OPSINTB.com - Sampah memang bukan urusan sepele. Menurut catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), volume sampah dari hari ke hari terus meningkat. Mencapai 500 ton. Dengan tingkat keberhasilan penanganan mencapai 80-90 ton per hari. Jauh dari separuhnya.
Kepala DLH Loteng, Lalu Sarkin Junaidi, mengungkap catatan tersebut berdasarkan rata-rata jumlah penduduk Loteng. Sebagai contoh: satu penduduk menghasilkan 1,5 kilogram sampah per hari. Kemudian dikali 1,1 juta jiwa jumlah penduduk Loteng.
''Ada istilahnya ''timbulan sampah'' dihitung berdasarkan rata-rata; misalkan per orang itu 1,5 kilogram per hari, dikalikan dengan jumlah penduduk. Itu sekitar 500 sekian ton per hari,'' kata Sarkin pada wartawan, Selasa (27/10/2026).
Kata dia, perlu tenaga ekstra untuk menangani sampah. Selain itu, terbatasnya jumlah armada menjadi salah satu kendala. ''Jadi, perlu bantuan dari desa, dari perusahaan, dan sebagainya,'' tambahnya.
Sarkin juga menyebut, menumpuknya sampah karena kurangnya kesadaran masyarakat. Padahal, desa/kelurahan telah memfasilitasi dengan mengerahkan armada, yang kini hampir merata di seluruh desa.
''Masyarakat mau gampangnya, mau enaknya sendiri. Jadi, kalau sudah bersih rumah, terserah. Dia buang sampah di jalan, di kali,'' sebut Sarkin.
Maka solusi paling sederhana, menurut dia, masyarakat diharapkan kembali menghidupkan kearifan lokal, seperti nenek moyang dahulu. Dengan menggali lubang di pekarangan rumah, kemudian membuang sampah di lubang tersebut.
''Nanti bisa jadi kompos dan bisa dimanfaatkan untuk tanam cabai, tomat, dan lain-lain,'' terangnya.
Kendati demikian, ia menyatakan kondisi ini belum masuk kondisi ''darurat''. Yang jelas, kata dia, di tengah meningkatnya volume sampah, kesadaran masyarakat justru berkurang.
''Ini yang perlu bantuan teman-teman, menghimbau agar tidak buang sampah sembarangan,'' papar Sarkin.
Kepala Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, H Ahmad Nusilah, mengatakan sejak adanya pemangkasan dana desa, penanganan sampah menjadi lebih berat karena minimnya dana. Sebelum DD dipangkas, desa dapat melakukan pengangkutan secara masif.
''Tapi, saat sekarang ini diambil pusat sampai tersisa Rp 300 juta, jadi berat melakukan pembuangan ke TPA,'' ujarnya. (iwn)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami