OPSINTB.com - Direktur Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, Ali Muhtasom mengatakan, optimis pariwisata NTB bisa terus bergerak sesuai target jumlah wisatawan, yakni mencapai dua juta orang. Kendati, kata Ali, pariwisata rentan terhadap isu negatif. Semisal isu kenaikan harga BBM.
‘’Dengan kondisi beberapa hal positif dan potensi yang ada, kami optimis untuk terus bisa bergerak sesuai dengan target yang akan diraih oleh NTB, Lombok Tengah khususnya,’’ kata Ali di de Balen Sultan Hotel Komplek Poltekpar Lombok, Rabu (17/6/2026).
Optimisme Ali sejalan dengan promosi yang sudah dilakukan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB. Bahkan terbaru mereka sudah melakukan come trip untuk 30 negara, yang memungkinkan akan banyak paket wisata yang masuk NTB.
‘’Tentunya harus disuport. Kendala kita ini kan harga tiket yang masih tinggi. Ini menjadi kendala betul ketika ada konektivitas internasional,’’ imbuhnya.
Ali berharap pemerintah pusat bisa menormalisasi isu dan permasalahan di atas, sehingga penyelenggara pariwisata bisa memanfaatkan konektivitas yang sudah ada. Selain itu, pariwisata juga harus dilakukan secara menyeluruh. Dengan kata lain, pariwisata harus dibarengi paket-paket yang memungkinkan wisatawan beraktivitas.
‘’Misalkan wisatawan Australia masuk ke Lombok. Di sini mereka stay empat hari. Nah, yang empat hari itu harus dibuatkan aktivitas oleh teman-teman asosiasi pariwisata dengan membuat paket menarik,’’ paparnya.
Ia menambahkan NTB punya potensi untuk mengembangkan hal itu. Terutama untuk menargetkan wisatawan Asean, yang di mana penerbangan antar negara sudah terbuka dan tidak terganggu dengan isu internasional.
Poltekpar sendiri terus menguatkan program Gubernur NTB, yaitu destinasi wisata kelas dunia. Hal itu dimulai dari menggandeng desa-desa wisata. SDM desa wisata didampingi dan dibina agar menjadi pemandu wisata yang berkelas.
‘’Kami juga melihat potensi yang dimiliki dan kendala yang dihadapi. Kami diskusi dengan mereka. Kemudian dipecahkan dengan cara apa? Sehingga, kami hadir di sana dengan SDM kami untuk memecahkan sumber masalah itu,’’ beber Ali.
Dikatakan pendampingan akan terus dilakukan secara berkelanjutan bagi pelaku wisata. Contoh di Desa Wisata Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, yang sudah bekerjasama dengan Otsuka Jepang.
‘’Kami melakukan edukasi di sana dan menjadikan Sade itu tidak hanya budaya, tapi budaya berkelanjutan. Misalnya dengan membentuk bank sampah, kami juga sudah melakukan pelatihan untuk membuat biopori, dan bagaimana mengelola lingkungan dengan baik dan sebagainya,’’ tutup Ali. (iwn)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami