OPSINTB.com - Rencana pembangunan gedung serbaguna yang diproyeksikan menjadi ikon baru daerah di kawasan Taman Selong, Lombok Timur, memicu keresahan dan protes dari para pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidup di lokasi tersebut. Mereka menilai pembangunan itu justru mengancam mata pencaharian puluhan pedagang yang telah bertahun-tahun berjualan di sekitar taman.
Para pedagang mengaku tidak menolak pembangunan. Namun, mereka meminta pemerintah lebih dulu menyiapkan tempat relokasi yang layak sebelum membongkar lapak-lapak yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarga mereka.
Salah seorang pedagang, Makiah, mengungkapkan kegelisahannya. Ia mengatakan, para pedagang hanya ingin tetap bisa mencari rezeki dengan tenang tanpa kehilangan pelanggan.
"Kalau memang taman ini mau direnovasi, buatkan dulu tempat kami jualan yang aman dan layak. Jangan kami disuruh pindah tanpa kepastian. Di sini tempat kami cari makan, tempat kami membiayai anak sekolah, tempat kami bertahan hidup setiap hari," ucap Makiah, Rabu (23/6/2026).
Dari kabar yang ia dengar, mereka akan direlokasi sementara ke Kantor Camat Selong. Namun, lokasi tersebut dinilai belum tentu cocok untuk berjualan karena dikhawatirkan sepi pengunjung.
"Kalau dipindahkan, jangan asal pindah. Buatkan tempat yang nyaman seperti di sini, yang bisa didatangi orang. Jangan sampai kami dipindah ke tempat yang sepi, lalu kehilangan pembeli. Kami ini hidup dari dagangan kecil-kecilan," katanya.
Makiah mengeluhkan kondisi lapak yang selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian serius. Ia menyebut para pedagang harus memperbaiki sendiri lapak mereka bila rusak, meski tetap diwajibkan membayar iuran setiap bulan.
Pedagang setempat, tetap membayar Rp100 ribu per lapak setiap bulan, ditambah uang sampah Rp5 ribu per hari.
"Jualan atau tidak, tetap harus bayar. Tapi fasilitas tidak ada, perhatian juga tidak ada," keluhnya.
Para pedagang bukan menolak penataan kota, melainkan meminta pemerintah tidak mematikan sumber penghidupan masyarakat kecil. Sebab, ada anak yang masih sekolah yang harus dibiayai, belum lagi soal setoran hutang.
"Kami butuh makan setiap hari. Kalau kami dipindah, tolong tempatkan di lokasi yang layak," ucapnya.
Rencana relokasi pedagang ke area Kantor Camat Selong pun masih menuai penolakan. Para pedagang berharap, bila memang harus dipindahkan sementara, pemerintah menyiapkan lokasi yang setidaknya memiliki potensi pembeli dan fasilitas yang memadai, bukan sekadar tempat singgah tanpa masa depan.
Situasi ini membuat para pedagang semakin terdesak. Di satu sisi, mereka memahami keinginan pemerintah untuk mempercantik kawasan taman.
Namun di sisi lain, mereka juga berharap pembangunan tidak mengorbankan masyarakat kecil yang selama ini menggantungkan hidup disana.
Kini, para pedagang mendesak pemerintah daerah turun langsung berdialog dan memberikan kepastian sebelum pembongkaran dilakukan. Mereka berharap ada solusi yang adil, agar pembangunan tetap berjalan tanpa harus meruntuhkan harapan para pedagang kecil di Taman Selong.
“Kami hanya ingin tetap bisa mencari makan. Jangan sampai pembangunan ini justru membuat kami kehilangan segalanya,” harapnya.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah Lombok Timur, Dr. HM Juaini Taofik, meminta para pedagang untuk tidak panik. Ia menegaskan, hak-hak ekonomi warga yang telah lama beraktivitas di kawasan tersebut tidak akan dikorbankan dalam proses penataan kota.
"Perubahan yang kita dorong ke depan ini adalah perubahan untuk semua. Yang kita utamakan adalah menyiapkan tempat untuk UMKM kita yang sudah eksisting. Diam-diam kami juga sudah melakukan pendataan di lapangan," ujar Juaini Taofik saat dikonfirmasi media di ruang kerjanya.
Menurut Juaini, fokus pembangunan Pemkab Lombok Timur pada 2026 memang diarahkan untuk menata kawasan perkotaan Selong agar lebih rapi, tertib, dan representatif.
Namun, penataan tersebut dipastikan tetap memperhatikan keberadaan pedagang kaki lima dan pelaku UMKM yang selama ini menggantungkan hidup di sekitar taman kota.
Ia mengungkapkan, pemerintah daerah telah menyiapkan lokasi baru yang tidak jauh dari area Taman Kota Selong, yakni di kawasan kantor Camat Selong. Lokasi tersebut dirancang menjadi pusat kuliner modern yang akan menampung para pedagang dalam satu kawasan terpadu.
Konsep relokasi yang disiapkan berupa food court terpadu, yang menyatukan seluruh pedagang kuliner di satu tempat yang lebih higienis, rapi, dan estetik.
"Tempat belanjanya akan diatur agar semakin rapi dan bagus seiring kemajuan kota. Jadi ruang publik ini nantinya menjadi ruang yang nyaman untuk semua," katanya.
Selain itu, Juaini menjelaskan, pembangunan gedung serbaguna dan penataan kawasan kota Selong akan dibiayai melalui skema tahun jamak (multi-years) yang diperkuat dengan Peraturan Daerah (Perda). Dengan skema tersebut, proyek tetap dapat berjalan meski pelaksanaannya mengalami keterlambatan.
Pemkab Lombok Timur menargetkan ground breaking atau peletakan batu pertama proyek tersebut dapat dilaksanakan pada Oktober 2026.
Meski begitu, Juaini mengakui pemerintah daerah belum melakukan sosialisasi secara masif kepada para pedagang.
Hal itu, menurutnya, karena pemerintah masih menunggu momentum tahapan pelaksanaan yang tepat. Namun ia memastikan, seluruh pedagang akan dilibatkan dalam pembahasan sebelum proyek berjalan.
"Pada waktunya nanti, semua pedagang pasti kita undang untuk duduk bersama. Fasilitas publik seperti taman juga akan terus kita tingkatkan mutunya," pungkasnya. (zaa)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami