26/03/26
14/03/26
Redaksi
Anggota DPRD Lotim bersama Wabup edukasi warga Masbagik pencegahan dan penurunan stunting
OPSINTB.com - Ratusan warga Kecamatan Masbagik menghadiri kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penurunan Stunting Tahun Ajaran 2026 yang digelar pada Sabtu pagi. Acara yang berlangsung di sebuah tempat umum ini merupakan inisiatif dari anggota DPRD Lombok Timur, H. Lalu Hasan Rahman, sebagai bagian dari program tahunan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, khususnya dalam mencegah stunting.
Dalam sambutannya, H. Lalu Hasan Rahman yang juga merupakan wakil rakyat dari daerah pemilihan Lombok Timur (Lotim) menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kehadiran warga. Ia menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan ajang silaturahmi sekaligus mencari ilmu di bulan suci Ramadan.
"Saya jarang bertemu dengan bapak-ibu sekalian, terutama di bulan puasa. Melalui kegiatan ini, saya ingin mengumpulkan kita semua dalam kebersamaan dan silaturahmi," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya layanan kesehatan yang mudah diakses. Pada acara tersebut, pihaknya menghadirkan Kepala Puskesbeserta seluruh staf yang memberikan pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat, mulai dari cek tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga asam urat.
"Ini gratis, padahal biasanya di tempat lain kita harus bayar Rp25.000 hingga Rp100.000 untuk satu kali cek. Alhamdulillah, hari ini Puskesmas hadir melayani kita semua," tambahnya.
H. Lalu Hasan Rahman menjelaskan bahwa kegiatan ini menyasar sejumlah dusun yang dianggap membutuhkan, namun ke depan akan terus diperluas seiring dengan komitmen bersama antara dirinya, Wakil Bupati, dan Bupati Lombok Timur. Ia juga menyebutkan program pemerintah seperti bantuan ekonomi senilai puluhan miliar rupiah untuk mengangkat derajat masyarakat.
"Kita harus bersyukur, baik yang mendapat bantuan maupun tidak. Jangan sampai saling mengumpat. Masyarakat Lombok Timur dikenal religius dan memiliki jiwa sosial tinggi, terbukti saat ada musibah, kita semua bergotong royong," pesannya.
Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur, H. Mohammad Edwin Hadiwijaya, yang turut hadir memberikan pemahaman mendalam mengenai stunting. Ia menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi di mana berat badan dan tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya. Hal ini ditentukan melalui hasil penimbangan dan pengukuran di posyandu oleh para kader.
"Penyebab stunting tidak hanya dari makanan, tapi juga dari lingkungan, kebersihan, dan sanitasi. Oleh karena itu, intervensi atau perbaikan gizi menjadi salah satu langkah utama," jelas Wabup Edwin.
Ia menekankan pentingnya peran posyandu yang menjadi garda terdepan dalam memberikan makanan bergizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di bawah dua tahun (baduta). Program dapur bergizi atau yang dikenal dengan program EMAS (Makanan Bergizi untuk Anak Sekolah/Masyarakat) disebutnya sebagai salah satu upaya untuk menekan angka stunting.
Wabup Edwin juga mengungkapkan data bahwa terdapat tujuh desa di Lombok Timur yang masuk dalam kategori prioritas karena angka stuntingnya di atas 40 persen, bahkan ada yang mencapai 45 persen. Ketujuh desa tersebut antara lain Sakra Selatan, Kertasari (Kecamatan Labuan Haji), Desa Kabar, Teros (Labuan Haji), Sikur Selatan, Penedagandor, dan jantung.
"Alhamdulillah, untuk Kecamatan Masbagik, khususnya Masbagik Utara, masih relatif aman dan angka stuntingnya lebih baik dibanding desa-desa tersebut," ungkapnya.
Ia berharap melalui sosialisasi ini, para kader dan orang tua semakin paham dalam memantau tumbuh kembang anak serta menjaga kebersihan lingkungan. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berkomitmen untuk terus melakukan intervensi dan edukasi guna menurunkan angka stunting secara signifikan.
Kegiatan diakhiri dengan pemeriksaan kesehatan gratis dan dialog interaktif antara warga, kader posyandu, serta jajaran pemerintah daerah. (adv)
Redaksi
Wakil Ketua DPR RI Hj Sari Yuliatii salurkan bantuan bagi korban longsor di Bandung Barat
OPSINTB.com - Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan (Korekku), Hj Sari Yuliatii, berkesempatan mengunjungi sekaligus menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Bantuan tersebut disalurkan bersama keluarga besar Kosgoro 1957 sebagai wujud nyata kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit. Kehadiran rombongan DPR RI dan Kosgoro diharapkan dapat memberikan dukungan moral sekaligus membantu memenuhi kebutuhan mendesak warga.
“Di tengah keterbatasan, kami menyaksikan langsung keteguhan dan semangat warga untuk bangkit serta menata kembali kehidupan mereka. Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat dan menjadi penguat harapan bagi seluruh warga terdampak,” ujar Hj Sari Yuliatii.
Beliau menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam menghadapi bencana. “Mari terus menebarkan kebaikan, mempererat solidaritas, dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih tangguh dalam menghadapi setiap tantangan,” tambahnya.
Kunjungan ini menjadi bukti komitmen DPR RI dalam mendampingi masyarakat di saat krisis, sekaligus meneguhkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial sebagai fondasi kehidupan berbangsa. (red)
10/03/26
Redaksi
Pemuda Sasak Indonesia gelar ngaji budaya, refleksi adat dan agama di malam Nuzulul Qur’an
OPSINTB.com - Ramdhan sudah memasuki malam sepuluh akhir. Diyakini turunnya Lailatul Qadar. Amalan-amalan pun di malam sepuluh akhir ini ditingkatkan, untuk menjemput keutamaannya.
Seperti di Masjid Nurul Jihad, Dusun Grepek Santek, Desa Kembang Are Sampai, Kecamatan Sakra Barat, yang suasananya terasa berbeda. Tak hanya cahaya lampu yang menghiasi halamannya, tapi juga bertambahnya kekhusu'an pelaksanaan ibadah.
Para pemuda duduk bersila, sementara tokoh masyarakat dan jamaah lain perlahan memadati ruangan. Malam itu, Selasa (10/3/2026), peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya sekedar agenda keagamaan semata, tetapi juga ruang perenungan tentang identitas dan masa depan masyarakat Sasak.
Kegiatan yang digelar Pemuda Sasak Indonesia tersebut menjadi ruang refleksi identitas budaya masyarakat Sasak melalui konsep ngaji budaya Sasak. Sebuah pendekatan yang mencoba membaca kembali hubungan antara agama, adat, dan kehidupan sosial masyarakat.
Ketua Umum Pemuda Sasak Indonesia, Raden Nune Syahroni mengatakan, Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada seremoni keagamaan semata.
Baginya, momentum turunnya Al-Qur’an justru menjadi kesempatan penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat.
"Peringatan Nuzulul Qur’an harus dimaknai lebih dalam. Ini bukan hanya acara tahunan, tetapi momen untuk mengingat kembali bahwa agama dan adat memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan masyarakat Sasak," ucap Raden Nuna Syahroni.
Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut, "Adat Betakak, Betekan lan Betatah Agame, Agame Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah", menggambarkan falsafah hidup masyarakat Sasak yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Falsafah ini menegaskan bahwa adat bukan sekadar tradisi sosial, melainkan bagian dari ekspresi nilai-nilai agama yang hidup di tengah masyarakat.
Menurut Nune, adat yang berkembang di masyarakat Sasak tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama nilai-nilai keislaman yang menjadi landasan moral dan spiritual masyarakat.
"Adat dan agama tidak bisa dipisahkan. Keduanya memiliki akar yang sama, yaitu bersendikan Kitabullah. Artinya, adat yang hidup di tengah masyarakat Sasak bukanlah tradisi kosong, tetapi ekspresi kultural dari nilai-nilai agama," katanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial, tantangan terbesar justru datang dari generasi muda. Modernitas, kata dia, sering kali menghadirkan pilihan-pilihan baru yang berpotensi menjauhkan generasi muda dari akar budaya dan spiritualnya.
Namun Nune melihat perubahan zaman bukanlah ancaman, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan bijak.
"Modernitas tidak boleh mencabut kita dari akar. Generasi Sasak harus berpikir maju, terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap kokoh dalam iman dan adat," tegasnya.
Melalui konsep ngaji budaya Sasak, Pemuda Sasak Indonesia mencoba menghadirkan ruang dialog antara nilai-nilai keislaman dengan realitas sosial budaya masyarakat.
Agama dalam pandangan mereka, tidak hanya berada di ruang normatif, tetapi juga harus hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari dalam adat, tradisi, dan interaksi sosial.
Kegiatan ini pun diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda Sasak. Bukan hanya untuk memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi juga untuk menyadari bahwa identitas budaya mereka memiliki akar yang kuat dalam nilai-nilai spiritual.
Di tengah dunia yang terus berubah, pesan yang ingin ditegaskan malam itu sederhana namun mendalam menjaga adat berarti merawat iman, dan menguatkan agama berarti memperkokoh jati diri.
"Menjaga adat berarti merawat iman, dan menguatkan agama berarti mengokohkan jati diri. Dari sanalah masa depan Sasak dapat dibangun," pungkas Nune. (zaa/adv)
















.jpg)



follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami