OPSINTB.com - Irfan Sohandi, hampir mengubur impian. Pasalnya, cita-cita menempuh pendidikan menengah menemui jalan buntu.
Impiannya itu terhalang kondisi ekonomi. Irfan pun bersiap menjadi pekerja migran demi menyelamatkan keluarganya.
Bagaimana tidak, perjalanan pahit itu dikatakannya sejak masih kecil. Sampai saat Irfan duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Sakra, kondisi ekonomi tak kunjung pulih.
Setelah menyelesaikan ujian akhir semester, justru dihantui kegelisahan tentang masa depannya. Bagaimana tidak keadaan keluarganya sudah pasti tidak mampu membiayai pendidikan ke jenjang berikutnya.
Di umur remaja, Irfan harus memutar otak cara melanjutkan sekolah. Ekonomi keluarga sedang sulit, untuk makan saja susah, apalagi untuk sekolah.
"Mau lanjut mondok tidak ada uang, apalagi sekolah di luar," ucap remaja 17 tahun asal Desa Mendana Raya, Kecamatan Keruak, saat ditemui di sekolah, Rabu (17/6/2026).
Ia menuturkan, sejak kecil hidupnya tidak mudah. Kedua orang tuanya telah berpisah dan kini masing-masing telah memiliki keluarga baru.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia dan adiknya tinggal bersama sang kakek dan nenek. Ayahnya pergi meninggalkan dirinya sejak kecil dan hingga kini belum pernah lagi ditemuinya.
Sedangkan ibunya menikah lagi. Kakek tempat ia tinggal hanya bekerja sebagai buruh lepas dengan penghasilan yang tidak menentu.
Sebenarnya Irfan memiliki mimpi sederhana. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke SMK dan mengambil jurusan perhotelan agar suatu hari nanti bisa menjadi pelaku wisata yang sukses.
Namun kenyataan memaksanya mengubur mimpi itu dalam-dalam. Alih-alih mempersiapkan diri masuk sekolah, Irfan justru sempat berencana berangkat ke Bali menjadi kuli bangunan bersama temannya demi membantu perekonomian keluarga.
Bahkan, langkah yang lebih nekat pun sempat diambil dengan mendaftarkan diri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) bersama paman.
"Saya sadar umur saya belum cukup, bahkan belum punya KTP. Tapi mau bagaimana lagi, ekonomi keluarga sangat mendesak," katanya.
Meski begitu, di dalam hatinya, keinginan untuk terus bersekolah tak pernah padam.
Setiap malam, Irfan larut dalam kesedihan sambil merenungi nasib yang menimpanya. Di tengah keputusasaan itu, ia memilih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Selama sepekan, Irfan rutin bangun di sepertiga malam untuk menunaikan salat tahajud, memohon satu hal yang sama kesempatan untuk kembali bersekolah.
Setiap malam dirinya bangun salat tahajud meminta kepada Allah agar diberikan jalan keluar dan dikabulkan keinginannya untuk sekolah.
"Hanya itu yang saya minta. Ya Allah, jika Engkau mengizinkan saya sekolah, maka mudahkanlah jalannya," kenangnya.
Doa itu ternyata berbuah manis.
Pada suatu pagi, ketika Irfan berniat menemui pamannya untuk menanyakan jadwal pembuatan paspor ke Malaysia, seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang ke rumah menemui dirinya dan sang kakek.
Saat itulah ia diperkenalkan dengan program Sekolah Rakyat. Tanpa berpikir panjang, Irfan langsung menerima tawaran tersebut.
Baginya, kehadiran Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan baru, melainkan jawaban atas doa-doanya selama ini.
Kini dirinya, terdaftar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur.
"Di SRMA ternyata ada jurusan yang sejak dulu saya inginkan, seperti bahasa Inggris dan perhotelan atau pariwisata. Itu yang membuat saya semakin senang," katanya.
Kini, hidup Irfan berubah total.
Ia tak lagi dibebani pikiran tentang biaya sekolah, uang saku, maupun bekal yang harus dibawa ke asrama. Semua kebutuhan dasar telah disiapkan oleh negara.
Fasilitas yang lengkap, lingkungan sekolah yang bersih, dan kehidupan berasrama membuatnya semakin bersemangat mengejar cita-cita.
Kerja kerasnya pun mulai membuahkan hasil.
Irfan berhasil meraih medali emas Olimpiade Pancasila tingkat kabupaten dan medali perunggu tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Prestasi itu membawanya lolos mewakili NTB ke ajang Olimpiade tingkat nasional.
Tak hanya itu, berbagai perlombaan yang diikutinya hampir selalu berakhir dengan torehan prestasi membanggakan.
Bagi Irfan, semua pencapaian itu adalah bukti bahwa harapan tak pernah benar-benar hilang, selama seseorang terus berjuang dan berdoa.
"Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata rasa syukur dan bahagia karena bisa sekolah lagi dan menatap masa depan yang lebih indah. InsyaAllah, cita-cita saya akan terwujud dari sini," tutupnya penuh haru. (zaa)





follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami