OPSINTB.com | News References

Headline

Politik

Hukum

Nasional

13/04/26

Perang total lawan pinjaman ilegal dan judi online

 
Perang total lawan pinjaman ilegal dan judi online

OPSINTB.com - Pemprov NTB bersama DPRD NTB mendorong percepatan pembentukan regulasi daerah untuk melindungi masyarakat dari maraknya pinjaman ilegal berbasis teknologi informasi dan judi online yang kian masif dan berdampak luas.


Dorongan tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Fasilitasi Pencegahan dan Penanggulangan terhadap Pinjaman atau Pendanaan Berbasis Teknologi Informasi Secara Ilegal dan Judi Online yang digelar di Aruna Senggigi Resort & Convention, Senin (13/4/2026).


FGD yang diselenggarakan oleh DPRD Provinsi NTB ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Akademisi Unram Muhammad Risnain, Azhar, serta Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik.


Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh perwakilan Polda NTB, anggota DPRD NTB, aktivis sosial, serta perwakilan pemerintah kabupaten/kota dari berbagai perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Komunikasi Informatika kabupaten/kota se-NTB, sebagai bentuk keterlibatan lintas sektor dalam penanganan isu yang bersifat kompleks dan multidimensi.


Dalam paparannya, Ahsanul Khalik yang akrab disapa Aka, menegaskan bahwa pinjaman ilegal dan judi online tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan sporadis, melainkan telah berkembang menjadi masalah sistemik yang mengancam stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.


“Ini bukan sekedar isu digital. Ini adalah isu perlindungan masyarakat dan masa depan daerah. Jika tidak segera diintervensi, kita berpotensi menghadapi krisis sosial-ekonomi baru di NTB,” tegasnya.


Ia mengungkapkan, praktik pinjaman ilegal di NTB menunjukkan tren peningkatan signifikan, dengan korban yang didominasi masyarakat berpenghasilan rendah, pelaku UMKM, serta generasi muda. 


Di sisi lain, judi online berkembang secara adaptif melalui berbagai platform digital, termasuk media sosial dan aplikasi pesan instan.


Dampaknya, lanjut Aka, tidak hanya terbatas pada persoalan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial yang lebih luas, seperti konflik keluarga, penyalahgunaan data pribadi, hingga menurunnya produktivitas masyarakat.


Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya kehadiran pemerintah daerah secara lebih sistematis melalui regulasi yang kuat.


“Regulasi nasional sudah tersedia, tetapi belum cukup efektif tanpa penguatan di tingkat daerah. Karena itu, Ranperda ini menjadi instrumen penting agar negara benar-benar hadir melindungi masyarakat,” ujarnya.


Aka juga menegaskan peran strategis Pemerintah Provinsi NTB dalam penanganan isu ini, yakni sebagai fasilitator, integrator, dan akselerator.


Sebagai fasilitator, pemerintah diharapkan mampu menyediakan sistem pengaduan yang mudah diakses serta informasi yang akurat bagi masyarakat. Sebagai integrator, pemerintah harus menyatukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu sistem penanganan terpadu. Sementara sebagai akselerator, pemerintah dituntut mempercepat edukasi dan intervensi agar dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.


Lebih lanjut, Diskominfotik NTB diposisikan sebagai pusat kendali (command center) dalam perlindungan ruang digital daerah, dengan peran utama dalam monitoring konten, koordinasi pemblokiran, penyediaan informasi publik, serta pengembangan sistem pengaduan terpadu.


Sementara itu, Wakil Ketua Bapemperda DPRD NTB, Azhar, menegaskan bahwa Ranperda ini merupakan langkah strategis dalam menjawab keresahan masyarakat yang semakin meningkat.


“Ranperda ini diharapkan menjadi dasar hukum yang kuat agar penanganan tidak lagi parsial, tetapi terintegrasi dan memberikan perlindungan nyata kepada masyarakat,” ujarnya.


Senada dengan itu, akademisi Fakultas Hukum Universitas Mataram, Muhammad Risnain, menekankan pentingnya pendekatan regulasi yang tidak hanya bersifat represif, tetapi juga preventif melalui penguatan literasi digital dan perlindungan masyarakat.


FGD ini juga menyoroti perlunya model intervensi terintegrasi yang mencakup lima pilar utama, yaitu penguatan regulasi daerah, pembentukan satgas terpadu, literasi digital massal, sistem pengaduan yang efektif, serta intervensi ekonomi bagi masyarakat rentan.


Ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal dan Judi Online. Inisiatif ini dinilai sebagai manuver konstitusional yang berani dan berpotensi menjadi regulasi daerah pertama di Indonesia yang secara spesifik menangani kejahatan keuangan digital.


"Kita sedang menghadapi pergeseran pola kejahatan. Dulu judi dan utang rentenir ada lapak fisiknya, sekarang semuanya invisible atau tidak kasat mata, terjadi di dalam genggaman tangan dan ruang privat. Dampak destruktifnya sangat nyata: lonjakan angka perceraian secara tiba-tiba, aset keluarga melayang tanpa kontrol, hingga tekanan psikologis dan ekonomi ekstrem yang memicu tindakan fatal," ujar Dr. Risnain.


Melalui forum ini, diharapkan Ranperda yang tengah disusun dapat segera disahkan dan diimplementasikan secara efektif, sehingga mampu menghadirkan perlindungan nyata bagi masyarakat NTB dari ancaman pinjaman ilegal dan judi online.


“Ini bukan sekedar regulasi, tetapi langkah strategis untuk memastikan negara hadir di tengah masyarakat. Dan ini harus kita mulai sekarang,” tutup Aka. (red)

Gagal di perantauan, pulang sukses jadi petani anggur dan melon

 
Gagal di perantauan, pulang sukses jadi petani anggur dan melon

OPSINTB.com - Tidak semua orang berhasil merantau. Kadang harus pulang dengan tangan hampa atau bahkan balik kampung hanya nama. 


Belum lagi, kehidupan di perantauan tidak begitu enak. Rasa dahaga, lapar, sakit mereka harus rasakan. 


Di lain sisi, jika gagal tak hanya tidak membawa uang. Tapi juga harus kuat jadi buah bibir tetangga.


Seperti yang dialami Husni Mubarak, pulang tanpa hasil. Sesampai di kampung halaman ia harus merasakan lagi sulitnya ekonomi lantaran gempuran virus Corona 19 (Covid 19).


Saat situasi sulit itu, dirinya mengambil langkah berani. Husni Mubarak, justru terfikir menjadi petani.


Laki-laki Desa Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB) ini justru mengembangkan usaha pembibitan anggur dan bertani melon.


Kini, usaha yang dimulai tahun 2019 lalu menjadi salah satu lokasi wisata pilihan. Pengunjung di tempat itu bisa memetik buah anggur dan melon secara langsung. 


Dalam kondisi tanpa modal, ia mulai mencari peluang lewat media sosial. Ketertarikannya pada tanaman anggur menjadi titik balik kehidupannya.


Ia memulai dengan menjual bibit anggur lokal dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Dari hasil kecil itu, ia mulai mengembangkan usaha dengan membeli varietas anggur impor.


"Di sinilah saya mulai belajar teknik grafting atau sambung pucuk untuk memperbanyak bibit," kata Husni Mubarak, saat ditemui opsintb.com, Minggu ( 12/04/2026).


Percobaan awalnya tidak langsung berhasil. Dari 200 sambungan, hanya 6 yang hidup. Namun justru dari itulah usaha mulai berkembang.


"Enam itu jadi modal, dan ternyata pasarnya bagus," katanya.


Harga bibit pun terus meningkat. Dari Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu, bahkan ada varietas baru yang mencapai Rp 1 juta per bibit. Dari hasil penjualan bibit anggur, Husni berhasil membangun greenhouse dan memperluas usahanya.


Awalnya, ia hanya fokus pada pembibitan, bukan produksi buah. Namun seiring waktu, permintaan bibit mulai menurun. Dirinya pun mencoba beralih ke produksi buah anggur.


Tak disangka, pasar buah justru lebih menjanjikan. Dengan promosi sederhana melalui media sosial, pembeli mulai berdatangan.


Kini, konsep wisata petik anggur yang ia jalankan justru kewalahan memenuhi permintaan.


"Buah malah kurang, kadang harus dipesan dulu," ujarnya.


Melihat peluang yang lebih luas, Husni kemudian mencoba menanam melon. Hasilnya bahkan lebih menjanjikan dibanding anggur.


Menurutnya, melon lebih diminati karena harganya lebih terjangkau. Dengan berat rata-rata 1,2 kilogram, satu buah melon bisa dibeli berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu.


"Kalau anggur kan mahal, Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per kilo. Kalau melon lebih terjangkau untuk semua kalangan," jelasnya.


Dari manajemen justru dirinya menerapkan strategi unik dengan membuahkan dua melon dalam satu tanaman agar pengunjung bisa membeli lebih dari satu varian.


Saat ini, terdapat empat varietas utama melon yang ditanam, seperti lavender, sweet honey, dan beberapa jenis lainnya. 


Sedangkan anggur total varietas yang ditanam mencapai sekitar sepuluh jenis, termasuk Santi, Erli, Adora, Jupiter, Trans, Julian, Akademik, Gosbi, Epres, dan Retros.


Konsep wisata petik sendiri menjadi daya tarik utama. Pengunjung bisa langsung memilih dan memetik buah yang diinginkan.


"Populasi 222 tanaman saja bisa habis setengah hari kalau ramai," ungkapnya.


Pengunjung datang dari berbagai daerah, mulai dari Mataram, Lombok Tengah, hingga Lombok Utara. Bahkan ada yang rela datang jauh hanya untuk merasakan pengalaman petik buah langsung di kebun.


"Dari KLU datang ke sini, beli 10 sampai 12 kilo," terangnya.


Meski begitu, tidak semua pengunjung membeli dalam jumlah besar. Banyak juga yang hanya membeli satu atau dua buah.


Untuk edukasi, Husni hanya memberikan arahan sederhana terkait tingkat kematangan buah saat dipetik.


Perjalanan usahanya tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari lingkungan sekitar.


Banyak orang yang meragukan pilihannya. Bahkan sampai orang tuanya sendiri.


"Dulu banyak yang bilang ngapain tanam begini, nggak bisa dijual. Dibilang ini kerjaan orang gila," tuturnya sambil tersenyum.


Namun ia tetap melanjutkan usahanya dengan tekad kuat. Seiring waktu, hasil yang terlihat membuat orang-orang di sekitarnya mulai mendukung, bahkan memberikan lahan untuk dikembangkan.


Menurut Husni, tantangan utama dalam memulai usaha hanyalah dua hal yakni modal dan cibiran orang.


Ia mengakui, keberhasilannya tidak lepas dari proses belajar. Dengan latar belakang pendidikan SMP, ia aktif berdiskusi dengan sesama petani, baik secara langsung maupun melalui media sosial.


"Saya nggak malu untuk nanya,” ungkapnya.


Dalam satu kali panen anggur, ia bisa meraih keuntungan bersih sekitar Rp 30 juta dengan masa panen enam bulan.


Sementara melon, dengan masa panen sekitar dua hingga tiga bulan, awalnya hanya menghasilkan Rp 5 juta karena masih tahap belajar.


Kini, usahanya terus berkembang, membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba dan konsistensi dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang. (zaa)

Musrenbang RKPD 2027, Bupati Pathul: Angka kemiskinan menurun

 
Musrenbang RKPD 2027, Bupati Pathul: Angka kemiskinan menurun

OPSINTB.com - Bupati Lombok Tengah (Loteng), H Lalu Pathul Bahri mengatakan, angka kemiskinan di Loteng turun dari 13,44 persen pada 2021 menjadi 10,68 persen pada 2025.


‘’Terakhir kita berada di posisi 10,68 persen. Dan saya ucapkan apresiasi dan terimakasih kepada seluruh elemen masyarakat, karena ini bukan saja hasil Bupati dan Wakil Bupati, tapi ini adalah hasil kerja bareng keluarga masyarakat Loteng,’’ kata Bupati dalam Musrenbang RKPD 2027 beberapa pekan lalu.


Pathul tidak menafikan bahwa penyumbang terbesar angka kemiskinan berasal dari sektor pertanian. Kendati berbicara produk beras hasil petani tinggi, tetapi hal itu tidak mampu mengejar angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).


‘’Posisi terbaru Rp23 triliun. Kalau produk pertanian kita ya kita akuilah, tetapi perlu kerja-kerja yang lain seperti pabrik untuk mengolah hasil pertanian,’’ katanya.


Bupati membeberkan penyebab petani di Loteng masih masuk desil 1 dan desil 2 atau kategori miskin. Dia berujar, harga gabah yang rendah menjadi salah satu penyebab. Kendati harganya melonjak setahun belakangan, namun tidak secara signifikan mengangkat langsung perekonomian masyarakat petani.


‘’Baru tahun kemarin harga gabah naik di posisi Rp6.000/kg dan sekarang menjadi Rp6.500/kg. Mudah-mudahan ke depan semakin baik, sehingga bisa memberikan daya dorong pergerakan ekonomi di level bawah,’’ harap Miq Hul.


Kabar baiknya, Pathul melanjutkan, angka di atas adalah angka di bawah rata provinsi. Adapun solusi untuk peningkatan PDRB, menurut dia adalah dengan menggabungkan seluruh sektor peningkatan ekonomi di Loteng.


‘’Misalnya selain hasil pertanian meningkat, harga gabah tinggi, dari sektor pariwisata juga harus ikut ditingkatkan,’’ dia mencontohkan.


Penurunan angka kemiskinan hingga 10 persen diklaim sebagai hasil sinergi lintas sektor. Dia menekankan pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi dengan DPRD, TNI, Polri dan masyarakat. (iwn)

Kisah keuletan Rasip, tumbuhkan kopi di tanah kering selatan Lombok Tengah

 
Kisah keuletan Rasip, tumbuhkan kopi di tanah kering selatan Lombok Tengah

OPSINTB.com - Pernahkah Anda bayangkan kopi bisa tumbuh di dataran rendah dengan suhu yang sangat panas? Barangkali di benak Anda; jauh panggang dari api.


Namun, berkat keuletan laki-laki ini, kopi tumbuh dengan subur dan sekarang telah mulai dipanen. Rasip (60), asal Dusun Kadik 2, Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah telah mulai menanam kopi di kebunnya sejak empat tahun lalu.


Sebelum ratusan batang tanaman kopi tersebut tumbuh subur, Rasip telah menanam berbagai varietas tanaman lain, seperti pepaya, pisang, singkong, dan lain-lain. Tetapi, belum membuahkan hasil yang memuaskan.


‘’Saya kemudian membeli bibit kopi dan mulai menanam. Sekarang alhamdulilah hasilnya cukup memuaskan,’’ kata Rasip, Senin (13/4/2026).


Di lahan seluas 12 are itu, Rasip menanam 300 pohon. Panen kali ini, kata Rasip, adalah dengan hasil terbanyak. Di usianya yang sudah kepala enam, Rasip yang sejak remaja telah menumbuhkan kecintaannya di dunia pertanian selalu mencoba hal-hal baru, termasuk bisa menumbuhkan kopi Arabika, yang saat itu belum banyak dibudidayakan di wilayah selatan dan panas.


Selain menanam kopi, Rasip juga menyediakan bibit kopi jenis Arabika bagi para petani yang ingin mengikuti jejaknya.


‘’Berbagai inovasi dan rekayasa lingkungan telah saya coba lakukan, sehingga alhamdulilah panen kali ini lebih membuahkan hasil,’’ ujarnya.


Kepala desa setempat, Ahmad Zaini mengapresiasi kegigihan Rasip. Menurutnya, Desa Segala Anyar memiliki banyak potensi pertanian yang sangat strategis, terutama karena karakteristik lahan yang didominasi lahan kering dan tadah hujan.


‘’Petani-petani kami mengoptimalkan lahan tadah hujan dengan menanam berbagai komoditas, salah satunya yang dikembangkan oleh Amaq Rasip, dengan sukses menanam kopi,’’ kata Zaini.


Dia melanjutkan, di lahan yang terbatas dan tantangan keterbatasan air, Rasip bisa membuktikan bahwa kerja kerasnya telah membuahkan hasil.


Dengan potensi besar dalam pengembangan pertanian berkelanjutan, pihak desa melalui bumdes dan kelompok petani muda berikhtiar mengembangkan pupuk organik dari kohe (kotoran hewan) yang bahannya bisa diambil dari desa tersebut.


Selain itu, pihaknya juga telah menjalin kerjasama dengan Wakai Farm Jepang untuk mengembangkan budidaya sayuran organik.


‘’Dan ada rencana Wakai Farm untuk membangun greenhouse untuk mendukung upaya pengembangan tersebut,’’ pungkas Zaini. (wan)

Foto

WISATA

PENDIDIKAN

BUDAYA

EKONOMI

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama