
OPSINTB.com - Perusahaan Umum Badan Logistik Nasional (Perum Bulog) kembali terlibat melakukan intervensi terhadap persoalan gizi dan stunting, melalui program Bulog Peduli Gizi. Agenda itu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan badan usaha milik negara tersebut.
Kegiatan yang dipusatkan di Kantor Gudang Perum Bulog Sakra, itu melibatkan Dinas Kesehatan Lombok Timur, jajaran Posyandu, serta tim dokter dari Universitas Trisakti.
Sekretaris Perusahaan Umum Bulog, Dhana Putra Prasetya mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari kegiatan TJSL Bulog yang dilaksanakan secara rutin di sejumlah daerah di Indonesia.
Di Lombok Timur, kata dia, program tersebut menyasar sekitar 155 balita yang mengalami persoalan gizi, mulai dari stunting, wasting hingga underweight.
"Penanganan persoalan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua. Dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat agar intervensi yang dilakukan dapat memberikan hasil maksimal," ujar Dhana Putra Prasetya, Kamis (10/9/2026).
Dhana menegaskan, program Bulog Peduli Gizi tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan makanan seperti beras dan susu. Namun, dirancang sebagai pendampingan selama tiga bulan, dengan memberikan edukasi kepada orang tua maupun pengasuh balita mengenai pemenuhan gizi dan pemantauan kesehatan anak.
Selama periode tersebut, para balita akan mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Orang tua juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemberian gizi yang tepat serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.
"Kalau menyelesaikan masalah stunting sebetulnya tidak hanya bergantung pada asupan gizinya," jelas Dhana.
Ia menilai, kecukupan asupan gizi tidak akan cukup apabila terdapat kondisi kesehatan tertentu pada balita yang tidak terdeteksi atau tidak ditangani.
Karena itu, edukasi mengenai kesehatan menjadi bagian penting dalam program tersebut. Orang tua diharapkan mampu memantau perkembangan anak dari bulan ke bulan sehingga setiap persoalan kesehatan dapat diketahui lebih dini.
"Kalau asupan gizinya cukup pun, apabila terdapat kondisi kesehatan dari para balita yang tidak diselesaikan dan tidak terdeteksi, itu juga bisa menjadi salah satu penyebab stunting dan underweight," bebernya
Bulog berharap pendampingan selama tiga bulan tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi mampu membentuk kebiasaan baru dalam pola pengasuhan, pemenuhan gizi dan pemantauan kesehatan balita.
Setelah periode pendampingan selesai, Bulog berencana kembali ke Lombok Timur untuk melihat perkembangan dan hasil intervensi yang telah dilakukan.
Lanjut Dhana, pemilihan Desa Sakra sebagai lokasi program bukan dilakukan secara tiba-tiba. Sebelumnya, Bulog melakukan survei terhadap sejumlah wilayah untuk menentukan lokasi yang membutuhkan intervensi.
Dari hasil survei tersebut, Desa Sakra dinilai sebagai salah satu wilayah dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi.
Selain persoalan prevalensi stunting, lokasi tersebut juga berada di sekitar area operasional Bulog. Karena itu, masyarakat di sekitar Gudang Bulog Sakra menjadi sasaran awal program.
"Kita ingin menyebarkan manfaat dari yang terdekat dari kita. Di mana Bulog berada, ring satu dari tempat kita beroperasi itu juga bisa tertangani dengan baik,"ujarnya.
Konsep tersebut, kata Dhana, memungkinkan manfaat program diperluas secara bertahap. Setelah wilayah ring satu mendapatkan intervensi dan dinilai tertangani, cakupan program dapat diperluas ke wilayah ring dua, ring tiga dan seterusnya.
Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Lombok Timur, Muhammad Hairi, menyampaikan apresiasi kepada Perum Bulog yang turut mengambil bagian dalam upaya pemerintah menekan angka stunting.
Menurutnya, persoalan stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Pemda sangat berterima kasih kepada semua BUMN yang peduli terhadap stunting. Kali ini Perum Bulog, alhamdulillah, bisa mengambil bagian dalam kegiatan ini," tutur Hairi.
Ia menilai, anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan berisiko menghadapi berbagai persoalan dalam perkembangan fisik maupun intelektual.
Karena itu, menurut Hairi, investasi terbesar dalam pembangunan daerah bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memastikan generasi yang tumbuh memiliki kualitas kesehatan dan pendidikan yang baik.
"Kita harus meninggalkan generasi yang cerdas untuk membangun Lombok Timur dari hari ke hari menjadi lebih baik," pungkasnya. (zaa)





follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami