OPSINTB.com - Puluhan wali murid SDN 1 Rensing Bat, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, mendatangi sekolah untuk menuntut pengembalian tabungan anak-anak mereka yang hingga kini belum dibagikan. Seorang guru ASN diduga menguasai dana tabungan siswa senilai sekitar Rp 35 juta, sehingga memicu kemarahan para orang tua.
Mereka mengaku sudah berkali-kali datang meminta kejelasan, namun belum memperoleh kepastian dari pihak sekolah terkait pengembalian uang tabungan tersebut.
Salah seorang wali murid, Fatmiwati, mengatakan dirinya datang untuk menagih hak anaknya yang masih tertahan di sekolah. Menurutnya, tabungan milik anaknya mencapai sekitar Rp2.720.000 dan hingga saat ini belum diserahkan.
"Persoalan saya datang ke sini karena ingin menagih hak saya. Tabungan anak saya belum diberikan, jumlahnya sekitar Rp2.720.000," ucap Fatmiwati, disela menunggu kepastian di ruang guru Selasa, (21/7/2026).
Ia menjelaskan, bukan hanya anaknya yang belum menerima tabungan tersebut. Sekitar 20 wali murid lainnya juga mengalami hal serupa. Jika ditotal, nilai tabungan yang belum dikembalikan diperkirakan mencapai sekitar Rp 35 juta.
Fatmiwati mengaku hingga kini tidak ada kejelasan dari pihak sekolah. Menurutnya, kepala sekolah juga belum menunjukkan tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Ia berharap pihak sekolah segera bertanggung jawab dan mengembalikan seluruh tabungan siswa yang menjadi hak para orang tua.
"Yang kami inginkan hanya uang tabungan itu dikembalikan," tegasnya.
Fatmiwati menyebut seluruh siswa kelas satu belum menerima tabungan mereka. Ia juga mengaku telah lima kali datang ke sekolah untuk meminta kejelasan, namun hasilnya tetap nihil.
Saat dirinya bersama wali murid lainnya datang ke sekolah, kepala sekolah tidak berada di tempat. Guru yang diduga mengetahui persoalan tersebut juga tidak terlihat.
"Dari pagi sekitar pukul 06.00 Wita kami sudah menunggu, tetapi belum ada kejelasan dan gurunya juga tidak datang," tuturnya.
Sementara itu, wali murid lainnya, Zamroni, mengatakan hingga saat ini para orang tua masih memilih bersabar meskipun belum memperoleh kepastian kapan tabungan anak-anak mereka akan dikembalikan.
Menurut Zamroni, saat ini para wali murid masih berharap adanya penyelesaian secara baik-baik, namun jikalau tidak ada kepastian ia akan melaporkan persoalan tersebut ke pihak berwajib.
"Yang kami inginkan ada perjanjian yang jelas dari pihak sekolah mengenai kapan tabungan itu akan dikembalikan," ujarnya.
Zamroni mengungkapkan tabungan anaknya yang belum dikembalikan sekitar Rp 900 ribu. Uang tersebut rencananya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.
"Karena belum dikembalikan saya sampai harus meminjam uang kepada tetangga," pungkasnya.
Ditempat berbeda, Kepala SDN 1 Rensing Bat, Saeful Akbar, mengakui adanya persoalan tersebut. Ia menjelaskan baru beberapa bulan menjabat sebagai kepala sekolah sehingga tidak mengetahui secara rinci mekanisme pengelolaan tabungan siswa sebelumnya.
Menurutnya, selama bertahun-tahun pembagian tabungan siswa selalu berjalan lancar. Namun pada tahun ini, guru yang bertanggung jawab atas tabungan siswa kelas 1 beberapa kali berjanji akan membagikan uang tersebut, tetapi janji itu tidak pernah ditepati.
"Kami sudah berkali-kali mengingatkan yang bersangkutan. Awalnya dia beralasan uang masih disimpan di koperasi dan akan segera dibagikan, namun sampai sekarang tidak terealisasi. Saya juga merasa ini menjadi mimpi buruk bagi sekolah," beber Saeful.
Saeful menegaskan dirinya tidak pernah menyatakan sekolah akan mengganti uang tabungan tersebut menggunakan dana pribadi maupun dana sekolah. Menurutnya, tanggung jawab tetap berada pada guru yang memegang tabungan siswa.
Ia juga mengungkapkan mendapat informasi bahwa guru tersebut tengah menghadapi persoalan rumah tangga dan diduga mengalami masalah keuangan. Namun, ia menegaskan hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan hak para siswa.
"Saya mempersilakan wali murid menempuh jalur hukum. Itu adalah hak mereka. Saya sangat memahami kemarahan orang tua karena yang menjadi korban adalah anak-anak, kalau mereka mau demo terserah mereka, tidak hak saya melarang," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, guru janda ASN yang diduga menguasai dana tabungan siswa tersebut belum dapat dimintai keterangan karena tidak diketahui keberadaannya. Menurut kepala sekolah guru tersebut berasal dari Tanjung Teros, bahkan dia tinggal di slaah satu BTN diwilayah Selong, sehingga keberadaannya tidak jelas. (zaa)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami