OPSINTB.com - Rina Hastuti tak pernah menyangka namanya disebut sebagai peringkat satu kader posyandu berprestasi bidang kesehatan. Nominasi ini menjadikan Rina sebagai kader terbaik Provinsi NTB dan berhak maju ke tingkat nasional.
Keberhasilan Rina menjadi tren positif bagi posyandu di Gumi Patuh Karya. Dalam perjalanannya, Lombok Timur sudah tiga kali mewakili NTB di tingkat nasional dalam urusan posyandu.
Tahun 2023, Shalatiyah, kader Posyandu Serumpun Bambu 1 Desa Labuhan Lombok, dengan inovasi “Bioskop Kita”.
Tahun 2024, Baiq Nurullah Hidayati, kader Posyandu Saroja Desa Rarang, dengan inovasi “Tancap Terus” (singkatan dari Taman Baca Posyandu untuk Generasi Penerus).
Pada tahun 2026 ini giliran Rina Hastuti, kader Posyandu Pelangi Rinjani di Lingkungan Bagek Longgek Barat, Kelurahan Rakam, Kecamatan Selong, yang melenggang ke tingkat nasional dengan inovasi Kelas Remaja Hebat (Kerabat).
Tak heran, posyandu di Kabupaten Lombok Timur menjadi perbincangan hangat. Hal ini disebabkan oleh deretan prestasi dan inovasinya dalam melayani kesehatan masyarakat di tingkat paling dasar.
Kepada opsintbcom, Rina Hastuti menuturkan bahwa semuanya berangkat dari keresahan melihat nol kehadiran remaja saat posyandu. Padahal program posyandu saat ini sudah terintegrasi layanan primer (ILP) yang melayani seluruh siklus hidup, mulai dari bayi, balita, ibu hamil, remaja usia sekolah, usia produktif, hingga lansia.
“Mengamati beberapa tahun terakhir, mereka (rekan-rekan kader Rina) tidak pernah melihat sasaran anak-anak remaja ini datang ke posyandu,” tutur Rina kepada opsintbcom melalui sambungan telepon, Sabtu malam (21/8/2026).
Diakuinya, usia remaja di lingkungan itu memang tengah bersekolah. Akibatnya setiap tahun dalam laporannya, angka kehadiran tetap nol.
Oleh karena itu, Rina mencoba memutar otak agar anak usia remaja bisa hadir saat posyandu untuk memeriksakan kesehatan mereka setiap sebulan sekali. Dari situlah, inovasi Kerabat lahir, menyasar remaja yang berusia 10 sampai 18 tahun, bahkan hingga 25 tahun.
Untuk mewujudkan pelayanan remaja itu, Posyandu Pelangi Rinjani berkolaborasi lintas sektor, salah satunya dengan BKKBN.
Setelah inovasi itu diterapkan, perubahan pun datang. Akhirnya angka nol pecah telur dengan bertambahnya kehadiran usia remaja di lokasi posyandu tersebut.
“Alhamdulillah, berangkat dari nol jadi 5, 7, 8, 10, 11 orang. Alhamdulillah semakin bertambah. Bulan kemarin alhamdulillah sampai 30 orang,” sebutnya.
Menjalankan program ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan utamanya adalah waktu. Sebab, kata dia, usia remaja tengah aktif bersekolah saat jadwal posyandu tiba. Terlebih, biasanya program posyandu dilaksanakan pagi hari.
Oleh karena itu, khusus untuk remaja, pihaknya mengagendakan kegiatan sore hari, saat lebih banyak dari mereka sudah tidak lagi memiliki kesibukan.
Itu pun, tuturnya, masih ada beberapa remaja yang bersekolah atau mengikuti kegiatan sekolah hingga sore hari. Namun, hal tersebut tidak membuat para kader di lingkungan tersebut patah semangat. Mereka terus berjalan perlahan, yang pada akhirnya berhasil memecah telur.
Syukurnya, imbuh Rina, mereka saling mengajak satu sama lain dan bertukar cerita perihal pelayanan yang didapat di posyandu. Sehingga, angka kehadiran tiap bulannya mengalami tren positif.
Keberhasilan inovasi Kerabat juga lantaran keterlibatan banyak pihak, seperti Kepala Lingkungan, RT, kader, Pemerintah Kelurahan Rakam, Kecamatan Selong, Puskesmas, komunitas parenting (Kren) Lombok, Duta Gender, UPT DP3AK Selong, hingga dukungan dari Dinas Kesehatan.
“Kalau tidak ada dukungan lintas sektor ini, Kerabat tidak akan jalan,” terangnya.
Dengan datang ke posyandu, remaja-remaja di lingkungan setempat mendapatkan layanan kesehatan, seperti pengukuran berat dan tinggi badan, lingkar perut, dan screening anemia.
Paling penting, data-data seperti anemia dijadikan bahan untuk mengambil langkah guna menyelamatkan generasi muda. Dengan melakukan screening, pihaknya jadi mengetahui jumlah penderita anemia di lingkungan itu. Kemudian, mereka yang menderita anemia diberikan tablet tambah darah dari Puskesmas.
“Kita tugasnya mendampingi agar mereka meminum obat secara rutin. Sebab, remaja usia sekolah rentan terkena anemia. Lebih jauh lagi, Kerabat menjadi salah satu langkah memutus stunting yang dilakukan dari hulu,” ucapnya.
Dia berharap program Kerabat terus hidup dan dilaksanakan secara rutin. Begitu juga dengan dukungan lintas sektor, mulai dari orang tua, tokoh masyarakat, guru, dan tenaga pendidik lainnya, agar ikut mendorong program ini terus dilakukan.
Dia meyakini generasi emas 2045 bisa tercapai jika dipersiapkan dengan matang mulai dari saat ini.
Dia menyerukan agar para remaja, khususnya di lingkungan tersebut, terus aktif datang ke posyandu untuk memeriksakan kesehatan secara rutin. Sebab, program Kerabat bukan hanya untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara umum, tetapi juga bisa melahirkan remaja tangguh yang tidak mudah terpapar isu-isu narkoba atau penyimpangan perilaku remaja lainnya.
“Kami juga para kader berharap ada bimbingan atau dibekali dengan pengetahuan agar bisa menjadi kader atau pendamping yang baik untuk anak remaja,” harapnya. (kin)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami