ADBMI publikasi hasil kajian dan peta risiko bencana - OPSINTB.com | News References -->

Saturday, March 20, 2021

ADBMI publikasi hasil kajian dan peta risiko bencana

ADBMI publikasi hasil kajian dan peta risiko bencana

 
ADBMI publikasi hasil kajian dan peta risiko bencana

OPSINTB.com - Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) menyampaikan hasil kajian dan peta resiko bencana desa Pringgasela Timur, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, Sabtu (20/3/2021). 

Hasil kajian yang dilakukan sejak Februari 2020 ini merupakan kerjasama antara ADBMI dengan Yayasan Sheep Indonesia dan AWO Internasional.

Hadir pada kesempatan itu Direktur ADBMI Roma Hidayat, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Lombok Timur, dan Kepala Desa Pringgasela Timur.

Dalam kegiatan ini, Roma Hidayat menyampaikan alasannya memilih desa Pringgasela Timur sebagai pilot project laboratorium, dikarenakan luas wilayahnya yang bisa diakomodir. 

"Pringgasela Timur termasuk desa baru dengan kekadusan berjumlah tiga dusun. Jadi nantinya bisa diakomodir setiap program yang dilaksanakan," jelasnya.

Lebih lanjut, Roma mengungkapkan sangat pentingnya partisipasi masyarakat dalam membuat dan melaksanakan program berbasis masyarakat. "Prinsip gotong royong menjadi kekuatan utama sekaligus prinsip dasar dalam membuat program," imbuhnya.

Ia juga menyinggung tentang kurangnya kepedulian pemerintah terhadap desa-desa yang tidak menjadi sentral kebencanaan ketika gempa bumi melanda Lombok tahun 2018 lalu. 

"Dalam pemantauan ADBMI, penanganan dan perhatian pemerintah, kelompok relawan dan lembaga-lembaga sosial cendrung terfokus pada episentrum terdekat gempa (inti), seperti di Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan kalau di Lombok Timur berpusat di Kecamatan Sembalun, Sambelia dan Pringgabaya. Sedangkan desa-desa yang tidak dikatakan epicentrum nyaris tidak mendapatkan perhatian. 

Padahal desa-desa tersebut faktanya juga banyak terkena dampak yang cukup besar. Alhasil segala bantuan banyak ditujukan ke daerah inti gempa sedangkan desa-desa lainnya yang juga terdampak mendapatkan bantuan yang terbatas," beber Roma.

Ia juga menegaskan bahwa Lombok Timur paling tidak siap dalam menanggulangi bencana. Itu pula yang mendorong ADBMI membuat program berbasis masyarakat.

Diwaktu yang bersamaan, Muhammad Sabri selaku Kepala Desa Pringgasela Timur memaparkan sejumlah program berbasis masyarakat yang telah dijalankan selama ini.

"Kami desa pelosok, dengan dana desa yang seadanya kami membangun desa bersama masyarakat. Desa adalah garda terdepan dalam pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Kegiatan kami bersama masyarakat seperti menjaga keasrian dan kebersihan lingkungan dengan menanam bunga pucuk merah di sepanjang pinggir jalan. Kami ingin ke kepannya desa ini menjadi desa wisata," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, "Selain itu juga kami tetap bergotong royong bersama masyarakat dan juga tidak membuat kandang di dekat lahan yang rawan longsor. Mengingat desa kami banyak tambang pasir." 

Selain itu, Sabri juga ingin menjadikan desanya selain sebagai sentral ternak, juga sebagai sentral kain sesek. Karena hampir 90% masyarakatnya terlebih perempuan menjadikan itu sebagai mata pencaharian. 

Di waktu bersamaan, Kabid Mahyudin mengungkapkan, bahwa kabupaten Lombok Timur memang belum siap menghadapi bencana baik alam maupun non alam. 

"Sampai saat ini ada 35 desa dan kelurahan yang telah di bentuk sebagai desa tangguh bencana dan itu pun kerjasama dengan banyak stakeholder terkait. 

Tumben untuk tahun ini kita bisa membentuk dua desa tangguh bencana, biasanya satu desa. Jika satu desa per tahun, maka butuh ratusan tahun untuk membentuk desa tangguh bencana secara keseluruhan," pungkasnya. (zaa)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama