Di usia senja, Sahram hanya bertahan hidup dari pecahan batu apung - OPSINTB.com | News References

04/07/25

Di usia senja, Sahram hanya bertahan hidup dari pecahan batu apung

Di usia senja, Sahram hanya bertahan hidup dari pecahan batu apung

Di usia senja, Sahram hanya bertahan hidup dari pecahan batu apung

OPSINTB.com - Panas begitu trik. Menusuk tubuh rentanya.


Meski telah menggunakan penutup kepala. Tapi, keringatnya tak berhenti bercucuran membahasi muka keriputnya.


Urat-urat di tangannya nampak jelas. Di jarinya banyak bekas luka-luka kecil.


Sahram (65 tahun), harus berjibaku dengan kerasnya hidup, ketika sebagian orang seusianya menikmati masa tua bersama keluarga.


Wanita asal Dusun Sukamandi, Kecamatan Lenek, Lombok Timur ini harus berangkat sejak pagi buta untuk bekerja sebagai pemecah batu apung. 


Pukul enam pagi, dirinya sudah berada di atas mobil pickup yang mengantarkannya menuju lokasi kerja di wilayah Kelurahan Ijobalit, Kecamatan Labuhan Haji. 


Di tempat itulah, dari pagi hingga senja ia menghabiskan waktunya.  


“Saya tidak punya kebun, tidak punya sawah. Hanya ini satu-satunya pekerjaan yang bisa saya geluti,” tutur Sahram, sambil mengeringkan keringat yang masuk ke matanya, Jumat (4/7/2025).


Nenek Sahram, sudah bertahun-tahun menekuni pekerjaan ini. Sebelumnya, ia sempat mencari nafkah dengan menjadi buruh tani harian.


Ia mengambil upah memetik cabai, memanen jagung, hingga membersihkan ladang (ngeder). Namun pekerjaan itu kini semakin jarang, lantaran itu batu apung menjadi satu-satunya harapan yang masih tersisa.


Pekerjaan memecah batu apung bukanlah pekerjaan ringan, apalagi bagi seorang lansia. Namun apa daya dia harus tetap bertahan hanya demi sesuap nasi.


Dari pekerjaan tersebut, ia dibayar hanya Rp 200 ribu per minggu. Itu pun jika hasil pecahannya cukup banyak jika tidak, pendapatannya akan lebih sedikit.


“Kalau kita cepat memecahkan batunya, kadang bisa dapat 15 sampai 20 karung,” ucapnya lirih.


Dalam satu minggu, Sahram hanya bisa mengumpulkan uang secukupnya untuk membeli kebutuhan pokok. Sebab ketiga anaknya telah menikah dan tinggal jauh darinya.


Meski hidup dalam keterbatasan, menjalani pekerjaan berat di usia senjanya, Sahram tak pernah mengeluh. Ia tetap bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan setiap harinya.


"Mau gimana lagi hanya ini harapan kita untuk bisa makan," pungkasnya. (zaa)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama