Budaya

30/03/26

Sandiwara Radio bangkit, tradisi Peresean jadi cerita utama

 
Sandiwara Radio bangkit, tradisi Peresean jadi cerita utama

OPSINTB.com - Tradisi peresean khas masyarakat Sasak kini merambah medium baru. 


Warisan budaya yang selama ini identik dengan arena pertarungan rotan tersebut diangkat menjadi serial sandiwara radio bertajuk “Napas Peresean dalam Sandiwara Radio”.


Program ini dikemas dalam bentuk drama audio berseri yang menampilkan kisah kehidupan para pepadu—tokoh sentral dalam tradisi peresean yang sarat nilai keberanian, kehormatan, dan persaudaraan. 


Produksi ini turut melibatkan penyiar senior, pemain sandiwara radio, serta kreator konten berpengalaman di Nusa Tenggara Barat (NTB).


“Program ini menghadirkan kisah dramatik tentang dunia para pepadu, para petarung dalam tradisi peresean yang dikenal sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan. 


Melalui pendekatan sandiwara radio, tradisi tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk cerita yang menyoroti sisi kemanusiaan para pelakunya,” ungkap M. Sukri ‘Ray Aruman’ selaku inisiator sekaligus produser audio dramania Napas Peresean dalam Sandiwara Radio.


Sukri menegaskan, penggarapan program ini dilakukan melalui proses riset panjang. Tim kecil dibentuk untuk melakukan kajian pustaka, mengumpulkan cerita lama, hingga mewawancarai sejumlah pihak yang memahami perjalanan para pepadu.


“Sebagai produser, saya membentuk tim kecil  yang melakukan kajian pustaka, mengumpulkan cerita-cerita lama, dan melakukan berbagai wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui perjalanan hidup para pepadu,” jelasnya.


Dalam pengembangan cerita, Sukri menggandeng jurnalis senior NTB Buyung Sutan Muhlis yang dipercaya menulis naskah. Naskah sandiwara radio tersebut kini telah rampung dan siap diproduksi.


”Alhamdulillah, naskah sandiwara sudah tuntas beliau tulis dan siap produksi,” ujarnya.


Libatkan Tim Kreatif Berpengalaman


Produksi drama audio ini diperkuat oleh tim kreatif lintas generasi. Dedi Suhadi didapuk sebagai sutradara. 


Ia dikenal sebagai praktisi media yang berpengalaman dalam produksi program siaran, dengan kemampuan membangun ritme dramatik dan mengarahkan aktor suara secara kuat.


Di posisi narator, hadir Esdarita, penyiar senior yang pernah berkiprah di RRI Mataram.


 Sosoknya dikenal sebagai salah satu suara ikonik radio di NTB, dengan karakter vokal yang kuat dan pengalaman panjang dalam membangun kedekatan emosional dengan pendengar.


Sementara itu, aspek teknis produksi seperti desain audio, musik, dan montage ditangani oleh Zamy Sangga Firdaus, kreator audio visual muda yang dikenal adaptif terhadap perkembangan konten digital dan piawai meramu atmosfer dramatik melalui suara.


Kolaborasi ini juga akan melibatkan penyiar legendaris serta pemain sandiwara radio yang pernah berjaya di era radio. Langkah ini dinilai sebagai upaya menghidupkan kembali kejayaan sandiwara radio sekaligus menjaga kualitas artistik produksi.


“Dengan menghadirkan kembali para aktor suara berpengalaman, saya berharap drama radio ini memiliki kualitas artistik yang kuat sekaligus menghadirkan nostalgia bagi generasi yang pernah hidup bersama kejayaan radio,” tandasnya.


Untuk menjaring talenta, tim produksi menggandeng komunitas veteran penyiar seperti Tenda Siar NTB dan Komunitas Penyiar Radio Kita. Proses audisi tengah disiapkan 5untuk mendapatkan pengisi suara terbaik


“Insyaallah proses audisi pengisi suara akan menghasilkan talent terbaik,” sebutnya.


Angkat Sisi Humanis Kehidupan Pepadu


Serial Napas Peresean direncanakan hadir dalam tujuh episode. Cerita berfokus pada perjalanan seorang anak yang tumbuh di lingkungan peresean, belajar tentang keberanian, luka, persahabatan, hingga makna kehormatan.


Produksi ini tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada publik luas melalui medium audio yang imajinatif.


“Saya membayangkan bagaimana kisah-kisah heroik para pepadu Peresean dapat dihidupkan kembali melalui medium audio,” ulas Sukri.


Ia menambahkan, radio memiliki kekuatan membangun imajinasi, sebagaimana era kejayaan sandiwara radio pada dekade 1980–1990-an.


“Kita ingin menghadirkan kembali pengalaman itu,  tetapi dengan cerita dari Lombok, dengan napas budaya Sasak yang kuat. Sebuah drama yang bukan hanya menghadirkan pertarungan, tetapi juga ymenampilkan perjalanan hidup, persahabatan, rivalitas, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Peresean,” tandasnya.


Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP. Dukungan tersebut dinilai sebagai bentuk ruang bagi inisiatif kreatif dalam merawat warisan budaya.


“Dukungan ini menjadi bukti bahwa negara memberi ruang bagi inisiatif kreatif masyarakat dalam merawat warisan budaya. Bagi saya pribadi, dukungan ini bukan sekadar bantuan program. 


Ini adalah kepercayaan bahwa cerita-cerita dari Lombok layak untuk diangkat dan dibagikan kepada publik yang lebih luas,” imbuhnya.


Tentang Program


Judul: Napas Presean dalam Sandiwara Radio

Jumlah Episode: 7

 Episode


Produser: M. Sukri AR


Penulis Naskah dan Ide Cerita:

Buyung Sutan Muhlis


Pembawa Cerita/Narator:

Esdarita


Teknik dan Montage:

Zami Sangga Firdaus


Sutradara :

Dedi Suhadi

Didukung oleh:

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia

melalui Program Dana Indonesiana

18/12/25

DPMD Loteng sosialisasi buku pedoman adat Sasak Masmirah

 
DPMD Loteng sosialisasi buku pedoman adat Sasak Masmirah

OPSINTB.com – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Lombok Tengah (Loteng) mensosialisasikan Buku Sasak Masmirah sebagai pedoman adat istiadat di daerah ini. Sosialisasi ini dihadiri Majelis Kerame Adat Sasak Loteng, tokoh adat, dan perwakilan lembaga adat desa dari seluruh kecamatan.


‘’Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya Sasak agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman,’’ kata Kepala DPMD Loteng, Lalu Rinjani, Rabu (17/12/2025).


Buku Sasak Masmirah disosialisasikan sebagai pedoman bersama, dengan tujuan menyatukan pemahaman dan pandangan mengenai adat dan budaya Sasak.


‘’Khususnya yang berkaitan dengan tata busana, bahasa, serta upacara adat,’’ imbuhnya.


Dengan adanya buku ini, masyarakat dapat memiliki rujukan yang jelas, sehingga dapat meminimalkan perbedaan persepsi dalam praktek adat istiadat di Loteng.


Adapun dalam proses penyusunannya, melibatkan Tim Bidang DPMD bekerjasama dengan Majelis Kerame Adat Sasak, sejumlah tokoh adat, dan unsur pemerintahan daerah.


‘’Kolaborasi ini memastikan bahwa isi buku tidak hanya berbasis nilai-nilai adat, tetapi juga selaras dengan konteks pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat saat ini,’’ terang Rinjani.


Rinjani mengakui buku ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, masukan, saran, dan kritik sangat diperlukan. Namun, dengan kehadirannya buku ini dapat mempersempit perbedaan pandangan mengenai hal yang sudah menjadi tradisi dan yang datang seiring perkembangan zaman.


Ketua Majelis Kerame Adat Sasak Loteng, Lalu Purnama Agung, mengatakan buku Sasak Masmirah disusun sebagai upaya melestarikan budaya Sasak, yang berintegritas. ‘’Baik untuk generasi saat ini yang mulai tergerus zaman, maupun generasi selanjutnya,’’ jelasnya.


Senada dengan Lalu Purnama, salah satu tokoh adat Sasak Loteng, H Lalu Putria, berharap buku ini bisa menjadi pedoman bagi masyarakat Sasak Loteng dalam menjalani kehidupan sosial.


‘’Semoga buku ini menjadi pedoman masyarakat Sasak Loteng untuk berinteraksi dengan alam dan sesama dalam kehidupan sosial yang baik,’’ harap pria asal Desa Ketara, Kecamatan Pujut itu. (wan)

27/11/25

Harmoni Metu Telu, Bupati Iron seperti pulang ke kampung sendiri

 
Harmoni Metu Telu, Bupati Iron seperti pulang ke kampung sendiri

OPSINTB.com - Langit berselimut awan hitam. Hujan pun tak kunjung reda.


Rintik kecilnya membasahi jalan beraspal. Airnya sanggup mengenai lubang-lubang kecil ditengah hotmik itu.


Tak plak membuat suasana sedikit dingin dibagian utara kaki Rinjani. Tepatnya di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lotim.


Pukul 15.30 waktu setempat. Hujan dengan rintik kecilnya masih mengguyur desa itu. Dinginnya pun masih terasa, buktinya banyak warga ditemani segelas kopi hanya untuk hangatkan badan.


Setengah jam berlalu. Masih dengan suasana dingin, tak menyurutkan mereka untuk menggelar ritual.


Seketika perempatan sebagai titik lokasi acara, dipadati warga. Mulai anak-anak, muda, tua laki dan perempuan memadati lokasi.


Kaum pria mengenakan baju putih, sapuq (ikat kepala) berselimut kain tenun berwarna hijau. Sedang perempuan berpakaian hitam jenis lambung dalam versi lengkap.


Tak ketinggalan dua pemimpin Lombok Timur juga turut hadir dengan kostum yang sama. Yakni Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin dan Wakil Bupati, H Moh Edwin Hadiwijaya. Keduanya ditemani pasangan masing-masing.


Layaknya rakyat, bupati dan wakil bupati serta istri mengikuti berbagai proses ritus di desa itu. Mulai tradisi midang, ritual metu telu, Betetulak hingga menikmati berbagai tontonan kesenian.


Di Desa Pengadangan, dua pemimpin ini melebur dengan rakyat untuk melaksanakan nilai warisan nenek moyang. Acara yang diikutinya ialah Pesona Budaya Pengadangan VII, mengangkat tema Metu Telu Nafas Harmoni di Tanah Sasak.


"Saya kalau di Pengadangan seperti pulang ke rumah sendiri," kata Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin, Rabu (26/11/2025).


Dia menceritakan, dirinya memang sering ke Pengadangan semasa sekolah. Pada tahun 78 hingga 80, saat libur sekolah pasti ke desa ini.


Baik datang sekedar tidur, dan main bersama rekan sebayanya. Tak heran jika dia datang diberikan selimut dan dibuatkan sayur yang khusus.


Jadi Pengadangan ia rasakan seperti desa sendiri. Lantaran itu dia berpesan acara tersebut agar terus dilaksanakan. 


Dia menekankan selain pelaksanaan kegiatan harus ditekankan dengan moral. Sebab, menurutnya, kegiatan itu tak hanya seremonial atau sekedar ramai-ramaian, tapi bentuk komitmen bersama menjaga budaya dan lestarikan.


Sebab budaya, kata Iron, akan membawa kepada keselamatan. Lantaran melalui hal itu persatuan dan kesatuan bisa dijaga.


"Pemerintah akan memperhatikan kegiatan ini, karena ini kegiatan positif," ucapnya.


Menurutnya kegiatan itu merupakan salah satu atraksi wisata. Lantaran itu dirinya menekankan kepada Dinas Pariwisata untuk membawa tamu mancanegara lebih banyak lagi.


Dikatakan Iron, tak semua desa punya hal semacam itu. Di Lotim, lanjutnya, hanya beberapa saja yang memilikinya.


Untuk mendukung hal itu, pihaknya berencana membangun vila di kawasan Timbanuh, sebagai tempat penginapan.


Lantaran itu dirinya kembali berpesan budaya itu jangan sampai pudar. Tapi harus diperjelas kembali dan terus dilaksanakan.


"Kita perjelas kembali, kita terus laksanakan," tekan H Iron.


Sementara itu, Kepala Desa Pengadangan, Iskandar, menerangkan metu telu bukan berarti waktu telu. Namun, merupakan pertemuan tiga unsur penting dalam bersosial masyarakat.


Yakni unsur agama, budaya, dan pemerintahan. Hukum ketiganya, kata dia, juga harus dipatuhi.


"Ketiga tokoh ini bersatu dan seirama. Insya Allah dengan begitu persatuan dan kesatuan akan utuh," ujarnya. (kin)

01/11/25

Paguyuban Sakra Millenial Bekerisan bangkitkan pusaka Sasak dari tidur panjang

 
Paguyuban Sakra Millenial Bekerisan bangkitkan pusaka Sasak dari tidur panjang

OPSINTB.com - Paguyuban Sakra Millenial Bekerisan, gelar pameran perdanya. Komunitas anak muda pecinta budaya asal Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, menggelar event budaya berskala nasional bertajuk Pagelaran Budaya dan Tosan Aji. 


Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat 31 Oktober sampai hari Minggu 2 November 2025, bertempat di Aula Bale Sangkep, Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.


Dalam pameran tersebut, ratusan keris ditampilkan. Mulai dari berbagai jenis keris, minyak keris, gandek, hingga benda-benda pusaka lainnya.


Tak hanya sekadar pameran, acara ini juga diramaikan dengan bursa jual beli keris dan tosan aji, dengan harga yang bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.


Ketua Paguyuban Sakra Millenial Bekerisan, Lalu Romi Sakraji mengatakan, kegiatan ini diinisiasi untuk menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal, khususnya budaya Sasak. Melalui pameran ini, banyak hal yang bisa kita gali dan lestarikan.


"Saya berharap anak-anak muda bisa lebih mencintai budaya kita sendiri, terutama budaya Sasak. Kalau bukan kita yang muda-muda ini yang membangkitkan budaya, siapa lagi?,"ucap Romi kepada opsintb.com, Sabtu (1/11/2025).


Meski baru pertama digelar, acara tersebut terasa kegiatan nasional. Lantaran tamu yang datang tidak hanya lokal tapi juga berbagai daerah seperti Bali, Jawa, Madura, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).


Selain pameran dan bursa keris, acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan tradisional, seperti nembang, musik-musik tradisonal, dan ritual budaya lainnya.


"Beberapa pusaka sakti kemarin sudah kita keluarkan ke sini, Alhamdulillah sudah kita pamerkan di belakang dan kita tempatkan khusus hari pertama kemarin," pungkasnya. (zaa)

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama