Di Makam Anak Iwoq, ada pohon "pembawa keberuntungan" - OPSINTB.com | News References -->

Kamis, 15 April 2021

Di Makam Anak Iwoq, ada pohon "pembawa keberuntungan"

Di Makam Anak Iwoq, ada pohon "pembawa keberuntungan"

 
Di Makam Anak Iwoq, ada pohon "pembawa keberuntungan"

OPSINTB.com - Makam Anak Iwoq di Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, dipercaya sebagai makam yang memiliki karomah. Maka tak heran, makam yang berlokasi persis di pinggir pantai Labuhan Haji itu selalu diserbu peziarah, datang berdoa dan meminta kesembuhan.

Selain itu, Makam Anak Iwoq juga memiliki sisi lain. Pada sebuah "pohon pembawa keberuntungan" (pohon beringin) yang berada di areal makam, terikat ratusan bahkan ribuan cita-cita para peziarah. 

Menurut penuturan penjaga makam, Qudsi Ali, masyarakat yang datang memang mempunyai tujuan berbeda-beda. Ada yang datang dengan tujuan meminta kesembuhan, ada juga yang datang hanya sekedar untuk mengikat cita-cita mereka di pohon besar yang ada di areal makam.

"Biasanya saya melihat kebanyakan orang di makam itu, tidak hanya mencari syarat untuk kesembuhan tapi juga mengikat keinginannya di pohon yang ada di dekat makam," jelasnya.

Umumnya, pengunjung mengikat sampah di pohon tersebut. Seperti kresek dan tali rafia.

Pengikatan tersebut sebagai simbol, bertujuan untuk mengikat cita-cita mereka, dengan niatan suatu saat jika apa yang diharapkan bisa terwujud, si pengikat akan kembali untuk melepas ikatan sampah itu.

"Setelah saya mendengar pengakuan dari orang-orang yang datang itu, ternyata fungsi ikatan sampah di pohon itu bertujuan untuk mengikat apa yang diinginkan. Setelah tercapai, orang itu akan datang kembali untuk melepas ikatan itu," sebut Qudsi.

Sementara Qusdi juga tidak pernah terlalu menanyakan mengenai niat dan maksud mereka datang mengunjungi Makam Anak Iwoq. "Saya tidak pernah telalu menayakan apa niatan mereka datang," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa perilaku pengunjung yang demikian, merupakan bagian dari kebiasaan turun-temurun oleh masyarakat setempat, pada masa Hindia-Belanda, yang pada waktu itu belum ada agama atau kepercayaan.

Sehingga hal tersebut adalah budaya yang diciptakan oleh masyarakat setempat, kemudian dijadikan kebiasaan oleh pengunjung yang berdatangan. Karena kebanyakan orang yang yakin dengan hal itu, maka dianggaplah hal tersebut sebagai perilaku yang wajib dilakukan ketika mengunjungi Makam Anak Iwoq. (zaa)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama