Foto: Dua bule sedang nyiong (sangrai) kopi khas Lombok Timur menggunakan wajan tanah liat yang disebut kete. Kopi ini dinamakan “Kopi Siong Kete”. (istimewa)
OPSINTB.com - ‘Hidup segan mati tak mau’. Begitulah kondisi pariwisata Lombok Timur. Bagaimana tidak, di tengah musim high season kabarnya pun jarang terdengar atau mungkin saja sengaja dilupakan. Padahal Lombok Timur tak kekurangan destinasi yang harus dikunjungi, penginapan juga cukup, tempat kuliner hingga lokasi penjual cindra mata juga tak kalah banyak. Namun tetap saja nafas pariwsiata di Gumi Patuh Karya seperti sengau.
"Kita tidak kekurangan destinasi, penginapan puluhan bahkan bisa mengentuh seratus setiap tahunnya juga bertambah, hanya kita kurang inovasi," kata salah seorang pelaku pariwisata Lotim, Yogi Birrul Walid Sugandi, ditemui opsintb.com di tengah kesibukannya belum lama ini.
Tak hanya monotonnya destinasi, tapi juga atraksi wisata pun mengalami stagnasi, tidak ada inovasi. Terlebih belakangan, pelaku wisata cukup susah mendapatkan tamu asing.
Menurutnya, faktor utamanya ialah perang antara Iran Amerika yang bersukutu Israel. Lantaran, tamu-tamu khususnya Eropa banyak yang melakuman cancel tiket mereka biasanya satu tahun sebelum berkunjung tiket sudah dipesan.
Dikatakan Yogi, hingga saat ini multiplier effect ekonomk dari sektor ini juga belum bisa dirasakan. Sebab, peranan desa wisata yang dulu-dulu diinisiasi yang diniatkan untuk inovasi desa wisata baru tak berjalan.
Dia mencontohkan di Labuan Haji yang tak memilikk perkembangan apa pun. Termasuk di Ekas misalnya, menjanjikan tata kelola surfing, malah hingga saat ini hilang kabar.
Selanjutnya dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RiParKap), Sembalun dihajatkan menjadi destinasi terpadu juga tidak pernah terwujud. Desa Penakak, Masbagik Timur dan sekitar direncakan sebagai centra kearipan lokal berupa kerajinan malah kembali seperti dulu, pelaku berusaha dan memasarkan hasilnya secara mandiri.
Paling parah di Bukit Kayangan, yang dulunya menjadi salah satu destinasi pilihan hanya tersisa barang ronsokan.
Melalui tim ahli cagar budaya juga tidak berkembang lantaran tidak ada suport. Seharusnya dengan hasil dari TACB menjadikan wisata budaya baru yang bisa dikunjungi, namun karena tak ada dukungan jadi tugasnya hanya penelitian dan seminar.
Jadi, kata Yogi, narasi-narasi tim cagar budaya menjadikan lokasi situs sebagai lokasi kunjungan sebagai wisata edukasi jadi hanya omong kosong.
"Dulu kan kita serius sekali dengan kolaborasi Pemprov, Pemda, kepolisian menginginkan pelayanan seperti di gili malah kembali ke nol,” ungkapnya.
Lain lagi, akademisi Prodi Pariwisata Universitas Hamzanwadi, Qori Bayyinaturrosyi mengatakan, citra wisata Lombok Timur turun drastis. Artinya, dari ambisi orientasi pariwisata sudah hilang.
Menurutnya, secara global perkembangan pariwisata tergantung kebijakan politik. Karena setiap rezim memiliki inti bisnis.
"Zaman Jokowi inti bisnis untuk mendukung APBN adalah pariwisata," kata pria yang karib disapa Qori.
Tak heran pada masa orang Solo itu, pariwisata berada nomor dua setelah pajak sebagai penyumbang APBN terbesar. Misinya seperti membangun sepuluu Bali baru, hingga IKN.
Tapi pada masa Prabowo, pariwisata bukan jadi inti bisnis. Kebijakan itu rentetannya ke daerah, apalagi sistem kebijakan imperatif seperti sekarang ini.
Di daerah khususnya Lombok Timur, orientasi pariwisata pun tidak tergambarkan. Secara simbol, terangnya, pemerintah memiliki perangkatnya namun tak mempunyai kemampuan untuk itu, malah keseringan blunder.
Dia memisalkan seperti kasus pengusiran boatman di tengah laut dan rest area Pusuk, menjadi contoh salah eksekusi karena ketidak pemahaman dalam dunia pariwisata.
Dia mamaparkan sebuah jurnal tahun 2009 hasil riset pusat study pariwisata UGM di 30 kabupaten kota se Indonesia mengenai birokrasi kepariwisataan di setiap daerah.
Dalam jurnal itu, Lombok Timur menempati nomor dua dari bawah setah Papua. Alhasil ada atau tidaknya dinas yang mengurus pariwisata di daerah tidak memberikan apa pun.
"Ada atau tidaknya dinas pariwisata di daerah tidak memberikan kontribusi signifikan bagi sektor pariwisata," ujarnya.
Kemajuan pariwisata di Gumi Patuh Karya, disebabkan oleh peran komunitas bukan dari pemerintahnya. Menurutnya hal itu bisa diukur dari pendapatan Dinas Pariwisata hingga pertengahan semester belum mencapai target. Dari target Rp 600 juta baru mendapat sekitar Rp 150 juta.
Soal kunjungan, sebutnya, saat high season itu pasti meningkat. Begitu juga dengan revisit intention hanya wisatawan lokal, namun bagi mancanegara paling banyak dua kali itu pun jika ada aset atau kolega dan terpengaruh oleh leader pengelola.
Selanjutnya, yang menjadi pekerjaan rumah pariwisata Lombok Timur ialah penghubung antara destinasi dengan pusat seperti kuliner, rest area, hingga pusat belanja untuk cendra mata belum terintegtasi. Kondisi itu disebutnya sering menjadi keluhan wisatawan.
Dia mencontohkan, wisatawan sudah mengatur rute perjalanan seperti ke Pantai Pink atau ke Gili Kondo, tapi hunian hotel harus ke Selong atau tidak ke wilayah Jeruk Manis dan Tetebatu.
"Orang ke selatan harus geser jauh, perjalanan wisatawan kehabisan energi di jalan," ucap Qori.
Dia mengatakan miniatur wisata Lombok Timur hanya di lingkaran Tetebatu dan Jeruk Manis. Sebab, di lokasi itu orang bisa dengan mudah mendapatkan yang dicari.
"Ya, Tetebatu ini miniatur Lombok Timur. Sembalun yang jadi persoalan lama, tinggal wisatawan. Pokoknya pariwisata sudah turun," pungkasnya. (kin)





follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami