Mengenal Sapiman dan Isnun Yuliana, pengrajin dan pengepul barang antik di Lombok Tengah - OPSINTB.com | News References -->

Jumat, 01 April 2022

Mengenal Sapiman dan Isnun Yuliana, pengrajin dan pengepul barang antik di Lombok Tengah

Mengenal Sapiman dan Isnun Yuliana, pengrajin dan pengepul barang antik di Lombok Tengah

 
Mengenal Sapiman dan Isnun Yuliana, pengrajin dan pengepul barang antik di Lombok Tengah

OPSINTB.com - Sapiman (51) dan Isnun Yuliana (48) begitu antusias saat opsintb.com menyambangi Sekretariat Sasak Sareng Karye yang terletak di Jalan S Parman No 5 Kelurahan Praya, Kecamatan Praya, Lombok Tengah pada Kamis (31/3/2022).

Gedung sekretariat hibah dari Pemerintah Daerah Lombok Tengah itu merupakan tempat Lembaga Komunikasi, dan Kreativitas Pemasaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dikelola Sapiman dan Isnun.

Di tempat itu dipajang semua jenis kerajinan tangan seperti gerabah, tas yang terbuat dari batok kelapa, kain tenun asli Desa Sukarara, anyaman berbahan rotan, celengan dari batok kelapa, gelas bambu, hingga tas yang terbuat dari bahan plastik.

Benda-benda antik itu dikumpulkan dari para pengrajin lokal daerah ini seperti dari Desa Beleka untuk anyaman rotan, Desa Penujak untuk kerajinan gerabah, Desa Sukarara untuk tenun songket, tas dan celengan berbahan batok kelapa dari Desa Sengkerang, dan desa-desa lainnya.

"Pokoknya kita kembali ke zaman dulu. Semuanya kami ambil dari para pengrajin lokal. Yang ini hasil pelatihan oleh Menparekraf beberapa waktu lalu,'' kata Sapiman sambil menunjukkan tas yang terbuat dari plastik sampah pada opsintb.com.

Sapiman menuturkan, meski baru berdiri pada 15 Maret lalu, namun lembaga miliknya tersebut merupakan salah satu lembaga yang lolos kurasi dari Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Tengah bidang kuria. Sapiman dan rekan-rekannya pun berhak memasarkan karya dan kerajinan tangan warga lokal di stand-stand area Sirkuit Mandalika 18-20 Maret lalu.

"Alhamdulillah hasilnya lumayan dan bisa mengangkat SDM lokal juga," tutur Sapiman.

Sapiman dan Isnun mengaku bukan sebagai pengepul barang-barang antik itu. Mereka juga ikut berkreasi membuat berbagai jenis barang antik. Isnun misalnya, saat opsintb.com mendatangi sekretariatnya, dia sedang asyik menenun.

"Kami bukanlah pengepul. Kami juga membuat barang-barang antik lainnya. Jadi tempat ini sebagai wadah bagi para pengrajin di daerah ini untuk memasarkan hasil kreativitas mereka," akui Sapiman.

Masalah harga, keduanya menjelaskan harga tergantung jenis barang. Untuk kain songket berbagai motif dilabeli harga Rp 450-750 ribu per lembarnya. Sedangkan untuk motif yang disebutnya 'Kembang Komak' harga berkisar Rp 350 ribu.

Selama berdirinya sekretariat tersebut, mereka mengaku pernah dikunjungi Bupati dan Wakil Bupati Lombok Tengah. Kemudian dari pertemuan dengan bupati, Sapiman dan Isnun berharap setidaknya ada campur tangan Pemerintah Daerah Lombok Tengah dalam membantu mengembangkan usaha mereka.

"Pernah dikunjungi bupati dan wakilnya beberapa waktu lalu. Kami harap ada bantuan dari pemerintah dalam membantu mengembangkan galeri ini," harap mereka.

Isnun menambahkan, salah satu kendala dalam mengembangkan usahanya ialah minimnya SDM yang bisa menciptakan model-model baru. Dia menganggap jika barang-barang antik itu hanya menggunakan model lama tanpa adanya variasi, maka masyarakat akan sulit mau melirik.

"Kami kekurangan SDM yang bisa menciptakan kreasi baru. Itu sebenarnya harapan kami kepada pemerintah. Mereka mau mendatangkan instruktur berpengalaman," tambah Isnun.

Selain itu, Sapiman dan Isnun sangat menyayangkan banyak produk kerajinan masyarakat Lombok Tengah yang dibeli para pengepul dari Pulau Bali kemudian diakui sebagai hasil karya masyarakat di sana. (wan)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama