OPSINTB.com - Sakinah (46), masih setia bermain imajinasi dengan tanah liat. Di saat sebagian pembuat gerabah memilih usaha lain.
Jari jemari masih cetakan membuat pola. Tangan sebelahnya lagi mengatur tempo rotasi alat meja putar yang sudah tua.
Sentuhan sederhananya dari ibu jarinya bisa menghasilkan pola yang estetik dan presisi. Enak dipandang mata.
Sakinah memang tidak sendiri. Di dekat rumah tinggalnya ada empat sampai lima orang yang masih bertahan sepertinya.
Tapi tetap saja, dibandingkan dengan 1990 hingga tahun 2000 an, pengerajin gerabah sudah jauh berkurang.
Padahal jika ditarik kebelakang, Dusun Penakak, Desa Masbagi Timur, Kecamatan Masbagik ini dikenal dengan penghasil gerabah. Bahkan lantaran aktivitas tanah liat itu yang membawa lingkungan itu dikenal hingga mancanegara.
Para pengerajin termasuk Sakinah bertahan, bukan tidak mampu mengerjakan yang lain. Tapi lantaran berkreasi dengan tanah liat merupakan warisan.
"Saya mengerjakan dari 1992, sejak tamat SD, usaha ini turun temurun," ucap ibu dua anak ini kepada opsintb.com, Jumat (24/7/2026).
Sejak menikah, dirinya membuat gerabah setelah urusan rumah beres. Dia pun memproduksi khusus alat-alat kebutuhan rumah tangga.
Seperti sampak jangkih, jangkih, cobek, kete, asbak, hingga celengan. Jika ada pesanan dari pelanggan maka sistemnya mengambil barang di pengerajin lain untuk di jual sejenis ceret, pemokaan (alat nasi).
"Kusus untuk pemangkoaan ada juga yang bilang Kemeq Tanaq, kita langganan Rumah Sakit Namira," ucapnya.
Jenis produksi itu ia fokuskan, bukan semata lantaran tidak bisa membuatnya, tapi disebabkan karena keterbatasan tenaga.
"Saya yang buat, nanti suami yang bedea (keliling) untuk menjualnya," kata dia sambil fokus membuat pola pada gerabah yang sedang dibuatnya.
Sistem pemasaran bedea masih menjadi pilihan. Lantaran kebutuan cepat akan keungan keluarga.
Sesekali hasil karyanya diborong oleh pemilik artshop setempat, untuk penjualan.
Dia menuturkan, sebelum peristiwa bom Bali tahu 2004, produksi begitu lancar. Artshop di wilayah itu saban hari menyerap hasil para pengerajin.
Belum lagi wisawatan asing yang berkunjung ke dusun itu dalam jumlah banyak. Kadang mereka datang sekali menggunakan bus.
Mereka tak hanya melawat, tapi juga belajar membuat kerajinan di tiap rumah dan membeli hasil kerajinan.
"Tapi setelah bom Bali, sejak itu mulai berkurang," kenangnya.
Semenjak itu, hasil produksi sedikit menurun. Arshop sekitar sudah tak lagi mengambil hasil kerajinan, lantaran sepinya wisatawan asing yang berkunjung.
Mengalami kondisi itu, beberapa usaha pun dijajakinya. salah satunya seperti dagang aksesioris, namun, jiwanya terpanggil untuk tetap menyatu dengan tanah liat.
Kembali menjalani aktivitas bedea (sistem pasar keliling) seperti semula. Dengan mengunjungi desa-desa tetangga hingga pasar-pasar tradisional.
Setelah peristiwa bom Bali, pukulan telak datang bencana non alam, Covid 19. Bahkan wabah virus ini lebih mematikan.
Pengerajin tidak bisa lagi menjual produknya dengan berkeliling. Aktivitas produksi macet total.
Tidak ada lagi aktivitas bedea. Semua terbatasi, tersisa hanya ketakutan ketularan virus mematikan itu.
Dua tahun langkah terbatas, baru 2021 longgar kembali, hingga saat ini. Tujuh tahun berlalu pedagang.
"Semenjak bom bali pemesanan mulai sepi," kenang Sakinah kembali, bersambung. (kin)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami