OPSINTB.com - “Rehan tidak sengaja. Jangan dihukum berat!,” pinta Agus, paman Muhammad Rehan, terduga pelaku pembakaran tiga santri Ponpes Rosudatussaulatiyyah Al Ibrahimy NW Sengkol II Desa Aiq Dareq, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.
Di sebuah teras rumah berdekatan dengan Ponpes Rosudatussaulatiyyah Al Ibrahimy, Agus kerap kali bolak balik tak menentu. Kadang duduk, kadang bersandar sambil sesekali menghisap rokok.
Wajahnya tak tenang. Peci hitam yang dipakainya terpasang tak karuan. Agus sesekali melongo, melihat penjagaan ketat para polisi yang mengawal rekonstruksi kasus yang menimpa keponakannya.
“Saya dan Rehan datang pukul 9 pagi,” ungkap Agus mulai bercerita, Rabu (29/7/2026).
“Saya ingin Rehan tidak dihukum berat. Saya yakin dia tidak sengaja,” ujar pria yang sehari-hari bekerja di pabrik penggilingan padi ini.
Bagaimana keseharian Rehan saat sedang pulang mondok?
Agus menghisap rokoknya dan mulai bercerita, “Rehan anak yang pendiam kalau di rumah. Sejak dia sekolah di sana, perilakunya baik-baik saja. Ibunya yang minta dia dimasukkan ke Ponpes itu, karena sekolah gratis dan dekat kalau dijenguk.”
“Ayah ibunya sudah lama berpisah. Ayahnya orang Sulawesi, dan ibunya menikah lagi ke Desa Lantan,” tutur Agus dengan mata berkaca-kaca.
Agus sendiri tau masalah yang menimpa keponakannya tersebut tiga hari pasca kejadian. Saat itu, Agus selaku wali diminta datang oleh pihak Ponpes untuk melakukan rapat.
“Dikasih tau saat rapat kejadiannya. Sejak saat itu, neneknya tidak bisa tidur, dan jarang makan seharian,” kenang Agus.
Apa hasil pemanggilan Agus oleh pihak Ponpes?
“Saya dimintai uang Rp30 juta oleh pihak korban untuk uang damai. Tapi, karena tidak mampu, kami hanya memberikan Rp15 juta saja. Hanya saja saat itu tidak ada hitam di atas putih agar kasus ini tidak dibesar-besarkan.”
Direktorat Reserse Pelayanan Perempuan dan Anak, Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Polda NTB melakukan rekonstruksi kasus dugaan pembakaran tiga santri Ponpes Rosudatussaulatiyyah Al Ibrahimy NW.
Rekonstruksi dilakukan sejak pukul 13.00 WITA. Dalam rekonstruksi, dua korban lain juga dihadirkan. Termasuk kepala yayasan yang ditetapkan tersangka.
Pantauan opsintb.com di lokasi, tuan guru tersebut terlihat lemas hingga harus dituntun kerabatnya. Rehan sendiri, ungkap Agus, pulang ke rumah sebulan pasca kejadian. Agus kekeh, keponakannya tidak sengaja melakukan pembakaran.
“Rehan tidak sengaja. Waktu itu mereka sudah ngecat tembok kamar, dan ada sisa bensin untuk meluruskan kayu untuk buat ketapel,” ucap Agus lemah. (iwn)
follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di twitter
Follow OPSINTB.com | News References dan dapatkan update informasi kami di Instagram
follow Instagram Kami