Lalu Nurdin tak ingin menyerah dengan kondisi alam - OPSINTB.com | News References

23/05/26

Lalu Nurdin tak ingin menyerah dengan kondisi alam

Lalu Nurdin tak ingin menyerah dengan kondisi alam

 
Lalu Nurdin tak ingin menyerah dengan kondisi alam

OPSINTB.com - Hujan malam itu tak kunjung reda. Bahkan tanah pekarangan tak sanggup menghisapnya.


Malam itu hanya gelisah merebut licik tahta ketenangan. Membuat mata tak bisa terpejam seperti biasanya.


Sesekali Lalu Nurdin, menengok dari jendela. Berharap hujan segera reda, disambut pagi tiba.


Tak lama adzan subuh berkumandang. Hati semakin berkecamuk, bergetar seperti pertemuan dua insan yang saling cinta.


Matahari baru saja menampakan diri. Langkah Lalu Nurdin, gegap menuju ke sawah miliknya.


Sesampainya, sorot matanya kosong. Langkahnya goyah lunglai.


Kerutan di wajahnya menghitam. Melihat kondisi tembakaunya yang sudah layu.


Petani tembakau di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), 3 kali gagal panen akibat cuaca tak menentu. 


Hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut menyebabkan tanaman tembakau layu hingga mati, sehingga petani mengalami kerugian mencapai juta rupiah.


"Beberapa hari ini hujannya cukup deras dan intens, cuaca tak menentu sehingga tanaman tembakau milik saya tiba-tiba layu. Kalau sudah begini kondisinya sudah tidak bisa dipanen karena pasti akan mati," terang Lalu Nurdin, saat ditemui di sawahnya, kemarin Rabu (20/5/2026).


Dia menceritakan, sudah tiga kali menanam tapi layu terus. Tak mau menyerah dirinya kembali tanam, tapi hal serupa terjadi juga.


Tapi peristiwa itu tak membuatnya menyerah. Dia terus menanam tembakau berharap ada secercah harap, minimal kembali modal.


Pada penanaman pertama dirinya mengaku mengalami kerugian lebih dari Rp 5 juta setelah tanaman tembakaunya mati diguyur hujan.


Kemudian ia menanam kembali pada penanaman kedua, ia kembali merugi lebih dari Rp 3 juta lebih karena tanaman kembali gagal tumbuh akibat guyuran hujan. 


"Ketiga kali saya menanam kembali diguyur hujan dan mati dengan kerugian mencapai lebih dari Rp 2 juta lebih,"katanya


Tanaman tembakau memang diketahui sangat rentan terhadap curah hujan tinggi. Terlebih varietas ini tidak cocok ditanam dalam kondisi tanah yang terlalu banyak air. 


Akibatnya, batang hingga akar tanaman membusuk dan menyebabkan tanaman layu hingga mati.


Sambil menunjukkan tanaman tembakaunya yang mengering, Nurdin mengatakan akar tanaman sudah membusuk sehingga tidak lagi bisa bertahan hidup.



"Ini saja sudah kering karena akarnya sudah busuk, jadi sudah tidak bisa hidup lagi," katanya.


Akibat kondisi tersebut, Nurdin memperkirakan total merugi ditaksir lebih dari Rp10 juta. Kerugian itu meliputi biaya pembelian bibit, pupuk, obat-obatan, hingga upah buruh tani di lahan seluas 35 are.


Nurdin mengaku dirinya bersama petani lainnya mulai menanam tembakau karena memperkirakan musim kemarau akan segera tiba, sesuai prediksi cuaca. 


Namun, kondisi di lapangan justru berbeda karena wilayah Lombok Timur masih sering diguyur hujan lebat.


“Biasanya bulan Mei kami sudah mulai menanam tembakau karena akan masuk musim kemarau. Tapi beberapa hari ini hujan cukup lebat, jadi di luar perkiraan,” tutup Nurdi sambil melihat tembakaunya  yang sudah mulai kusut. (zaa)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama