OPSINTB.com - Langit berselimut awan hitam. Hujan pun tak kunjung reda.
Rintik kecilnya membasahi jalan beraspal. Airnya sanggup mengenai lubang-lubang kecil ditengah hotmik itu.
Tak plak membuat suasana sedikit dingin dibagian utara kaki Rinjani. Tepatnya di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lotim.
Pukul 15.30 waktu setempat. Hujan dengan rintik kecilnya masih mengguyur desa itu. Dinginnya pun masih terasa, buktinya banyak warga ditemani segelas kopi hanya untuk hangatkan badan.
Setengah jam berlalu. Masih dengan suasana dingin, tak menyurutkan mereka untuk menggelar ritual.
Seketika perempatan sebagai titik lokasi acara, dipadati warga. Mulai anak-anak, muda, tua laki dan perempuan memadati lokasi.
Kaum pria mengenakan baju putih, sapuq (ikat kepala) berselimut kain tenun berwarna hijau. Sedang perempuan berpakaian hitam jenis lambung dalam versi lengkap.
Tak ketinggalan dua pemimpin Lombok Timur juga turut hadir dengan kostum yang sama. Yakni Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin dan Wakil Bupati, H Moh Edwin Hadiwijaya. Keduanya ditemani pasangan masing-masing.
Layaknya rakyat, bupati dan wakil bupati serta istri mengikuti berbagai proses ritus di desa itu. Mulai tradisi midang, ritual metu telu, Betetulak hingga menikmati berbagai tontonan kesenian.
Di Desa Pengadangan, dua pemimpin ini melebur dengan rakyat untuk melaksanakan nilai warisan nenek moyang. Acara yang diikutinya ialah Pesona Budaya Pengadangan VII, mengangkat tema Metu Telu Nafas Harmoni di Tanah Sasak.
"Saya kalau di Pengadangan seperti pulang ke rumah sendiri," kata Bupati Lombok Timur, H Haerul Warisin, Rabu (26/11/2025).
Dia menceritakan, dirinya memang sering ke Pengadangan semasa sekolah. Pada tahun 78 hingga 80, saat libur sekolah pasti ke desa ini.
Baik datang sekedar tidur, dan main bersama rekan sebayanya. Tak heran jika dia datang diberikan selimut dan dibuatkan sayur yang khusus.
Jadi Pengadangan ia rasakan seperti desa sendiri. Lantaran itu dia berpesan acara tersebut agar terus dilaksanakan.
Dia menekankan selain pelaksanaan kegiatan harus ditekankan dengan moral. Sebab, menurutnya, kegiatan itu tak hanya seremonial atau sekedar ramai-ramaian, tapi bentuk komitmen bersama menjaga budaya dan lestarikan.
Sebab budaya, kata Iron, akan membawa kepada keselamatan. Lantaran melalui hal itu persatuan dan kesatuan bisa dijaga.
"Pemerintah akan memperhatikan kegiatan ini, karena ini kegiatan positif," ucapnya.
Menurutnya kegiatan itu merupakan salah satu atraksi wisata. Lantaran itu dirinya menekankan kepada Dinas Pariwisata untuk membawa tamu mancanegara lebih banyak lagi.
Dikatakan Iron, tak semua desa punya hal semacam itu. Di Lotim, lanjutnya, hanya beberapa saja yang memilikinya.
Untuk mendukung hal itu, pihaknya berencana membangun vila di kawasan Timbanuh, sebagai tempat penginapan.
Lantaran itu dirinya kembali berpesan budaya itu jangan sampai pudar. Tapi harus diperjelas kembali dan terus dilaksanakan.
"Kita perjelas kembali, kita terus laksanakan," tekan H Iron.
Sementara itu, Kepala Desa Pengadangan, Iskandar, menerangkan metu telu bukan berarti waktu telu. Namun, merupakan pertemuan tiga unsur penting dalam bersosial masyarakat.
Yakni unsur agama, budaya, dan pemerintahan. Hukum ketiganya, kata dia, juga harus dipatuhi.
"Ketiga tokoh ini bersatu dan seirama. Insya Allah dengan begitu persatuan dan kesatuan akan utuh," ujarnya. (kin)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami