OPSINTB.com - Pemkab Lombok Timur melalui Dinas Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan harga cabai yang kerap terjadi saat musim hujan, terutama pada momentum Ramadan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan delapan unit screen house. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mendukung budidaya cabai di luar musim secara lebih efektif.
"Di screen house ini hujan tidak bisa masuk dan hama lebih terkendali. Jadi tanaman bisa tetap berproduksi meskipun di tengah musim hujan," ucap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Lalu Fathul Kasturi, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi daerah. Lonjakan harga yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh penurunan produksi akibat curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung lama.
Fathul menjelaskan, luas tanam cabai di Lombok Timur pada Oktober hingga Desember 2025 mencapai sekitar 6.600 hektar. Tanaman tersebut diharapkan panen pada Januari. Namun karena memasuki musim hujan, banyak lahan yang tergenang air sehingga produksi menurun drastis.
"Tanaman memang tetap berproduksi, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Pasokan ke pasar berkurang dan harga pun melonjak. Kondisi ini hampir selalu terjadi setiap musim hujan," jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai melalui sistem tabulampot (tanaman buah dalam pot) maupun menggunakan polybag dan ember bekas.
Selain itu, pemanfaatan pematang sawah juga dimanfaatkan dengan menanam sayur dan cabai seperti pola lama yang pernah diterapkan petani.
“Kita ini daerah pertanian. Ironis kalau harga cabai mahal di daerah sendiri. Itu seperti tikus mati di lumbung padi,” tegasnya.
Pada 2025 lalu pemerintah daerah mulai mengimbau seluruh ASN agar minimal menanam tiga polybag cabai di rumah masing-masing. Sementara pada 2026, Pemkab Lotim berencana mendistribusikan bibit cabai dalam polybag ke seluruh PKK, dasawisma, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di 254 desa secara proporsional.
"Langkah ini kita harapkan mampu menjaga stabilitas harga di tingkat rumah tangga, meskipun harga di pasar atau di Kota Mataram mengalami kenaikan," terangnya.
Selain itu, Dinas Pertanian juga melakukan operasi pasar di 20 titik di Kabupaten Lombok Timur, termasuk di Taman Kota Selong. Dalam operasi tersebut, cabai yang di pasaran mencapai Rp 85 ribu per kilogram dijual seharga Rp 15 ribu per kilogram. Pembeli juga mendapatkan bonus bibit cabai.
Pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan Dinas Perdagangan dan Bulog dalam kegiatan pasar murah untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
"Ke depan, pembangunan dan pemanfaatan screen house serta gerakan tanam cabai di pekarangan diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga ketersediaan dan kestabilan harga cabai, khususnya saat musim hujan dan periode permintaan tinggi seperti Ramadan," tandasnya. (zaa)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami