Telisik Hambatan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan di Lombok Timur - OPSINTB.com | News References -->

Kamis, 31 Oktober 2019

Telisik Hambatan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan di Lombok Timur

Telisik Hambatan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan di Lombok Timur


Berbicara pendidikan di Indonesia lebih baik kita memulai melihatnya dari gerak historis bangsa ini  dalam memandang akan arti pendidikan itu sendiri, dan tentu kita akan melihat pandangan pandangan para aktivis pendidikan kita.

LOMBOK TIMUR, Oleh Surayah (Ayaq)

Berbicara aktivis pendidikan di antara yang pamiliar adalah Ki Hajar Dewantoro.

Di antara Konsef pendidikan  Kihajar Dewantoro adalah "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mbangun karso, Tutwuri Handayani".

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sung Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya.
Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat.

Jadi makna harfiahnya dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat .

Berarti di sini Konsef yang di dorong Kihajar Dewantoro dalam meletakkan pendidikan,  dimana seseorang harus mampu memberikan inovasi dilingkungan pendididikan dengan menciptakan suasana yang  kodusif untuk keamanan dan kenyamanan dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Sedangkan Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Hingga jika di artikan secara harpiah adalah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita untuk menumbuhkan motivasi dan semangat, hingga penulispun memberikan catatan catatan untuk dunia pendidikan di Lombok Timur.

Di antara yang perlu di respon cepat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Tumur dalam kerangka menciptakan kenyamanan dan keamanan di lingkup dunia pendidikan dan tenaga kependidikan adalah:

Pertama, Dikbud Lombok timur harus mempunyai tata kelola akreditasi sekolah. Karna berbicara akreditasi berarti kita lagi berbicara mutu sekolah. Sementara di lingkungan Dikbud Lombok Timur masih terlihat perlu pembenahan di sektor ini. Kedepannya kita harapkan Dikbud Mensosialisasikan ke masing masing Unit Pelaksana Tehnis Dinas (UPTD) tentang Daptar isian Akreditasi (DIA).

Di samping pentingnya Daptar Isian Akreditasi (DIA) ini untuk mengukur kualitas dan mutu Sekolah juga akan berdampak ke sekolah itu langsung dimana sekolah tidak bisa mendapatkan Dana Bos. Sementara operasional dan kebutuhan Sekolah dalam sistem Pendidikan kita  sepenuhnya  sangat bergantung ke pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Kedua Dikbud harus mengatensi  sekolah tentang data isian Dapodik. Isian data Dapodik ini mulai di anggab penting oleh  sebagian orang ketika gonjang ganjing tentang SK Honda Guru Tidak Tetap (GTT). Dimana banyak tenaga kependidikan konplin ketika mengajukan usulan SK Honda, dimana tidak sesuai antara SK awal dengan data dapodik.

Ketiga, dari pantauan penulis banyak di temukan tenaga kependidikan (GTT)  yang belum memiliki Nomer Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
Dalam hal ini, penerbitan Nomer Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) sebenarnya sudah di permudah melalui sistem internetisasi yang di lakukan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) yang terkoneksi sama Dikbud Kabupaten/Kota. Namun karna di lapangan masih banyak Tenaga Kependidikan yang belum mendapatkan Nomer Unik Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) Dikbud Lotim perlu melakukan perbaikan tata kordinasi, dan melakukan advokasi.

Keempat, tentang Guru Tidak Tetap (GTT).
Berbicara Guru Tidak Tetap (GTT) setidaknya ada dua hal yang harus di atensi Dikbud melalui kerja kerja nyata yang terukur dan berkelanjutan. Diantaranya terpastikanya semua Guru Tidak Tetap (GTT) mendapatkan SK Honor Daerah, ini dalam kerangka untuk menjamin masa depan Guru Tidak Tetap (GTT). Dan keselanjutnya tentang honorium  Guru Tidak Tetap (GTT) ini harus terus di perjuangkan untuk di tingkatkan.

Dikbud baiknya mensiasati dengan membuat surat edaran ke sekolah yang di lingkup kerjanya agar pemberian honorium Guru Tidak Tetap yang sumber gajinya dari Biaya Operasional Sekolah (BOS) agar membuat standar minimal dan di seragam kan antara semua sekolah yang di hitung dengan cermat dan memperhatikan kebutuhan hidup layak (KHL), supaya kedepanya  tidak ada lagi peredikat "pahlawan tanpa tanda jasa". Sementara kita ketahwi Babon kerja Guru Tidak Tetap ini sama besar dan bahkan sering sekali lebih berat dari Guru Negri (PNS).

Sementara Di satu sisi terjadi kesenjangan yang sangat jauh antara Guru Negri dengan Guru tidak tetap. Atau mungkin Dikbud  perlu mengkonsolidasikan leding sektor yang ada di dalamnya membuat terobosan dan inovasi inovasi dalam kerangka untuk menambah penghasilan Guru Tidak Tetap (GTT), misalnya pembayaran honorium pembimbing ekstrakokuler yang memadai, seperti pembimbing Pramuka, OSIS, PMR, Les, dan lain lain, dimana pembibing ini harus dari Guru Tidak Tetap (GTT).

Kelima, Pembentukan Tim Penyusun Kurikulum. Poin ini sangat penting dalam kerangka keseragaman setiap sekolah dalam menyusun dan menginterpretasikan kurikulum Pendidikan nasional kita.

Berbicara kurikulum penting untuk memasukkan dalam Muatan Lokal (Mulok) untuk terkonsentrasikan ke pendidikan moral, nilai nilai rejuisitas, adat istiadat hingga kedepanya di harapkan terwujudnya generasi yang bermental Pancasila, dan menyadari kebhinekaan kita sebagai bangsa.

Terakhir, menurut penulis Dikebud juga harus pokus ke pisik sekolah. Sekolah  sekolah yang pisiknya kurang layak harus di dorong untuk  di renopasi terutama sekolah sekolah yang berada di pelosok, dimana masih terdapat bangunan yang memprihatinkan kondisinya.

Disamping itu sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) harus juga di pastikan semua sekolah tersedia dan memadai sesuai dengan jumlah murid, karna kita ketahwi siswa yang baru selesai mendapatkan pendidikan Jasmani (Penjas) perlu ketersedian imprastruktur Mandi Cuci Kakus (MCK) yang memadai sebelum mengikuti mata pelajaran berikutnya untuk menciptakan kenyamanan dalam proses belajar mengajar.

Semoga kedepanya dengan kita berbenah ini tumbuh penerus angkatan yang berkualitas, dan penulis ingin menutup tulisan ini dengan selogan   pendidikan, "Berhemat hematlah dalam semua hal, tetapi Berboros boroslah dalam soal pendidikan".

Penulis Adalah Tim Bupati  Untuk Percepatan Pembangun (TBUPP) Lombok Timur, Pokja Pendidikan.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama