Tren penyebarang kasus HIV di Lotim mengkhawatirkan - OPSINTB.com | News References

07/05/26

Tren penyebarang kasus HIV di Lotim mengkhawatirkan

Tren penyebarang kasus HIV di Lotim mengkhawatirkan

 
Tren penyebarang kasus HIV di Lotim mengkhawatirkan

OPSINTB.com - Tren penyebaran virus HIV/AIDS di wilayah kerja Puskesmas Selong, Lombok Timur memasuki fase yang mengkhawatirkan. Penyakit menular ini sebelumnya didominasi kelompok pekerja luar daerah, namun kini mulai menyasar usia produktif hingga remaja. 


Maraknya penularan ini ditengarai akibat maraknya praktik prostitusi daring melalui aplikasi online. Bahaya laten virus satu ini tengah mengintai di Gumi Patuh Karya.


Kepala Puskesmas Selong, Baiq Lilik Setiawati mengungkapkan, pada triwulan pertama tahun 2026 pihaknya telah menemukan satu kasus baru HIV. Padahal, target yang diharapkan tahun ini adalah nihil kasus baru.


"Jadi target nol itu sudah pecah, karena tahun 2025 ada dua orang," ucap Lilik saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (7/5/2026).


Berdasarkan data kumulatif, saat ini terdapat 16 penderita HIV yang berada dalam pembinaan pihak puskesmas. Sebagian di antaranya bukan warga asli Selong, namun tetap memilih menjalani pengobatan dan koordinasi di puskesmas tersebut karena merasa nyaman dengan pelayanan serta jaminan kerahasiaan pasien.


Menurut Lilik, pola penularan HIV kini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya banyak ditemukan pada warga yang memiliki riwayat bekerja di luar daerah, kini penularan justru mulai banyak terjadi di kalangan usia sekolah melalui interaksi di dunia maya.


"Sekarang penyebarannya sudah mulai beranjak ke usia-usia muda. Informasi yang kita dapatkan dari penderita, pemicunya dari online. Jadi pemesanan-pemesanan itu lewat online," terangnya.


Menurutnya, pelajar tingkat SMA menjadi kelompok yang cukup rentan. Hal itu dilatarbelakangi gaya hidup yang semakin bebas.


Hal itu terbukti dengan kasus baru diketahui setelah penderita mengalami gejala Infeksi Saluran Kemih (ISK).



Sebagai langkah pencegahan, Puskesmas Selong memperkuat edukasi dan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Para siswa diberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, batasan tubuh, serta risiko perilaku seks bebas.


Selain HIV/AIDS, pihak puskesmas juga mencatat tingginya angka kasus sifilis atau yang dikenal masyarakat sebagai raja singa. 


Kata Baiq Lilik, penyakit ini berbeda dengan HIV. Sifilis, paparbya, masih dapat disembuhkan secara total apabila penderita menjalani pengobatan rutin dan teratur.


Untuk menjangkau kelompok berisiko, pihak puskesmas rutin menggelar pemeriksaan kesehatan di ruang publik, termasuk di taman kota Selong.


"Kami punya program sekali sebulan pemeriksaan di taman kota Selong. Kami turun untuk menyasar kelompok berisiko, termasuk pemeriksaan infeksi lainnya,"terangnya


Terkait penanganan terhadap 16 penderita HIV yang masuk dalam daftar pembinaan, pihak puskesmas menegaskan tidak menerapkan karantina seperti pada masa pandemi COVID-19.


Penanganan lebih difokuskan pada pendampingan, edukasi, serta upaya memutus rantai penularan.


"Penanganannya tidak ada karantina karena ini masalah privasi, tidak boleh dipublikasikan. Alhamdulillah mereka proaktif, sehingga kita terus berikan edukasi agar tidak menyebarkan lagi ke orang lain. Kita juga minta mereka berterus terang kepada pasangan masing-masing," pungkasnya. (zaa)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama