Budaya

03/11/26

Lenggak-lenggok para pejabat di Muslim Fashion Festival 2026

 
Lenggak-lenggok para pejabat di Muslim Fashion Festival 2026

OPSINTB.com - Sejumlah pejabat Eselon II Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) menjadi pusat perhatian di Acara Muslim Fashion Festival 2026 HUT ke-81 Loteng di Kawasan Car Free Night, Sabtu akhir pekan kemarin.


Pasalnya, para pejabat itu berjalan berlenggak-lenggok bak model di atas aspal yang disulap panitia sebagai catwalk. Mereka di antaranya: Kepala Diskominfo, H. Lalu Herdan dan Kepala Dinas Kesehatan dr Mamang Bagiansah.


Kendati terlihat malu-malu, namun keduanya tampil menawan ditemani pasangan masing-masing, dengan busana mewah hasil rancangan desainer lokal.


Ketua Dekranasda Loteng, Hj Baiq Nurul Aini menyebut, acara ini adalah wadah bagi desainer lokal untuk mengolah kain tenun tradisional menjadi busana muslim modern, elegan, tetapi tetap mengangkat identitas lokal.


Acara ini, Nurul melanjutkan, tidak bertujuan mencari pemenang, melainkan mendorong lahirnya desainer lokal untuk mengembangkan potensinya.


Kata Nurul, adapun kompetisi ini melombakan kategori yang belum pernah dilombakan. Dari 36 peserta, 20 orang desainer melaju ke babak berikutnya.


''Mereka berasal dari sejumlah kabupaten/kota. Seperti Loteng, Lobar, Lotim, Mataram, Bima, dan Dompu,'' ujarnya.


Ia menilai, acara ini sebagai upaya meningkatkan kualitas pelaku industri kreatif di Loteng, khususnya para penjahit agar mereka dapat mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kompetensi menjadi desainer.


Sementara itu, Sekda Loteng H Lalu Firman Wijaya menyatakan, tenun tradisional Loteng memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk busana bernilai ekonomi.


''Tidak terbatas pada penggunaan sebagai kain atau bagian dari pakaian adat,'' ucapnya.


Sebagai kabupaten yang menempatkan pariwisata sebagai sektor andalan, Firman melanjutkan, acara ini perlu dilanjutkan dan dijadikan agenda tahunan, karena dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sebagai pendukung pariwisata.


Sehingga, jika terselenggara di tahun-tahun mendatang, Firman berharap acara ini dapat melibatkan banyak peserta, dan mendatangkan juri profesional tingkat nasional.


''Dengan demikian para pemenang dan finalis memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan bakat dan menjadikan karya mereka sebagai bagian dari usaha kreatif yang berdampak ekonomi,'' tambahnya.


Melalui acara ini Pemkab Loteng berharap potensi kain tenun lokal semakin dikenal dan kreatifitas desainer lokal semakin berkembang. Industri fashion berbasis budaya mampu berkontribusi bagi perekonomian masyarakat dan pariwisata daerah. (iwn)

26/10/26

Bale Adat Limbungan perkenalkan pesona budaya lewat lensa budaya

Bale Adat Limbungan perkenalkan pesona budaya lewat lensa budaya
OPSINTB.com - Upaya memperkenalkan kembali Bale Adat Limbungan kepada masyarakat luas dilakukan melalui kegiatan Lensa Budaya: Revitalisasi Rumah Adat Limbungan melalui Tradisi Merarik, Minggu (25/10/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Dusun Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersebut memadukan pertunjukan tradisi merarik, lomba fotografi menggunakan ponsel, dan pertunjukan budaya.


Kegiatan ini digagas oleh Dr. Sri Agustina, M.Pd., dengan melibatkan pelajar, mahasiswa, serta masyarakat adat setempat. Lebih dari 200 orang hadir untuk menyaksikan sekaligus mengikuti rangkaian kegiatan yang bertujuan memperkenalkan potensi budaya Limbungan kepada publik.


Dalam sambutannya, Sri Agustina mengatakan bahwa Bale Adat Limbungan masih belum banyak dikenal, baik oleh masyarakat umum maupun wisatawan yang berkunjung ke Pulau Lombok dan wilayah NTB.


“Jadi, untuk memperkenalkan kembali rumah adat Limbungan, saya menggunakan budaya merarik melalui lomba fotografi dengan tujuan untuk melestarikan rumah adat Limbungan,” ungkapnya.


Ia berharap generasi muda dan masyarakat setempat dapat mengambil peran dalam memperkenalkan Bale Adat Limbungan, mulai dari tingkat lokal dan regional hingga nasional. Menurutnya, semakin luasnya pengenalan terhadap kawasan adat tersebut diharapkan dapat mendorong kunjungan wisatawan dan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.


“Karena dengan banyaknya kunjungan wisatawan, kita tahu bahwa hal itu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa, bahkan daerah kita,” tegasnya.


Edukasi tradisi merarik kepada generasi muda!


Selain memperkenalkan rumah adat, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai tradisi merarik dalam budaya masyarakat Sasak. Sri Agustina menilai masih terdapat pemahaman yang kurang tepat mengenai tradisi tersebut, termasuk anggapan yang mengaitkannya dengan praktik pernikahan usia dini.


“Sehingga saya memperkenalkan kembali budaya tradisi merarik ini guna menghilangkan stigma akan pernikahan usia dini karena tradisi merarik, khususnya di Limbungan,” jelasnya.


Melalui pertunjukan budaya, peserta diperkenalkan pada sejumlah tahapan dalam tradisi merarik, mulai dari midang, nyelabar, maling atau mbait, merarik, nyongkolan, hingga bales lampak nae.


Pengenalan tahapan tersebut diharapkan dapat membantu generasi muda memahami proses dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan tradisi lokal melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.


Sebagai bagian dari rangkaian acara, panitia menggelar lomba fotografi menggunakan telepon seluler dengan total hadiah Rp1,5 juta. Peserta diminta mengabadikan momen kegiatan dan mengunggah hasil karyanya ke akun media sosial masing-masing.


Jumlah tanda suka (like) dan komentar turut menjadi salah satu unsur penilaian lomba. Skema ini sekaligus dimaksudkan untuk memperluas jangkauan promosi Bale Adat Limbungan melalui media sosial, dengan melibatkan Komunitas phonegraphy Lombok sebagai bagian dari dewan juri.


Sri Agustina berharap kegiatan tersebut dapat mendorong anak-anak muda Limbungan untuk terus mengasah kemampuan, meningkatkan kreativitas, dan menghasilkan karya, khususnya di bidang fotografi.


“Anak-anak muda Limbungan harus terus mengasah kemampuan, lebih kreatif dan berkarya, khususnya melalui fotografi agar rumah adat ini semakin banyak yang tahu,” tutupnya.


Pemerintah desa apresiasi upaya pelestarian budaya


Perwakilan Pemerintah Desa Perigi yang hadir dalam kegiatan tersebut, yakni sekretaris desa, Bapak Moh. Ihsan effendi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Lensa Budaya. Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap tradisi merarik sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.


“Dengan melihat pertunjukan proses merarik ini, semoga kita semua dapat melestarikan kembali budaya atau tradisi merarik sebagai warisan terdahulu kita. Karena setiap tahapannya ada makna dan filosofi yang baik,” ujarnya.


Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi merarik dapat memiliki perbedaan antara satu desa dengan desa lainnya. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak menghilangkan tujuan yang terkandung dalam tradisi masing-masing.


Menurutnya, lomba fotografi dan keterlibatan para kreator konten dapat menjadi alternatif untuk menyosialisasikan tradisi merarik kepada masyarakat luas, sekaligus mendorong keberlanjutan pelestarian budaya lokal.


Peserta berharap Limbungan semakin dikenal


Antusiasme terhadap potensi Bale Adat Limbungan juga disampaikan Elsa Fitri Rahma, salah seorang peserta kegiatan. Ia mengaku tertarik dengan kawasan adat tersebut, terutama karena luas wilayah dan kehidupan masyarakatnya.


“Bale Adat Limbungan mirip dan bagus seperti Desa Adat Sade. Karena wilayahnya luas dan penduduknya lumayan ramai. Atau mungkin ini Desa Sade kedua, ya,” tuturnya sambil tersenyum.


Elsa berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kunjungan ke Bale Adat Limbungan sehingga semakin banyak orang mengenal dan menyaksikan kekayaan budaya khas Lombok.


“Semoga setelah ini Bale Adat Limbungan ramai, banyak pengunjung dan melihat budaya Bale Adat khas Lombok,” tutupnya.


Melalui perpaduan pertunjukan tradisi, fotografi, dan promosi digital, Lensa Budaya diharapkan dapat menjadi salah satu upaya memperkenalkan Bale Adat Limbungan kepada generasi muda dan khalayak yang lebih luas, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal. (red)

09/09/26

Gawe Adat Inan Dowe II, merajut identitas Loyok yang mendunia

 
Gawe Adat Inan Dowe II, merajut identitas Loyok yang mendunia

OPSINTB.com - Pagi itu, Desa Loyok, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan adat. Desa yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan bambu di Lombok Timur tersebut kembali menegaskan identitasnya melalui Event Budaya Gawe Adat Inan Dowe II.


Di tengah perubahan zaman, tradisi leluhur itu dihidupkan kembali. Bukan semata sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat, mengenalkan warisan kepada generasi muda, sekaligus mengembangkan anyaman bambu sebagai kekuatan ekonomi dan pariwisata desa.


Bagi masyarakat Loyok, bambu bukan sekadar bahan kerajinan. Di balik helaian bambu yang dipilah, dibelah dan dianyam, tersimpan cerita tentang kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Ketua Panitia Gawe Adat Inan Dowe II, Lalu Arya Karma, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk meneruskan warisan leluhur kepada generasi muda.


Menurutnya, secara filosofi, Inan Dowe memiliki makna yang erat dengan identitas dan kepemilikan masyarakat terhadap kerajinan bambu yang telah diwariskan secara turun-temurun.


"Inan itu berarti induk atau sumber, sedangkan dowe berarti kepunyaan. Jadi Inan Dowe secara bahasa dapat dimaknai sebagai induk kepunyaan kami, yaitu kerajinan atau anyaman bambu," kata Lalu Arya Karma, Rabu (9/9/2026).


Ia menjelaskan, tradisi tersebut memiliki tujuan untuk mempererat silaturahmi dan persaudaraan masyarakat sekaligus mengembangkan kerajinan anyaman bambu sebagai potensi ekonomi dan budaya Desa Loyok.


Gawe Adat Inan Dowe tahun ini merupakan pelaksanaan yang kedua. Panitia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak sektor, khususnya kebudayaan dan pariwisata.


"Alhamdulillah, kegiatan ini sudah dua kali kita laksanakan. Mudah-mudahan ke depan bisa dilakukan lebih meriah dan melibatkan banyak sektor, terutama kebudayaan dan pariwisata," ujarnya.


Lalu Arya Karma mengatakan, kerajinan bambu di Desa Loyok telah berkembang sejak generasi ke generasi sehingga sulit menentukan secara pasti kapan tradisi tersebut pertama kali dimulai.


Untuk memperkuat makna sejarah Desa Loyok, rangkaian kegiatan juga diisi dengan ziarah makam. Prosesi tersebut menjadi simbol bahwa Loyok merupakan salah satu desa tua yang memiliki sejarah dan warisan budaya yang kuat.


Setelah ziarah makam, dilanjutkan dengan prosesi simbolik penyerahan geben atau simbol adat oleh pemangku kebijakan kepada masyarakat sebagai bagian dari rangkaian Gawe Adat Inan Dowe.


Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan dampak positif terhadap masyarakat, terutama dari sisi ekonomi dan pariwisata.


"Dari sisi ekonomi, kita lihat dari pemesanan geben dan kelengkapan properti. Masyarakat bahkan sampai kewalahan memenuhi pesanan. Dari sisi pariwisata juga alhamdulillah Desa Loyok semakin dikenal luas," katanya.


Ia menyebut kunjungan wisatawan ke Desa Loyok saat ini cukup ramai. Sejumlah wisatawan yang mengikuti program perjalanan dari berbagai destinasi di Lombok diarahkan untuk mengunjungi Desa Loyok guna melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan bambu.


Wisatawan tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi juga mendapat kesempatan belajar membuat anyaman secara langsung.


"Biasanya ada program dari tamu luar untuk belajar mengenal kerajinan kita, mulai dari prosesnya sampai jadi. Mereka juga ikut belajar sendiri," jelasnya.


Dalam proses pembuatan anyaman bambu, terdapat sejumlah tahapan yang dilakukan para pengrajin, mulai dari ngares atau menguliti bambu, memilah dan membelah bambu menjadi kepingan, kemudian menghaluskannya sebelum dianyam.


Tradisi menganyam geben sendiri lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Untuk memudahkan wisatawan yang datang dalam rombongan, para pengrajin biasanya dikumpulkan di sejumlah lokasi pembelajaran sehingga proses edukasi dapat dilakukan secara bersama.


Pada musim kunjungan wisatawan atau high season, jumlah wisatawan yang datang melalui program daily tour disebut dapat mencapai lebih dari 1.000 orang per bulan.


Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan pada Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Lalu Abdurrahim, mengapresiasi pelaksanaan Gawe Adat Inan Dowe II.


Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat, khususnya generasi muda Desa Loyok, ikut mengambil peran dalam pemajuan kebudayaan.


Menurutnya, kerajinan bambu yang diwariskan masyarakat Desa Loyok merupakan bagian dari kekayaan intelektual komunal yang memiliki nilai budaya sekaligus ekonomi.


"Ini acara yang luar biasa. Orang-orang tua dulu di sini bisa menyuguhkan hasil kekayaan intelektual komunalnya yang berada di sini, berupa seni kriya," ujarnya.


Lalu Abdurrahim melihat adanya perkembangan kreativitas dalam produk anyaman bambu. Jika sebelumnya pewarnaan lebih banyak menggunakan bahan alami seperti getah kayu, kini para pengrajin telah menggunakan berbagai bahan pewarna dan pelitur.


Tidak hanya dari sisi warna, perkembangan juga terlihat dari motif dan bentuk produk yang semakin beragam.


"Motifnya ini harus segera kita patenkan. Ini harus menjadi pengakuan hukum," bebernya


Menurutnya, produk kerajinan Desa Loyok kini tidak lagi sebatas bentuk tradisional seperti sok atau sokasi, tetapi telah berkembang menjadi berbagai produk fungsional dan dekoratif, seperti tempat sampah, bejana rumah tangga hingga pot bunga dan pelapis berbagai benda.


Kreativitas tersebut, kata dia, harus terus diwariskan kepada generasi muda agar kerajinan lokal Desa Loyok mampu berkembang dan memiliki daya saing lebih luas.


"Kita akan memberikan pewarisan kepada anak generasi muda sehingga mereka pada zamannya juga memiliki kreasi dan kreativitas yang lebih mendunia," ujarnya.


Ia menambahkan, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB dalam waktu dekat akan terus menggali berbagai potensi lokal yang ada di Desa Loyok untuk kemudian dikembangkan menjadi branding daerah.


Potensi tersebut diharapkan dapat masuk ke sektor UMKM dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.


Menurutnya, penguatan sejarah dan identitas lokal menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai jual produk budaya, terutama di mata wisatawan mancanegara.


"Kita melihat di daerah lain bagaimana mereka membangun pondasi dasar atau sejarah mereka, kemudian dimunculkan ke permukaan sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Bagi tamu mancanegara, karya-karya seperti ini menjadi sesuatu yang unik, terangnya


Pemerintah Provinsi NTB, melalui Dinas Kebudayaan, menyatakan siap mendukung gerakan masyarakat dan komunitas pemuda Desa Loyok dalam menjaga serta mengembangkan warisan budaya tersebut.


"Kami sangat bersyukur atas gerakan para pemuda-pemudi di Desa Loyok. Mereka bisa membantu pemerintah secara bersama-sama memajukan kebudayaan. Ini bagian dari upaya mewujudkan NTB yang makmur dan mendunia," pungkasnya. (zaa)

Desain detail rumah adat Sade baru 20 persen

 
Desain detail rumah adat Sade baru 20 persen

OPSINTB.com - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), H Lalu Firman Wijaya, menyebut detail bangunan rumah-rumah adat Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut telah mencapai 20 persen. 


Detail desain dan konsep penataan ulang rumah adat Sade dirancang tim ahli arsitektur Universitas Mataram (Unram).


''Detailnya belum, tapi kalau desain gambar sudah 80 persen,'' kata Firman pada wartawan dikonfirmasi Rabu (9/9/2026).


Dalam rekonstruksi ulang ini, Firman melanjutkan, sejumlah lembaga, baik dari kementerian dan NGO dalam usulannya agar menyediakan prasarana keselamatan bangunan atau mitigasi bencana.


Pemda Loteng sendiri nantinya akan masuk bagian dari tim penyedia prasarana keselamatan bangunan. Kemudian mendesain akses jalan agar mobil pemadam bisa masuk ke dusun adat.


''Kemarin kan yang jadi soal yang di sisi belakang itu kan tidak bisa terjangkau mobil pemadam. Oleh karena itu, nanti kita buka lewat samping. Itu butuh waktu,'' imbuhnya.


Berdasarkan informasi terbaru yang berhasil dihimpun opsintb.com, sejak pemasangan tiang dalam acara Nyemulak, belum ada masyarakat yang mulai membangun rumah mereka.


Meski sebagian di antaranya telah mulai menyiapkan bahan-bahan.


Berapa banyak kebutuhan ilalang untuk rekonstruksi?


Sanah Ardinata, salah seorang warga Sade menyebut, rumah dengan ukuran sedang ke besar membutuhkan 80-100 pikul ilalang atau 160-200 ikat, dengan kisaran harga per pikulnya Rp110-120 ribu.


''Beda lagi upah tukang anyam atau tukang begapit,'' kata Sanah.


Kabarnya, seperempat kebutuhan ilalang warga Sade telah dibayar oleh dua warga negara Australia sebagai bentuk donasi.


Dijelaskan, jika tidak sedang terkena musibah, begapit biasanya dilakukan oleh warga sekitar. Namun, dengan musibah ini warga harus mengeluarkan upah untuk mempercepat proses.


''Syukur juga kita bisa dibantu warga dari dusun sebelah,'' bebernya. Ia menambahkan, proses pergantian ilalang dalam satu rumah sendiri dilakukan sekali lima tahun. Tergantung kondisi ilalang yang dipakai untuk atap.


Selain ilalang, bahan utama dalam bangunan rumah adat Sade adalah bambu hutan. Penggunaan bambu hutan sendiri, karena dikenal alot. Sehingga rangka dan pagar rumah-rumah adat Sade bisa bertahan puluhan tahun. (wan)

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama