OPSINTB.com - Sore itu, suasana di Dusun Kebon Daya Desa Terara, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur tampak berbeda. Biasanya anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain tanpa arah atau tenggelam dalam layar ponsel, kini puluhan dari mereka berkumpul di Musholla Bustanul Arifin.
Mereka duduk rapi, sebagian membuka buku, sebagian lain menyimak pendamping mereka berbicara di depan.
Perubahan kecil itu bermula dari tingkah dua mahasiswi Linda Wahyuni dan Nuri Zaerani.
Alih-alih hanya mengeluhkan minimnya pendampingan belajar bagi anak-anak di dusun mereka, keduanya memilih bergerak. Mereka merintis ruang belajar sore bertajuk Berani Cahaya.
Ruang belajar ini tidak sekadar menjadi tempat mengerjakan pekerjaan rumah. Linda dan Nuri merancangnya sebagai wadah belajar tambahan yang memadukan baca tulis, pendampingan tugas sekolah, mengaji, sekaligus penanaman etika dan disiplin.
Bagi mereka, pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan keberanian berpikir sejak dini.
“Kami melihat banyak adik-adik sepulang sekolah hanya bermain tanpa arah, bahkan sudah terbiasa memegang HP dalam waktu lama tanpa pendampingan," ucap Linda Wahyuni, Rabu (25/2/2026).
Di lain sisi, mereka juga melihat mulai berkurangnya pembiasaan etika sederhana. Seperti cara berbicara dan menghargai yang lebih tua.
Dari situ kumpulan anak muda ini merasa tidak bisa hanya mengeluh. Menurutnya, Berani Cahaya bukan hadir untuk menyalahkan anak-anak, melainkan untuk memberikan alternatif yang lebih membangun.
“Anak-anak ini punya potensi besar. Mereka hanya butuh ruang dan arahan. Kami ingin sore hari mereka diisi dengan belajar, berdiskusi, dan dibiasakan disiplin. Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi?” tegasnya.
Ternyata, semangat itu tak berhenti pada dua orang. Empat siswi SMA setempat Mira, Azwa, Risma, dan Alya ikut terseret dalam tingkah positif tersebut. Mereka dilibatkan sebagai pendamping belajar bagi adik-adik mereka sendiri.
Konsep ini kata Linda, memang sengaja dirancang agar remaja perempuan tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga belajar memimpin dan bertanggung jawab. Para inisiator ingin menanamkan kepercayaan diri dan rasa mampu pada diri mereka.
“Kami ingin adik-adik perempuan di sini tidak hanya jadi peserta, tapi juga belajar memimpin. Supaya mereka tahu bahwa mereka mampu,” ujarnya
Meski kini mendapat respons positif, Linda mengaku pada awalnya sempat pesimis. Keterbatasan fasilitas dan kekhawatiran tidak ada peserta yang datang sempat menjadi keraguan.
"Namun, kehadiran 36 anak di hari pertama menjadi jawaban bahwa tingkah kecil tersebut ternyata memang dibutuhkan,"sebut Linda
Linda berharap, pemerintah desa dapat memberi perhatian dan dukungan agar kegiatan ini berjalan berkelanjutan. Dari Dusun Kebon Daya, tingkah dua mahasiswi ini mulai menular dan empat siswi SMA menjadi bukti bahwa semangat perubahan bisa menjadikan siapa pun korban dalam arti yang paling baik.
"Kami berharap pemerintah desa dpat memberinperhatian seta dukungan,"harapnya
Sementara itu, Ketua RT Dusun Kebon Daya, Endi, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, aktivitas itu merupakan gerakan yang baik untuk anak-anak.
"Semoga bisa terus berjalan dan berkembang,” ujarnya.
Ia menilai langkah yang dimulai dari kepedulian generasi muda ini menjadi contoh bahwa perubahan bisa lahir dari kesadaran sederhana.
Dia menegaskan, tidak harus menunggu program besar atau bantuan datang untuk berbuat.
Kini, Berani Cahaya bukan hanya ruang belajar. Ia telah menjadi ruang bertumbuh tempat anak-anak diasah keberaniannya, remaja perempuan belajar memimpin, dan masyarakat melihat bahwa tingkah kecil dua mahasiswi dapat menyalakan cahaya perubahan di dusun mereka sendiri. (zaa)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami