OPSINTB.com - Penguatan karakter dan wawasan kebangsaan menjadi perhatian serius Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi NTB dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala Kanwil Kemenag NTB, H Zamroni Aziz menegaskan,pendidikan di madrasah tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata.
Zamroni yang baru mengikuti pembelajaran di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta menegaskan nilai-nilai kebangsaan, karakter, empati, demokrasi, serta ketaatan terhadap hukum harus menjadi bagian dari perilaku sehari-hari siswa.
"Kalian inilah penerus kami. Keberhasilan pendidikan itu bukan cuma dihitung dari nilai ujian atau prestasi akademik saja, tapi dari karakter, rasa empati, dan sejauh mana kalian taat pada aturan," ujar Zamroni saat memberikan pembinaan kepada ribuan siswa dan guru MAN 2 Mataram, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, madrasah harus mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang adil, aman dan nyaman bagi seluruh siswa. Tidak boleh ada perlakuan berbeda terhadap peserta didik hanya karena latar belakang sosial maupun ekonomi.
Karena itu, guru diminta menjadi teladan sekaligus membuka ruang dialog yang demokratis di lingkungan kelas. Zamroni juga mengingatkan pentingnya mencegah praktik perundungan atau bullying yang dapat mengganggu perkembangan karakter siswa.
"Kesamaan derajat itu harus kita praktikkan di lingkungan madrasah. Jangan ada bullying. Guru harus memberikan contoh bagaimana menghargai setiap siswa dan perbedaan yang ada," tegasnya.
Selain lingkungan sekolah, perhatian Zamroni juga menyasar perilaku siswa di ruang digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi harus diimbangi dengan pemahaman hukum dan etika bermedia sosial.
Ia meminta para siswa lebih bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Jangan sampai kecerobohan di media sosial justru membawa siswa berhadapan dengan persoalan hukum.
"Ketaatan hukum itu melingkupi etika kita berselancar di dunia maya. Anak madrasah harus cerdas saring informasi, jangan sampai ikut menyebarkan berita bohong atau ujaran kebencian yang memecah belah persatuan," katanya.
Suasana pembinaan berlangsung semakin cair ketika Zamroni memberikan kuis spontan kepada para siswa. Sejumlah siswa ditantang tampil ke depan untuk menghafalkan teks Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Bagi siswa yang mampu menjawab tantangan tersebut, Zamroni memberikan hadiah uang tunai ratusan ribu rupiah. Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan menghafal bukanlah tujuan akhir dari pendidikan karakter.
"Hafal itu cuma pintu masuk. Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai itu hidup dalam perilaku kalian sehari-hari," katanya.
Ia mencontohkan, penerapan nilai-nilai
kebangsaan dapat dimulai dari hal sederhana. Mulai dari aktif berorganisasi di OSIS, menghargai perbedaan pendapat, menaati tata tertib sekolah hingga tertib berlalu lintas di jalan raya.
Zamroni berharap MAN 2 Mataram sebagai salah satu madrasah unggulan di NTB mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat, berintegritas dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
"Karakter itu yang akan menjadi bekal kalian ke depan. Kalian bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi orang pintar, tetapi juga menjadi generasi yang mampu menjaga persatuan, menghormati hukum dan membawa bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045," tegasnya. (red)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami