OPSINTB.com - Hampir dua pekan gas LPG 3 kg mengalami kelangkaan. Tak hanya sulit didapati, harganya pun meroket di pasaran mulai Rp 25 hingga 40 ribu per tong.
Langkanya tong melon ini membuat ibu rumah tangga menggerutu. Kendati demikian, mereka sanggup mengantri hanya untuk mendapatinya, sampai-sampai dilaporkan ada yang pingsan.
Sulitnya mendapati tong melon, direspon oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dengan cara menambah kuota.
Sekretaris Daerah Lombok Timur, HM Juaini Taofik mengatakan, pemerintah akan memastikan adanya penambahan kuota LPG 3 kg (gas melon) guna mengatasi kelangkaan yang terjadi di sejumlah wilayah di Gumi Patuh Karya ini.
Ia menjelaskan, berdasarkan surat dari Bupati Lombok Timur, kuota harian yang sebelumnya sekitar 35 ribu tabung kini mendapat tambahan sebanyak 24.490 tabung dalam minggu ini.
“Mulai sore ini akan ada penebalan kuota. Ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang sempat mengalami antrean panjang,” ucap Sekda Lotim, H Muhammad Juaini Taofik, Senin (6/4/2026).
Dikatakannya, tahap awal pemerintah bakal fokus distribusi di wilayah prioritas di empat kecamatan yang dinilai paling membutuhkan, yakni Pringgasela, Lenek, Aikmel, dan Wanasaba.
Pria yang karib disapa Ofik ini menerangkan, langkah ini diambil berdasarkan laporan kondisi dilapangan, termasuk antrean panjang yang sempat terjadi di wilayah Aikmel.
“Besok akan kita upayakan merata ke seluruh pangkalan,” katanya.
Distribusi melalui pangkalan resmi, kata dia, penyaluran tambahan LPG difokuskan ke pangkalan resmi, bukan pengecer. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan memudahkan pengawasan.
Saat ini, Lombok Timur memiliki sekitar 770 pangkalan resmi yang berada di bawah pengawasan pemerintah.
“Kalau kita distribusikan ke pengecer, kita tidak bisa mengontrol harga. Sementara pangkalan memiliki izin resmi dan bisa diawasi,” jelasnya.
Di lapangan, harga LPG 3 kg dilaporkan bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per tabung, bahkan sempat menyentuh Rp30 ribu di beberapa wilayah.
Pemerintah daerah mengakui pengawasan harga hanya bisa dilakukan hingga tingkat pangkalan, sementara distribusi ke pengecer berada di luar kendali langsung.
Untuk itu kata Pemkab Lotim, berencana akan membentuk satuan tugas (satgas) yang melibatkan dinas perizinan dan Satpol PP guna mengawasi praktik penjualan di atas harga eceran tertinggi (HET).
“Jika ada pangkalan menjual di atas ketentuan, izinnya bisa kita evaluasi,” tegasnya.
Sekda tak menapikan adanya kemungkinan panic buying serta penimbunan sebagai penyebab kelangkaan.
Menurutnya, peningkatan konsumsi tidak sepenuhnya wajar jika dibandingkan dengan kondisi saat lebaran sebelumnya.
“Kalau banyak masyarakat membeli melebihi kebutuhan, otomatis jatah yang lain berkurang. Ini yang harus kita kendalikan bersama,” terangnya.
Dirinya mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan agar distribusi LPG tetap merata.
Dengan tambahan pasokan yang telah disetujui, diharapkan kondisi kembali normal dalam waktu dekat.
“Kami mohon masyarakat tidak panik. Distribusi sudah diatur secara bertahap dan tambahan kuota ini diharapkan mencukupi kebutuhan,” tutupnya. (zaa)







follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami