OPSINTB.com - Aroma sisa makanan kemarin menerobos celah kecil dinding gedek. Sesekali asap putih mengepul dari celah asbes yang telah lapuk.
Gubuk reyot itu tak hanya dijadikan tempat tinggal. Tapi juga, sebagai dapur untuk makan setiap harinya.
Atap asbes lapuk itu, bocor saat diterjang hujang. Terlebih, saat musim panca roba seperti saat ini.
Kendati demikian, mereka tetap bertahan. Rasa sabar bersama doa yang terus terpatri hanya untuk mendapati tempat tinggal yang layak untuk ditempati.
Begitulah potret rumah memilukan milik Kardi, warga Dusun Mekar Mulya, Dasan Tinggi, Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Keluarga Kardi hingga kini masih harus bertahan di rumah yang jauh dari kata layak huni, meski telah 17 tahun membina rumah tangga.
Selama belasan tahun, Kardi berjuang sebagai tulang punggung keluarga dengan bekerja serabutan di kampungnya. Ia pernah menjadi buruh harian hingga bekerja di ladang milik orang lain.
Namun, penghasilan yang tidak menentu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tanpa mampu memperbaiki kondisi rumah yang semakin rapuh dimakan usia.
Sekitar lima tahun lalu, Kardi mengambil keputusan besar dengan merantau menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Malaysia. Harapan untuk memperbaiki ekonomi keluarga sekaligus membangun rumah layak huni menjadi alasan utamanya.
Namun realita berkata lain. Selama bekerja sebagai PMI, penghasilan yang diperoleh tidak sesuai harapan. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga pun masih terasa berat.
"Gajinya di sana tidak sesuai harapan. Untuk kebutuhan sehari-hari saja masih sulit, apalagi membangun rumah," ungkap salah seorang dari keluarganya, Selasa (24/03/2026).
Ironisnya, di tengah berbagai program pemerintah terkait penanggulangan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), kondisi rumah Kardi belum tersentuh bantuan.
Padahal, berbagai program dari pemerintah desa hingga pusat, termasuk bantuan sosial dari lembaga seperti Baznas, terus digencarkan.
"Hal ini menimbulkan pertanyaan dikalangan warga, mengapa keluarga yang jelas membutuhkan justru belum mendapat perhatian?," tanyanya.
Sementara itu, istri Kardi tetap setia menunggu di rumah sederhana mereka. Dengan penuh kesabaran, ia menjalani hari-hari dalam keterbatasan sambil berharap adanya bantuan yang datang.
"Istrinya hanya bisa bersabar dan berdoa. Ia berharap suatu hari ada perhatian dari pemerintah atau dermawan," jelasnya. (zaa)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami