Gadis cantik Liana, sang perintis Putri Naga - OPSINTB.com | News References

29/08/25

Gadis cantik Liana, sang perintis Putri Naga

Gadis cantik Liana, sang perintis Putri Naga

 
Gendang beleq putri naga
Foto: Liana, Owner Gendang Beleq Putri Naga Kayulian.

OPSINTB.com - Tabuhan gendang terdengar mengalun dari rumah Liana, warga Dusun Kayulian, Desa Pringga Jurang, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur. Tak plak membuat warga sekitar terheran.


Sebagian berfikir ada upacara di desa itu. Sisanya, mungkin karena terjebak masa lalu sehingga bunyinya terdengar kembali.


Sebab, di dusun itu sudah lama tak terdengar suara gendang. Warga setempat hanya bisa menikmati alat kesenian itu saat ada upacara adat, itu pun milik orang luar.


Saking lamanya tak terdengar, bagi warga Kayulian, suara gendang bagi oase di tengah padang tandus. Lantaran harus nunggu ada upacara dulu, baru bisa kembali menikmati dentingan kesenian itu.


Tapi sepertinya, masa lalu alunan suara gendang bakal terobati. Warga tak perlu lagi menunggu seperti yang dulu.


Karena di dusun itu sekarang sudah ada sanggar Gendang Beleq Putri Naga Kayulian, yang siap menyajikan irama ketukan yang meresap ke jiwa.


Pendiri sanggar tersebut ialah dara cantik kelahiran 5 Februari 2000. Kini ia sebagai satu-satunya perempuan yang menjadi pendiri sanggar, yang biasanya digeluti oleh kaum Adam itu. Liana bukan hanya seorang pelestari budaya, tapi juga simbol kekuatan perempuan dalam dunia yang mayoritas didominasi laki-laki.


"Saya sangat menyukai hiburan, dan ingin melestarikan adat budaya Lombok, budaya suku Sasak," ucap Liana, si gadis cantik pemilik Putri Naga, Kamis (28/8/2025)


Perempuan 25 tahun itu menuturkan, di kampungnya itu belum ada kesenian itu. Lantaran ia mendirikan sanggar dengan niatan agar dirinya dan masyarakat bisa terhibur.


Di tengah arus modernisasi dibarengi keterbatasan fasilitas di kampungnya, ia memilih jalan yang tidak biasa membangkitkan kembali warisan leluhur melalui suara gendang.


Liana menuturkan, membangun kelompok seni budaya bukan perkara mudah, tapi dirinya menghadapi banyak tantangan. Mulai dari keterbatasan dana, sulitnya mendapatkan peralatan, hingga minimnya dukungan dari keluarga dan lingkungan. 


Sebagian alat gendang harus ia datangkan dari luar daerah, seperti besi dari Bali yang dipilih karena kualitasnya, sementara alat musik tradisional lainnya ia cari satu per satu dari Lombok.


"Ngumpulin alat itu luar biasa susahnya. Tempat belinya beda-beda. Ada yang dari Bali, ada yang dari Lombok. Semua saya pilih karena saya ingin yang terbaik," katanya.


Tidak hanya soal alat, tantangan juga datang dari stigma masyarakat. Pasalnya, sebagai perempuan, Liana masuk ke dalam dunia yang selama ini identik dengan laki-laki. 


Gendang beleq dikenal sebagai seni tradisi yang hampir seluruhnya dimainkan oleh pria. Namun, justru dari situlah nama Putri Naga lahir sebagai simbol bahwa perempuan juga bisa.


Dia menceritakan, nama Putri Naga diambil dari tahun kelahirannya. Menurut kalender Cina, dirinya di tahun naga.


"Dari situ saya merasa ada kekuatan. Saya ingin buktikan kalau perempuan juga bisa memainkan peran besar dalam melestarikan budaya," inginnya.


Meski sudah mampu membentuk grup dan dikenal hingga ke luar kampung, Liana mengaku belum puas. Ia berharap kelak kelompok ini bisa menjadi bagian dari penyambutan tamu-tamu penting negara, seperti Presiden atau Menteri Pariwisata, saat berkunjung ke Lombok.



"Siapa tahu suatu saat ada bapak Presiden datang ke sini, kita bisa sambut dengan gendang beleq. Saya ingin Gendang Beleq Putri Naga ini jadi wajah budaya Sasak yang bisa dibanggakan," harapnya.


Sebelum fokus membangun seni tradisi, Liana juga sempat menjalani berbagai bisnis, dari menjual parfum, mengekspor barang ke luar negeri, hingga berdagang buah. Namun kini, ia memusatkan tenaganya di bidang yang menurutnya paling bermakna yaitu budaya.



"Saya sempat punya brand parfum sendiri, tapi sekarang saya tunda dulu. Saya ingin fokus dulu ke gendang beleq ini. Nanti kalau sudah berjalan lancar, saya ingin kembangkan lagi mungkin ke gamelan," jelasnya.


Dengan semangat membara dan tekat baja, Liana melangkah pelan tapi pasti. Meskipun sebagian keluarga belum sepenuhnya mendukungnya.


Dari riuhnya modernisasi dan derasnya arus digital, Liana memilih berdiri di atas akar tradisi. Ia bukan sekadar penggerak seni. Ia adalah Putri Naga yang menyalakan kembali bara warisan Sasak, dari sebuah kampung kecil untuk Indonesia, dan dunia.


Ia percaya, apa yang ia lakukan akan membuahkan hasil dan menginspirasi banyak orang, terutama perempuan muda Lombok.


"Keinginan terbesar saya adalah melestarikan budaya suku Sasak. Karena budaya itu identitas kita. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?," terang dara cantik ini. (zaa).

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama