Lebih dekat dengan Yadi, perupa asal Lotim - OPSINTB.com | News References -->

Jumat, 15 Juli 2022

Lebih dekat dengan Yadi, perupa asal Lotim

Lebih dekat dengan Yadi, perupa asal Lotim

 
Lebih dekat dengan Yadi, perupa asal Lotim

OPSINTB.com - Sorot matanya tajam menatap kanvas kosong berbagai ukuran yang berdiri tepat di sudut tembok rumah. Sembari jari tangan yang kanan memegang kuas kecil. 

Sesekali jemarinya memutar kuas kecil itu. Sepertinya itu bagian dari ritual sebelum dipakai menggambar. Tapi sorot matanya tak bisa lepas memandangi kanvas kosong itu. 

Tak lama berselang, di kanvas kosong itu seperti ada sebentuk siluet yang akan menuntunnya untuk memulai menggambar. Tubuh jangkungnya pun 

Giliran kuas kecil itu dimainkan di atas kanvas, lalu melahirkan karya yang tak ternilai harganya.

Begitulah cerita Mustiadi, salah seorang perupa asal Kelurahan Kelayu, Kecamatan Selong, Lotim. Dirinya tercatat sebagai salah satu anggota Sanggar Lukis Berugak di Gumi Patuh Karya.

"Dari sejak Sekolah Dasar (SD) saya senang gambar," kata Mustiadi, saat ditemui sela kesibukannya mengambil lukisannya di Kantor BPPD Lotim, Kamis (14/7/2022).

Kegemarannya menggambar itu, kata pria kelahiran 1972 ini, berlanjut hingga remaja. Lantaran hobinya itu, menuntunnya bertemu dengan sang mentor pada tahun 2021. Yakni salah satu pelukis senior asal Lotim, Suiyanto.

Ia menceritakan, mentornya tersebut telah lama malang melintang di dunia perupa. Dari pria yang akrab panggil Yanto lah dirinya menimba ilmu. Sekaligus masuk menjadi anggota salah satu perkumpulan perupa di Lotim.

Ketemu mentornya itu merupakan berkah, kegemarannya menggambar sejak SD itu, akhirnya bisa disalurkan. Ia mulai mengikuti kegiatan di Jogja, hingga study banding ke Bali.

Sejak itu dirinya mulai iku mengikuti pameran lukisan. Seperti di Taman Budaya Nasional, taman Selong, dan berbagai tempat lainnya.

"Bahkan di Museum NTB juga pernah ikut," ucapnya.

Pria 50 tahun ini mengatakan, sebagai perupa dirinya tak pernah berfikir berapa harga dari karyanya. Bahkan dirinya tak pernah terlintas dibenaknya laku apa tidak dipasaran. Sebab, menurut Yadi, sebuah cipta karya tak dapat dinilai dengan apa pun.

Ia menceritakan, untuk membuat satu karya saja dirinya tak menghitung berapa biaya yang dikeluarkan. Yang dirinya tahu hanyalah ia ingin membuat sebuah karya.

Dirinya memiliki keyakinan, setiap hal pasti memiliki jalannya sendiri. Yang terpenting kata dia ialah mempunyai karya.

Khususnya di Lotim, yang menurutnya belum seperti orang di luar daerah yang bisa menghargai sebuah karya seniman. Terlebih ada adagium yang berkembang, ketimbang beli lukisan lebih baik beli beras.

"Nanti ada aja jalan untuk itu yang penting berkarya, ada saja jalannya. Karya kita orang yang nilai," ujarnya

Pria 50 tahun ini menuturkan, salah satu karyanya di koleksi oleh Bupati, HM Sukiman Azmy. Yakni lukisan hitam putih, seorang pedagang satu bulayak di wilayah Lotim. Bupati membeli lukisannya, waktu itu saat pameran di Taman Rinjani Kota Selong.

Selain, dirinya juga telah diminta secara khusus untuk melukis salah satu tokoh di NTB yakni Hj Baiq Isvie Rupaeda, yang saat ini menjadi Ketua DPRD Provinsi NTB.

Ia mengatakan, setiap pelukis pasti pernah sampai pada titik jenuh atau kondisi bad mood. Dalam situasi seperti itu, kata dia, berbagai macam cara untuk menghadapinya.

Ia menerangkan, jika kondisi itu datang ia biasanya tak pergi dari lokasi itu. Dirinya tetap memandang kanvas atau sedang proses pembuatan lukisan. Itu dilakukannya untuk memancing emosi keluar.

Selain godaan itu, terang Yadi, setiap pelukis memiliki idealisme masing-masing. Hal itu menurutnya dapat dilihat dari pewarna yang digunakan.

Kemajuan teknologi yang berbuntut pada banyaknya aplikasi yang secara instan untuk membuat gambar. Namun demikian dirinya mengaku hal tersebut tak berpengaruh. Sebab, kata dia, tergantung dari personal masing-masing.

"Banyak pewarna, dan tergantung yang idealisme," imbuhnya.

Saat ini, kata Yadi, seniman perupa di Lotim melalui sanggar setiap minggunya gambar bersama. Yakni berupa sketsa model, alam, benda, tergantung obyek mana yang disukai.

Kadang, terang dia, gambar langsung atau keluar untuk menggambar suasana alam, gunung, orang sedang panen, hingga suasana pasar. Para seniman, kata dia, bawa peralatan dan langsung ditempat.

Ke depan Bupati Lotim, hendak membentuk Dewan Kesenian di Gumi Patuh Karya untuk mengakomodir seniman di Lotim.

"Bupati sempat menyinggung akan dibentuk dewan kesenian," pungkasnya. (hk)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama