OPSINTB.com - Di negeri yang sudah kebal terhadap berita korupsi dan bencana alam, ternyata masih ada satu hal yang mampu membuat warga Lombok panik massal. Bukan juga gempa, banjir atau harga BBM naik.
Tapi cukup satu laki-laki, semua riuh itu tercipta. Gazali Alba 05 membuka mulut massa pun menyemut.
Lelaki asal Panggongan, Sakra Barat, itu tak perlu aneh-aneh, tapi cukup berdiri di atas panggung sambil memegang mic, maka seluruh ekosistem digital pulau ini langsung mengalami kerusakan sistem.
Namanya Gazali, vokalis Alba 05. Membuat alogritma kriting dibuatnya. Atau, dalam bahasa yang lebih jujur, virus FOMO (Fear of Missing Out) berbentuk manusia yang paling efektif sepanjang sejarah NTB.
Setiap kali ia menyanyi, gejala-gejalanya selalu sama. Jantung netizen berdegup tidak teratur. Ibu jari gemetar membuka TikTok. Status WhatsApp grup desa berubah menjadi pusat komando darurat.
“Siapa yang di lokasi? Tolong live!”, “Ada yang rekam full enggak?”, “Aku ketinggalan lagi, hidupku sia-sia,".
Seolah-olah jika tidak menyaksikan Gazali merintih di lagu Berangen malam itu, mereka akan kehilangan hak sebagai warga Sasak seutuhnya.
Yang paling menggelikan, wabah ini sama sekali tidak membutuhkan vaksin. Justru semakin banyak orang yang “terinfeksi”, semakin cepat penularannya.
Satu video short berdurasi 30 detik sudah cukup untuk menjangkiti ribuan orang dalam hitungan jam. Orang yang kemarin masih sibuk mengejek konten cringe, hari ini sudah menulis caption panjang penuh air mata palsu. “Baper banget sumpah”, tulis mereka, sambil diam-diam menghitung berapa banyak saweran yang masuk ke panggung.
Dan di sinilah ironi paling kejamnya. Budaya yang dahulu dinikmati dengan tenang di bawah pohon beringin, kini berubah menjadi konten darurat 24 jam.
Gazali tidak perlu mengeluarkan statement, tidak perlu drama, tidak perlu skandal. Cukup ia menyanyi dengan wajah sedikit sedih, maka algoritma dan netizen akan bekerja sendiri menjadi mesin propaganda FOMO paling canggih. Ia hanya berdiri di sana. Kita yang sibuk menghancurkan kewarasan sendiri.
Sebenarnya, jika diteliti lebih dalam, Gazali hanyalah gejala. Penyakit aslinya adalah kita. Kita yang sudah terlalu kosong, terlalu lapar akan validasi emosional, terlalu takut ketinggalan apa pun yang sedang viral. Maka ketika muncul seseorang yang suaranya “enak didengar sambil nangis”, kita langsung menjadikannya “nabi”. “Nabi” FOMO.
“Nabi” yang diutus khusus untuk mengingatkan kita betapa rentannya jiwa-jiwa yang sudah kecanduan notifikasi.
Jadi, selamat datang di era baru. Era di mana satu vokalis cilokak dari desa kecil mampu membuat satu pulau mengalami panic attack kolektif setiap minggu. Gazali tidak sedang menyanyi. Ia sedang menyebarkan wabah. Dan kita, dengan sukarela, antre menjadi pasien berikutnya. (red)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami