasa hormat dan kebahagiaan atas kunjungan tersebut. Ia berharap kunjungan Putri Mahkota Victoria dapat memberikan pengalaman yang berkesan mengenai Lombok dan NTB, sekaligus membuka ruang bagi hubungan dan kerja sama yang semakin erat pada masa mendatang.


Putri Mahkota Victoria juga mengungkapkan kegembiraannya dapat berkunjung ke Lombok. Ia menyampaikan bahwa dirinya sangat senang dengan kunjungan kali ini dan menikmati kesempatan untuk mengenal Lombok secara lebih dekat.


Dari pengalungan kain tenun Sasak hingga secangkir minuman herbal yang dinikmati bersama, penyambutan Putri Mahkota Victoria menjadi gambaran kecil tentang cara Lombok memperkenalkan dirinya kepada dunia: melalui budaya yang hidup, kekayaan rempah, dan keramahan masyarakatnya.


Setelah rangkaian penyambutan di bandara, Putri Mahkota Victoria bersama rombongan melanjutkan agenda kunjungan lapangan di Lombok. (red)

03/09/26

BPBD Lombok Timur intensifkan dropping air bersih, tiga kecamatan terdampak kekeringan

 
BPBD Lombok Timur intensifkan dropping air bersih, tiga kecamatan terdampak kekeringan

OPSINTB.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur, terus mengintensifkan pendistribusian air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.


Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, mengatakan sejumlah wilayah yang masih membutuhkan pasokan air bersih di antaranya Jerowaru, Serewe, Sekaroh dan Desa Perigi. Pendistribusian dilakukan berdasarkan pemetaan serta laporan kebutuhan dari masyarakat di wilayah terdampak.


"Berkaitan dengan itu, kita langsung melakukan dropping air bersih di tempat-tempat yang sudah kita petakan," ucap Lalu Mulyadi, Kamis (3/9/2026).


Dalam penyaluran air bersih tersebut, BPBD Lombok Timur tidak bekerja sendiri. Pemerintah daerah berkolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta sejumlah komunitas, termasuk MMI, untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.


Mulyadi menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum menaikkan status penanganan ke level tanggap darurat. Hal itu karena laporan mengenai kekeringan yang membutuhkan penanganan masih berasal dari wilayah tertentu.


Meski demikian, distribusi air bersih tetap dilakukan secara rutin. Penyaluran umumnya dilakukan dua kali dalam sepekan dan dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali dalam seminggu, menyesuaikan tingkat kebutuhan masyarakat.


"Yang dulu di Kecamatan Jerowaru hampir 14 desa membutuhkan air bersih, sekarang tinggal dua desa. Sehingga kita tetap melakukan penyaluran, tidak setiap hari, tetapi dua kali seminggu atau bisa jadi dua sampai tiga kali seminggu sesuai kebutuhan," jelasnya.


Menurut Mulyadi, terdapat sejumlah dusun yang menjadi perhatian khusus karena kebutuhan air bersihnya cukup tinggi.


Untuk wilayah yang sangat membutuhkan, BPBD tetap melakukan dropping meskipun tidak ada laporan baru dari pemerintah desa maupun masyarakat.


"Walaupun tidak ada laporan, kalau memang dusun tersebut sangat membutuhkan, dua kali seminggu atau tiga kali seminggu tetap kita dorong mobil kebutuhan air bersih," katanya.


Saat ini, lanjut Mulyadi, laporan kekeringan yang masuk ke BPBD Lombok Timur berasal dari sekitar tiga kecamatan dengan jumlah kurang lebih 30 desa. Wilayah-wilayah tersebut kemudian menjadi sasaran pendistribusian air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.


BPBD Lombok Timur memastikan penanganan akan terus dilakukan dengan mengedepankan koordinasi lintas instansi agar kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap terpenuhi selama musim kekeringan. (zaa)

Komisi IV DPR RI kunjungi Lombok Timur, Bupati Iron ungkap sejumlah kendala budidaya lobster

 
Komisi IV DPR RI kunjungi Lombok Timur, Bupati Iron ungkap sejumlah kendala budidaya lobster

OPSINTB.com - Budidaya lobster di Kabupaten Lombok Timur masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki nelayan pembudidaya, mulai dari keramba jaring apung (KJA) yang masih sederhana hingga minimnya fasilitas penyimpanan pakan.


Hal tersebut disampaikan Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI yang dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto di Instalasi Telong-Elong, Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok, Kamis (3/9/2026).


Bupati mengatakan, kondisi KJA yang digunakan para pembudidaya lobster di Lombok Timur masih sangat sederhana. Selain itu, nelayan juga menghadapi keterbatasan freezer yang dibutuhkan untuk menyimpan pakan lobster.


“Di samping KJA yang sederhana itu, juga mereka sangat-sangat kekurangan yang namanya freezer, tempat mereka menyimpan makanan dari lobster itu sendiri. Hampir tidak ada yang mereka punya. Ini yang menjadi persoalan yang selalu dihadapi dari tahun ke tahun,” ungkap Haerul Warisin.


Tidak hanya sarana, lanjutnya, ketersediaan benih lobster juga masih menjadi persoalan yang dihadapi pembudidaya. Kondisi tersebut dinilai turut menghambat pengembangan budidaya lobster di daerah tersebut.


Menurut Haerul, nelayan di Lombok Timur masih menjadi salah satu kelompok masyarakat yang tergolong miskin, selain buruh tani. Karena itu, ia berharap kunjungan Komisi IV DPR RI dapat menghasilkan bantuan maupun solusi konkret bagi masyarakat, khususnya yang berada di wilayah selatan Lombok Timur.


Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengatakan, kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk menyerap aspirasi dan memperoleh masukan secara langsung dari nelayan penangkap Benih Bening Lobster (BBL), pembudidaya lobster, pelaku usaha, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan.


Masukan tersebut nantinya akan menjadi bahan Panitia Kerja (Panja) Komisi IV DPR RI dalam merumuskan rekomendasi kebijakan tata kelola BBL serta strategi percepatan pengembangan budidaya lobster nasional.


Titiek Soeharto, sapaan Siti Hediati Soeharto, menyebut persoalan penyelundupan BBL yang masih terjadi juga menjadi perhatian. Menurutnya, penyelundupan menyebabkan kerugian bagi negara maupun nelayan karena harga BBL di luar negeri jauh lebih tinggi dibandingkan harga di dalam negeri.


Di sisi lain, kemampuan budidaya lobster nasional dinilai masih belum optimal. Karena itu, Komisi IV DPR RI berharap Indonesia tidak hanya menjadi pemasok BBL, tetapi mampu berkembang menjadi salah satu produsen utama lobster hasil budidaya di dunia.


Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan untuk mewujudkan target tersebut, seperti keterbatasan teknologi, rendahnya tingkat kelangsungan hidup lobster, keterbatasan sarana dan prasarana, akses permodalan, serta masa budidaya yang relatif lama.


“Akselerasi budidaya lobster tidak dapat dilakukan setengah-setengah. Pemerintah harus membangun ekosistem budidaya berbasis segmentasi, mulai dari ketersediaan benih, teknologi pendederan, pembesaran, pakan, sarana KJA, permodalan, kelembagaan pembudidaya, sampai dengan kepastian pasar,” tegasnya.


Terkait aspirasi pembukaan ekspor BBL, Titiek mengatakan hal tersebut menjadi salah satu bagian penting yang akan didalami dalam Panja. Pembahasan akan mempertimbangkan pengaturan kuota, keberlanjutan sumber daya, penguatan budidaya nasional, pemanfaatan BBL untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan devisa negara.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para nelayan yang telah menyampaikan berbagai masukan dalam kunjungan tersebut.


Titiek berharap Indonesia ke depan tidak hanya mampu mewujudkan swasembada beras, tetapi juga swasembada protein, termasuk dengan menjadikan Indonesia sebagai salah satu penghasil lobster terbesar di dunia.


Dalam sesi diskusi, sejumlah nelayan turut menyampaikan aspirasi. Persoalan yang disampaikan antara lain keterbatasan akses permodalan, kebutuhan bantuan KJA, ketersediaan pakan, hingga harga lobster yang masih mengalami fluktuasi.


Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri anggota Komisi IV DPR RI, jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Deputi Badan Pangan Nasional, serta jajaran direksi ID Food. (red)

Nyemulaq jadi awal kebangkitan Sade, rekonstruksi rumah adat dimulai

 
Nyemulaq jadi awal kebangkitan Sade, rekonstruksi rumah adat dimulai

OPSINTB.com - Masyarakat Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Loteng mulai menata kembali kehidupan pascakebakaran yang melanda kawasan adat tersebut. Prosesi adat Nyemulaq atau Tanjek Teken pada Kamis (3/9/2026) menjadi tanda dimulainya rekonstruksi rumah adat, masjid, dan fasilitas yang terdampak.


Prosesi yang digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu menjadi simbol kebangkitan masyarakat Sasak Sade untuk bangkit dan menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.


Bupati Loteng H L Pathul Bahri, mengatakan Nyemulaq bukan hanya ritual adat, tetapi menjadi momentum awal pemulihan Kampung Adat Sade.


''Pembangunan rumah di Kampung Adat Sade dimulai hari ini. Pemerintah daerah akan terus mendampingi proses rekonstruksi agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sebelumnya,'' ujar Pathul.


Ia menegaskan proses pembangunan harus dilakukan secara terbuka dan melibatkan seluruh pihak agar hasil rekonstruksi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sementara itu, Gubernur NTB H Lalu Muhamad Iqbal, meminta proses pembangunan dilakukan secara matang. Menurutnya, rekonstruksi Sade bukan hanya membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi menghidupkan kembali nilai sejarah, adat, dan budaya Sasak.


''Yang kita bangun bukan hanya bangunan, tetapi kembali membangun peradaban. Karena itu harus tetap menjaga nilai awal Sade,'' katanya.


Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, H Lalu Mohammad Faozal, menjelaskan Nyemulaq merupakan hasil kesepakatan bersama masyarakat sebagai awal pembangunan kembali kawasan adat.


Akibat kebakaran, sebanyak 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 art shop terdampak. Rekonstruksi akan dilakukan secara bertahap sesuai perencanaan yang telah disusun.


Dimulainya Nyemulaq menjadi harapan baru bagi masyarakat Sade untuk kembali bangkit, sekaligus memastikan nilai adat dan budaya Sasak tetap terjaga sebagai identitas dan daya tarik wisata Loteng. (wan)

Foto

WISATA

PENDIDIKAN

BUDAYA

EKONOMI

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama