Hultah NWDI ke-91, TGB ajak generasi meneruskan warisan perjuangan Maulana Syaikh - OPSINTB.com | News References

13/09/26

Hultah NWDI ke-91, TGB ajak generasi meneruskan warisan perjuangan Maulana Syaikh

Hultah NWDI ke-91, TGB ajak generasi meneruskan warisan perjuangan Maulana Syaikh

 
Hultah NWDI ke-91, TGB ajak generasi meneruskan warisan perjuangan Maulana Syaikh

OPSINTB.com - Ribuan jamaah memadati medan Hultah dalam peringatan Hari Ulang Tahun (Hultah) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke-91 tahun sekaligus Haul Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid ke-29, Ahad (13/9/2026).


Dihadapan jamaah, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Majdi mengajak seluruh jamaah untuk tidak sekadar mengenang perjuangan Maulana Syaikh, tetapi juga meneruskan nilai-nilai yang telah diwariskannya.


Bagi TGB, salah satu cara menjaga warisan perjuangan tersebut adalah dengan memperkuat silaturahim.


"Kita perlu menyambung silaturahim. Itu yang kami kerjakan dan ikhtiarkan, karena dengan bersilaturahim kepada keluarga, penerus, dan murid serta sahabat guru kita, insya Allah akan mendatangkan keberkahan untuk perjuangan NWDI," ucap TGB di hadapan ribuan jamaah.


Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para ulama yang hadir dalam momentum tersebut. Di antaranya Al-Ustadz Asy-Syaikh ‘Alaa’ Mustafa Na’imah Al-Azhari Asy-Syafi’i, Al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, serta Ustadz Dr. Abdul Somad.


Kehadiran Dr. Zainul Huda bersama istri juga mendapat sambutan khusus. Ia merupakan bagian dari keluarga Kiai Haji Falak atau Mama Falak Bogor, sosok yang namanya, kata TGB, kerap disebut oleh Maulana Syaikh.


TGB kemudian mengajak jamaah melihat kembali betapa besar warisan yang telah ditinggalkan Maulana Syaikh.


Bukan hanya berupa lembaga pendidikan, tetapi juga iman, ketakwaan, al-awraad, wal-adzkaar, serta organisasi perjuangan. Lebih dari itu, Maulana Syaikh telah meninggalkan jaringan pendidikan yang begitu luas, dengan lebih dari 1.100 madrasah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.


Warisan tersebut, menurut TGB, tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah.


"Maka tugas kita semua sekarang ini adalah mewariskan kembali secara bersama-sama, apa yang telah diwariskan oleh Maulana Syaikh," tegasnya.


Di sinilah TGB mengangkat satu pesan penting yang menjadi benang merah perjuangan pendidikan Maulana Syaikh, Asasu at-tarbiyah bina'ul insan dasar pendidikan adalah membangun jiwa manusia.


Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar membuat seseorang pintar membaca, menghafal atau menguasai ilmu. Pendidikan harus mampu membentuk manusia dengan hati yang baik, jiwa yang kuat, serta mengenal Allah dan Rasul-Nya.


TGB mengingatkan bahwa membangun manusia membutuhkan kesabaran. Proses itu tidak dapat dilakukan secara instan.


Ia mengaitkannya dengan keteladanan Rasulullah SAW yang mendidik para sahabat secara bertahap, satu demi satu, sedikit demi sedikit.


Karena itu, para guru dan orang tua diminta tidak terburu-buru dalam mendidik anak. Hal-hal sederhana justru harus menjadi fondasi.


Mulai dari mengenalkan huruf hijaiyah, mengajarkan membaca Al-Qur'an, mengenalkan Tuhan dan Rasul-Nya, hingga memahami tuntunan agama.


TGB kemudian mengisahkan keteladanan Maulana Syaikh yang begitu sabar dalam berdakwah.


Meski dikenal sebagai lulusan terbaik Shaulatiyah dan meraih bintang lima, Maulana Syaikh tidak merasa terlalu tinggi untuk mengajarkan hal sederhana kepada masyarakat.


Selama tiga tahun, beliau disebut rela berkeliling dari desa ke desa hanya untuk mengajarkan masyarakat cara mengucapkan salam dengan benar.


"Kalau beliau saja sabar, maka kita yang ilmunya sedikit ini harus lebih sabar," ungkap TGB.


Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan kemampuan orang yang dididik. Maulana Syaikh tidak langsung membawa masyarakat pada pembahasan kitab-kitab besar, tetapi memulainya dari perkara sederhana yang menjadi kebutuhan dasar.


Namun, membangun manusia tidak berhenti pada kemampuan intelektual. Ada bagian yang jauh lebih sulit, yakni mendidik hati.


TGB mengajak seluruh jamaah untuk melunakkan hati dan "menjinakkan" jantung agar terbebas dari kebencian.


Ia mengakui, memaafkan orang yang menyakiti bukanlah perkara mudah. Rasa sakit dan berat untuk memaafkan merupakan sesuatu yang manusiawi.


Tetapi, menurutnya, kebencian tidak boleh dibiarkan menetap di dalam hati.


"Walaupun kadang kita dijahati sama orang, dan berat rasanya untuk memaafkan, hal itu manusiawi. Tetapi jangan pernah ada kebencian di dalam hati," pesannya.


Pesan tersebut menjadi salah satu bagian paling humanis dari tausiah TGB. Sebab pendidikan yang diwariskan Maulana Syaikh pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dimiliki seseorang, tetapi tentang bagaimana ilmu tersebut melahirkan manusia yang memiliki hati yang bersih.


Dari sanalah TGB mengajak jamaah memulai kembali proses pendidikan itu dari rumah masing-masing.


Anak-anak harus diajarkan mengaji, mengenal Al-Qur'an, mengenal Allah, mengenal Rasulullah, memahami tuntunan agama, sekaligus mengenal negara dan para pahlawannya.


Semua itu menjadi bekal agar anak-anak tumbuh sebagai manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter dan kecintaan terhadap kebaikan.


Maulana Syaikh telah mewariskan ilmu, madrasah, organisasi, tradisi keagamaan dan perjuangan. Kini, generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali warisan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


Dan sebagaimana pesan TGB, semuanya dapat dimulai dari sesuatu yang paling dekat, keluarga, anak-anak, guru, silaturahim dan hati.


"Mudah-mudahan Allah SWT memberkahi Hultah NWDI kita yang ke-91 ini, termasuk Haul Ninikda Al-Maghfurlah Maulana Syaikh yang ke-29. Dan semoga Allah SWT memberkahi majelis ini," terang TGB.


Pesan tentang pendidikan juga disampaikan Ustadz Abdul Somad (UAS).


Ia menyebut ada sejumlah hal penting yang perlu dilakukan orang tua untuk melahirkan anak yang alim dan saleh. Salah satunya adalah mengantarkan dan mendekatkan anak kepada guru.


Menurut UAS, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan mendaftarkannya ke kampus atau pesantren, kemudian membiarkannya menjalani pendidikan sendiri.


Orang tua harus benar-benar terlibat dalam proses tersebut.


"Orang tua perlu benar-benar menyerahkan anak kepada guru. Orang tua juga harus memberi perhatian, bukan sekadar diserahkan dan transfer uang saja," katanya.


Orang tua juga diminta terus mengawal pendidikan anak, memberikan kepercayaan kepada guru, serta mengikhlaskan anak menjalani proses pendidikan di pondok demi masa depannya dan satu hal yang tidak boleh terputus doa.


Sebab, di balik ikhtiar guru dan orang tua dalam mendidik, ada doa yang menjadi penguat perjalanan seorang anak. (zaa)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2026 OPSINTB.com | News References | PT. Opsi Media Utama