OPSINTB.com - Penurunan jumlah stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita di Lombok Tengah (Loteng) terus menunjukkan tanda-tanda positif. Berdasarkan data terbaru, jumlah penderita stunting berada pada posisi 9,81 persen atau sekitar 7.000 penderita.
Wakil Bupati Loteng, HM Nursiah dalam jumpa pers usai Rapat Rembuk Stunting di Ruang Rapat Bupati Loteng pada Senin (6/4/2026) mengatakan penurunan ini adalah berkat kerja kolektif seluruh stakeholder, baik dari tingkat terbawah sampai atas.
‘’Ini adalah hasil kerja keras kita, baik itu kadernya, peran pemerintah desa, kecamatan, puskesmas dan dinas terkait,’’ kata Nursiah.
Oleh sebab itu, Nursiah melanjutkan, program-program yang berkaitan dengan penurunan angka stunting harus terus digalakkan guna menekan jumlahnya.
‘’Program-program yang berlabel stunting harus terus kita galakkan. Contoh: Dinas Sosial; banyak program yang berkaitan dengan kemiskinan yang berhubungan dengan stunting. Pun dengan dinas-dinas lainnya,’’ imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan Loteng, dr Mamang Bagiansyah menambahkan, kondisi gagal tumbuh pada balita tidak hanya disebabkan masalah gizi, tetapi berkaitan juga dengan perilaku asuh orang tua. Seperti perilaku orang tua yang sering memberikan makanan instan kepada anak.
‘’Dari hasil rembuk tadi, berdasarkan laporan; stunting tidak hanya disebabkan faktor gizi. Pola asuh kita sebagai orang tua juga berpengaruh, seperti terlalu sering memberikan makanan instan, snek dan lain-lain kepada anak,’’ ungkap Mamang.
Adapun beberapa kecamatan di Loteng yang masih darurat stunting adalah Kecamatan Pringgarata, Kopang, Batukliang dan Jonggat. Padahal, wilayah-wilayah tersebut adalah wilayah yang subur dan kebutuhan pangan tercukupi.
‘’Jadi, walaupun belum didalami secara riset, kami sering turun ke rumah-rumah masyarakat. Rumahnya bagus, orang tuanya PNS, tenaga kesehatan, tapi anaknya stunting. Jadi, bukan soal ekonomi saja, tapi juga faktor perilaku atau pola asuh orang tua,’’ ujarnya.
Pemda Loteng sendiri tengah mengupayakan angka stunting tahun ini berada di bawah 9 persen. Oleh karenanya, program-program pengentasan stunting, seperti Lempot Stunting akan dilanjutkan.
Untuk diketahui, Progam Lempot Stunting adalah salah satu program unggulan Pemda Loteng untuk menekan jumlah balita kerdil. Perwujudan program ini adalah dengan memberikan kandang ayam petelur beserta ayam dan pakannya kepada keluarga kurang mampu. (wan)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami